inilah kami
11 Februari 2012 pukul 10:59 am | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentarBergabunglah bersama kami: Islam
Kami bukan yayasan sosial dan perbaikan, meskipun kerja sosial dan perbaikan adalah bagian dari maksud besar kami.
Kami bukan klub olahraga, meskipun olah raga dan olah rohani menjadi salah satu perangkat terpenting kami.
Kami bukanlah partai politik, meskipun politik sebagai salah satu pilar Islam adalah prinsip kami.
Kami bukan kelompok-kelompok macam itu semua, karena itu semua diciptakan untuk tujuan parsial dan terbatas, untuk masa yang terbatas pula. Bahkan terkadang tidak dibuat kecuali sekedar menuruti perasaan sesaat; ingin membuat organisasi, lalu dihias dengan berbagai slogan dan kelembagaan yang muluk-muluk.
Kami adalah pemikiran dan aqidah, hukum dan sistem, yang tidak dibatasi oleh tema, tidak diikat oleh jenis suku bangsa dan tidak berdiri berhadapan dengan batas geografis. Perjalanan kami tidak berhenti sehingga Allah mewariskan bumi ini dengan segala isinya kepada kami, karena ia adalah sistem milik Rabb Penguasa Semesta Alam dan RasulNya yang terpercaya.
Wahai saudaraku,,,
Janganlah kalian kecilkan arti dirimu, dengan membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain, janganlah kalian tempuh jalan bukan Islam sebagai da’wahmu, janganlah kalian ukur da’wahmu, yang cahayanya diambil dari cahaya Allah dan sistemnya dari sistem yang dibawa Rasulullah, dengan da’wah lain yang munculnya lantaran kebutuhan sesaat dan lalu sirna ditelan masa dan berbagai peristiwa.
Dengarlah, suara da’wah menggema, menyeru kepada kepemimpinan Rasulullah dan keunggulan undang-undang Qur’an, menyeru kepda kebangkitan untuk berkarya dan memurnikan tujuan hanya untuk Allah semata.
Lihatlah darah telah mengalir di jalan Allah dari para pemuda yang suci dan mulia. Lihatlah pula semangat untuk meraih syahid di Jalan Allah telah berkobar.
Ini semua adalah keberhasilan. Sebuah keberhasilan yang lebih besar daripada sekedar dari apa yang kalian nanti-nantikan. Maka teruskan perjuanganmu, berkaryalah secara nyata, sedangkan amalmu sekali-kali tidaklah sia-sia.
Bergabunglah bersama kami, ia telah beruntung sebagai pendahulu. Dan barangsiapa masih enggan bersama kami hari ini, padahal ia seorang yang berhati ikhlas, ia akan bersama kami esok hari. Yang lebih dahulu tentu lebih utama.
Sedangkan barangsiapa yang berpaling dari da’wah kami, baik karena selain tidak punya perhatian, atau karena sombong, atau karena meremehkan, atau karena tidak yakin dengan kemenangannya, maka hari-hari mendatang akan membuktikan bahwa dirinya yang salah besar dan Allah yang akan melempar kebatilannya dengan kebenaran kami lalu Dia hancurkan kebatilan itu dan lenyaplah akhirnya.
Marilah bersama kami, marilah bersama kami, wahai aktivis da’wah dan para mujahid yang ikhlas. Di sinilah jalan lurus itu, di sini pula arah yang lempang, maka janganlah kau bagi-bagi kekuatan dan kesungguhanmu hingga tercecer.
”Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu telah menceraikanmu dari JalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah agar kamu bertaqwa.” (QS Al An’am: 153)
MENGASAH POLA PIKIR KRITIS PELAJAR DENGAN MENGAJAR INTERAKTIF
11 Februari 2012 pukul 10:28 am | Ditulis dalam Chemist | Tinggalkan komentarTidak semua orang suka belajar berlama-lama. Apalagi masa-masa remaja seusia anak-anak sekolah SMP dan SMA. Mereka lebih suka mengisi waktu dengan kumpul-kumpul dengan teman-teman sebayanya atau melakukan kegemarannya dengan tanpa diganggu orang lain. Padahal dengan persaingan dunia yang semakin ketat saat ini, anak-anak dituntut untuk terus belajar. Setiap hari Senin sampai Sabtu jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Bahkan dengan sekolah atau les-les tambahan yang diharapkan setelah mengikutinya akan didapatkan nilai yang baik untuk mata pelajaran tertentu yang dianggap momok, matematika misalnya. Bahkan beberapa sekolah menerapkan jam ke – 0 yang menuntut pelajar untuk datang kurang dari jam 7 untuk mempersiapkan kelas dan kadang-kadang diselipi dengan pengajian dan kultum dari pihak sekolah. Sebagian pelajar yang memang menyadari penting pendidikan tentu hal ini tidak menjadi masalah. Mereka menikmati waktu-waktu yang mereka miliki untuk bermain bersama teman-temannya. Namun efek negatifnya mereka menjadi tidak terlalu serius dengan apa yang mereka peroleh. Menjadikan pelajaran sebagai sesuatu yang harus segera dipahami lalu pada saat ujian mereka mengeluarkan apa yang ada di pikiran mereka. Lalu setelah itu mereka melupakan apa yang diperolehnya itu.
Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu mewujudkan output (keluaran) yang unggul. Mengutip pendapat Gorton tentang sekolah, ia mengemukakan, bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi, dimana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Hakikat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita bahwa sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat, ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat. Hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota masyarakat dalam bidang pendidikan, kemajuan sekolah dan masyarakat saling berkolerasi.
Negara yang kuat memang harus memiliki generasi muda yang cerdas, namun semuanya harus ditunjang moralitas dan etika. Jiwa sportif (jujur) bisa terbangun melalui kegiatan olahraga, sedangkan seni bisa menjadikan manusia lebih beradab dan mengenal etika. Siswa bisa bersaing secara sehat untuk mencapai prestasi. yang lebih penting adalah learning by doing untuk sportivitas. Karena setiap tahun ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga para guru juga dituntut untuk menambah pengetahuan. Selain itu mereka juga memiliki kewajiban membina siswanya untuk menjadi generasi cerdas namun memiliki moralitas yang kuat. Ini pekerjaan yang cukup berat bagi para guru. Para pelajar tidak hanya bisa berprestasi di bidang akademik, melainkan mereka harus bisa meraih prestasi di bidang lain seperti seni dan olahraga. Kemajuan suatu bangsa sangat erat dengan kualitas pendidikan pada bangsa tersebut, artinya kemajuan bangsa berarti kualitas pendidikan bangsa itu. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan jelas tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidikan bangsa. Oleh karena itu sekolah merupakan salah satu sentral dalam meningkatkan kemajuan bangsa Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari kualitas kepala sekolah, kualitas guru, prestasi siswa dan peran masyarakat sebagai petunjuk tingginya kualitas pendidikan.
Selanjutnya, untuk menaikkan kualitas pendidikan, pemerintah pun berupaya untuk menaikkan kompetensi guru. Undang-undang guru dan dosen tentang sertifikasi guru dan dosen merupakan stimulus dalam upaya meningkatkan kompetensi dan kualitas guru. Dengan standar tersebut diharapkan seluruh guru di Indonesia dapat memiliki kompetensi yang paripurna. Ini menunjukkan betapa besar peranan guru dalam kemajuan bangsa Indonesia. Untuk itu diperlukan upaya terus menerus untuk mengembangkan kompetensi guru, agar dapat memenuhi kompetensi yang diharapkan. Kualitas guru tidak terlepas dari kompetensi yang dimilikinya. Juga ada guru yang mengajar bukan dari latar belakang pendidikannya, terutama untuk bidang studi umum. Oleh karena itu perlu kegiatan secara terus menerus yang dijadikan tempat guru dalam menempa dirinya bagaimana cara membuat perangkat pembelajaran, bagaimana cara memilih metode pembelajaran dan lain sebagainya. Kegiatan yang dimaksud di atas adalah dengan cara mengajar interaktif. Model pembelajaran interaktif ini sebenarnya baik sekali untuk meningkatkan pemahaman guru tentang pentingnya menanamkan pemahaman kepada siswa serta pentingnya belajar aktif dan mempersentasikan apa yang disampaikannya di depan kelas. Salah satu persiapan dalam pembelajaran ini adalah dengan pembuatan perencanaan pembelajaran sebelum kegiatan belajar mengajar mulai aktif. Tahap awal praktek, kegiatan agak banyak menjelaskan pada siswa tentang cara belajar di lapangan untuk memperoleh pengalaman belajar; seperti bagaimana membuat rencana pembelajaran, silabus, program tahunan, standar KKM dan bagaimana mencatat keberhasilan mengajar dengan teknik analisis data dari siswa. Selain itu, guru juga dapat membuat kesimpulan, berdiskusi dan menyampaikan hasil pembahasan (mempresentasikan) apa yang ditelitinya di kelas.
Hal ini dikarenakan di sekolah-sekolah seuntuk sarana, prasarana yang mendukung sebenarnya sudah ada dan memadai untuk memberikan pemahaman kepada siswa. Hanya saja, seringkali masalah administrasi dari setiap guru menjadikan kualitas guru itu menjadi agak berkurang. Kenyataan yang ada terbalik berdasarkan hasil supervisi terhadap guru masih dominan menggunakan pengelolaan pembelajaran berdasarkan pola lama dan masih dominan menggunakan pengelolaan pembelajaran berdasarkan yang tidak sesuai karakteristik siswa dan situasi kelas. Bila ditelusuri lebih lanjut, faktor yang menyebabkan guru belum mampu melaksanakan pengelolaan pembelajaran dengan tepat karena kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) belum optimal, bahkan ada yang tidak membuatnya. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sangat penting untuk persiapan mengajar. Guru harus membuat persiapan bagaimana caranya agar sebuah materi dapat diselesaikan dengan pemahaman baik bagi siswa namun juga siswa dapat menjelaskannya dengan kalimat sendiri yang disebarkan dalam bentuk lain. Siswa akan merasakan manfaatnya karena dapat mempersiapkan dan mematangkan materi yang diperolehnya, begitu juga guru akan merasakan manfaatnya karena semakin memahami pentingnya administrasi dalam pembelajaran di kelas.
Jika pelaksanaan pengajaran berbasis interkatif ini sukses, maka hasilnya dapat dilihat melalui keberhasilannya dengan ditunjukkan betapa siswa menikmati apa yang diajarkan guru karena sang guru tidak terlalu cepat atau terlalu lambat dalam menerangkan materi yang harus diajarkan. Ini akan berefek materi tersampaikan secara menyeluruh dan sesuai rencana pembelajaran. Siswa-siswa yang aktif terlibat dalam forum kelas interaktif untuk melakukan kegiatan-kegiatan demi tercapainya kualitas pendidikan yang diharapkan. Forum kelas interaktif dapat menumbuhkan profesionalisme guru. Profesionalisme yang dimaksud adalah guru-guru yang aktif di forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), yaitu antara lain dengan menyiapkan perangkat pembelajaran, mengembangkan pembelajaran berbasis komputer atau Teknologi Ilmu Komputer (TIK), mempunyai etos kerja tinggi, dan mengembangkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga tujuan pendidikan berkarakter bangsa dapat tercapai. Pun begitupula yang akan terjadi pada diri siswa yang ternyata akan meningkatkan tanggungjawab dan kemampuan berpikir sistematis agar apa yang diperolehnya dapat disampaikan lagi dengan cara dan bahasa yang berbeda. Hal ini akan menambah nilai pada pemahaman dan kepercayaan diri pada siswa.
Semua hal ini yang membentuk karakter bangsa. Dan karakter bangsa ini ternyata dicetak oleh sekolah, sehingga sekolah tersebut bisa disebut sekolah karakter ketika sekolah tersebut memiliki dan memilih tata nilai yang dia belajar dan mengajarkannya. Tata nilai inilah yang akan diwariskan dan diajarkan serta dipelajari oleh segenap pembelajar di sekolah tersebut. Konsistensi warga sekolah dalam memegang teguh tata nilai inilah yang menjadikan sekolah ini menjadi sekolah yang memiliki karakter tertentu sesuai tata nilai yang dianutnya. Karakter inilah yang akan menjadi ciri khas dan identitas dari sekolah yang bersangkutan.
Nilai-nilai tersebut seperti halnya nilai kebangsaan dan kewirausahaan menjadi indikator sekolah berkarakter bangsa. Indikator standar nilai kebangsaan yang lainnya adalah kedisiplinan siswa dan guru, kebersihan, kesopanan dan kenyamanan sekolah. Misalnya kedisiplinan, bagaimana si guru dan siswa menerapkan disiplin sekolah, seperti kedatangannya terlambat atau tidak dan lain-lain. Hal-hal seperti ini nantinya akan diterapkan secara khusus dan memiliki kelebihan dibandingkan sekolah lain. Sementara nilai kewirausahaan adalah penerapan life skill di sekolah-sekolah. Siswa harus terlibat dalam proses enterpreneurship tersebut. Keterlibatan dalam proses awal hingga akhir, misalnya dalam penjualan produk handicrafts, dalam pembuatan hingga memasarkannya siswa terlibat. Sekolah juga harus memiliki terobosan dalam proses belajar mengajar di kelas dan pendidikan karakter yang telah disusun dengan parameternya ini sudah harus diimplementasikan di sekolah-sekolah tersebut.
Sadar atau tidak apapun yang kita alami adalah konsekuensi dari yang kita pilih untuk dilakukan. Banyak terjadi penyesalan sejatinya timbul dari ketidaksadaran dengan pilihan yang dilakukannnya. Pilihan seseorang terletak dari tata nilai yang dianutnya. Tata nilai yang dianut ini akan membentuk pola pilihan yang akan diambilnya. Kumpulan pilihan yang dilakukannya akan menunjukan karakter orang tersebut. Maka seseorang bisa disebut berkarakter ketika dia memiliki tata nilai yang akan menjadikan referensi bagi dirinya memilih dalam hidup dan kehidupannya.
Dalam memilih nilai sebagai pembentuk karakter, yang akan dipelajari dan diajarkan oleh sebuah lembaga pendidikan tergantung dari pilihan sekolah tersebut mengenai tata nilai apa yang akan diwariskan bagi seluruh warga pembelajarnya. Yang terpenting tentunya pilihan itu dilakukan dengan sadar dengan hitungan konsekuensinya agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari. Mencetak murid menjadi pintar dan cerdas memang menjadi tugas utama para guru di sekolah, namun ada tugas penting yang wajib menjadi perhatian para pengajar yakni membangun generasi yang memiliki karakter, etika dan moralitas. Untuk membangun karakter memang tidak hanya melalui materi pendidikan yang ada, tapi bisa juga melalui pengembangan bakat, baik di bidang olahraga maupun seni. Sebab kedua kegiatan tersebut bisa membuat para siswa memiliki daya saing kuat untuk menjadi yang terbaik.
Oleh karena itu, sejak dini, pembelajaran berbasis pembelajaran interaktif harus diterapkan. Jika dengan kelas berbasis interaktif ini siswa akan terbiasa mempersiapkan apa yang harus disampaikan. Apa yang disampaikan tentu akan membuat hasil yang maksimal. Tentu hal ini juga harus memperhatikan kondisi siswa. Namun jika sudah terbiasa, agar ketika siswa terbiasa, tidak ada lagi beban dalam belajar. Ini membutuhkan usaha yang besar dan berkesinambungan. Namun jangan dulu kita memikirkan bahwa hal ini sulit. Kita harus tetap mencoba. Mengutip kata-kata dari Socrates: ”Coba dulu, baru cerita. Pahami dulu, baru menjawab. Pikir dulu, baru berkata. Dengar dulu, baru menilai. Bekerja dulu, baru berharap” maka jika hal ini dapat dipahami oleh setiap orang, maka tidak ada orang yang mengeluh dengan apa yang harus dilakukannya. Terakhir, mari kita mencoba pembelajaran ini dulu, baru menceritakan pada orang lain dan menyatakan bahwa ternyata hal ini tidak sesulit apa yang kita anggap sulit.
RESOLUSI CINTA 2012
19 Januari 2012 pukul 6:16 am | Ditulis dalam Hikmah | 2 KomentarDi tahun 2011 yang telah berakhir ini, hampir setiap hari kita menyaksikan ada saja pejabat atau mantan pejabat dari berbagai institusi baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif yang terjerat berbagai kasus. Negeri yang makmur dan melimpah kekayaannya ini justru seperti menjadi kutukan bagi rakyatnya sendiri. Hutan dan pohon-pohon dibabat nyaris habis tandas. Minyak, emas, batu bara dan beragam sumber daya alam terus dieksploitasi dari perut bumi pertiwi tanpa mampu mensejahterakan rakyatnya. Nyaris tidak bersisa untuk generasi anak cucu kita. Betapa dahsyatnya luapan nafsu serakah kita dalam meraup kekayaan dan menyedot habis ubun-ubun sumber daya manusia dan sumber daya alam negeri ini. Kasus demi kasus menggelayuti kehidupan kita. Mulai dari kasus korupsi, penipuan sampai dengan kasus pelecehan seksual. Cita-cita bangsa mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat makin hari semakin jauh panggang dari api. Habis, tandas!
Memang ada sedikit pelipur hati, kadang kita mendengar dan menyaksikan putra putri terbaik negeri ini mengharumkan nama bangsa dengan beragam prestasi, dari seni, olahraga, budaya dan ilmu pengetahuan. Hanya saja, jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah penduduknya yang sekitar 240 juta jiwa. Bahkan perebutan kekuasaan dan jabatan merambat sampai ke dunia olahraga, seni dan budaya. Arena dimana seharusnya semua orang bangga melihat prestasi yang diukir daripada politicking dan saling berebut jabatan tanpa rasa malu dan tanpa ada sportivitas.
Tak lupa dalam ingatan kita kejadian-kejadian yang telah berlangsung selama tahun 2011. Mulai dari kisruh Pemungutan Suara Ulang (PSU) dalam Pilkada Bupati Pandeglang, isu suap di DPRD tingkat kabupaten Pandeglang, penistaan agama oleh jama’ah Ahmadiyah, hingga kisruh dan pertarungan politik pada pilgub Banten. Atau dalam aspek sosial kita melihat betapa tingginya angka kriminalitas di Banten, sedikit-sedikit kita mendengar dan melihat berita penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan. Kemana sebenarnya akal dan nurani rakyat kita? Atau dalam bidang kesehatan kita melihat dan mendengar bahwa angka pengidap HIV/AIDS yang semakin melonjak tinggi telah membuat bulu kuduk kita berdiri. Ini semua menjadikan kita seharusnya semakin mawas diri terhadap keadaan. Membuat benteng dan imunitas pada diri kita dan anak-anak kita. Bukan membuat mereka steril, yang membuat mereka menjadi tidak peka terhadap keadaan. Yang membuat mereka mudah sekali terprovokasi dan melakukan tindakan coba-coba. Ini pula yang menjadi penyakit kita di masyarakat: anak-anak kita -para pelajar dan pemuda itu- mudah terpengaruh pada keadaan. Sehingga maraklah tawuran dan perkelahian antar genk. Lengkap sudah penyakit ini menggerogoti. Apa yang sedang terjadi? Apa yang salah dalam diri sebahagian anak bangsa ini?
Kita tidak bisa membiarkan diri kita terus berada dalam keterperosokan. Kita tidak boleh membiarkan bangsa ini menuju titik kehancuran. Pertanyaannya: dari mana kita akan memulai memperbaiki ini semua? Siapa yang akan memulai membenahi? Mari kita memulai langkah awal dengan membangun karakter pribadi-pribadi yang tangguh, berintegritas dan berakhlaq mulia demi tegaknya Indonesia yang berkeadilan dan mensejahterakan di tangan-tangan anak bangsa yang amanah. Mari kita mulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita tercinta. Jangan lagi menunda, bersegeralah. Indonesia menunggu! Nyatakan dalam resolusi cinta di tahun 2012 ini dengan karya nyata. Karya yang akan dikenang sepanjang masa oleh anak dan cucu kita. Karya yang akan membuat kita bertahan dan terus bertahan untuk menciptakan cita-cita mulia seperti yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945.
Memaksimalkan Peran Guru
30 November 2011 pukul 1:38 pm | Ditulis dalam Tak terkategori | Tinggalkan komentarSenin (7/11) lalu terjadi tawuran sekelompok mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Di hari yang sama, siswa SMA di Bekasi juga melakukan aksi tawuran. Atau kita runut beberapa bulan terakhir, pastinya sering kali terjadi tawuran antar pelajar atau mahasiswa. Tawuran, seperti ikon pelajar dan mahasiswa yang telah kehilangan identitas. Pelajar mulai kehilangan identitas diri karena tidak mampu mengedepankan intelektualitas yang dimilikinya dalam mencari solusi dari suatu permasalahan yang sedang dihadapi. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya aksi tawuran antar mahasiswa atau antar pelajar yang terjadi belakangan ini.
Tawuran seolah menjadi solusi yang terbaik daripada harus repot berdiplomasi atas suatu masalah. Tawuran menjadi penyalur kepuasan emosional mereka yang memang masih meledak-ledak. Tawuran dianggap sebagai ajang memperlihatkan kepada dunia: ”nih, gue keren”. Mental ini, jika terus dipelihara maka akan merusak tatanan pemerintahan. Mengganggu kenyamanan masyarakat juga mengurangi produktivitas pelajar yang seharusnya menjadi agen pengubah bangsa menjadi yang lebih baik. Bayangkan saja, apa akibat dari tawuran yang baik? Tidak ada sama sekali. Yang ada hanya permusuhan, kebencian, rusaknya fasilitas umum. Berapa banyak kasus tawuran yang melibatkan pelajar ternyata kemudian harus memakan korban jiwa. Dalam setiap tawuran, pastinya ada yang terluka, berat ataupun ringan. Bahkan di banyak kasus tawuran yang paling parah terjadinya korban jiwa meninggal. Begitupula dengan banyaknya perusakan fasilitas umum. Padahal kita membangunnya dengan usaha dan tetesan keringat, dengan penuh harapan bahwa fasilitas ini akan memberikan kemudahan atas kehidupan kita. Coba kita lihat, betapa banyaknya kaca yang terkena lemparan batu akibat tawuran. Atau pagar pembatas yang rusak, kendaraan yang dibakar, kemacetan di jalan umum atau kotornya jalanan yang dilalui pada saat tawuran.
Kita tidak bisa mentup mata atas semua ini karena ini adalah tanggungjawab kita, bukan sekedar polisi. Kita juga harus menyadari bahwa ternyata meskipun pelajar yang berbuat tawuran, ternyata memang ada oknum yang membonceng kepentingan dari tawuran ini. Pastinya ada pihak tertentu yang senang dan mengharapkan tawuran ini. Mereka bagaikan menyiram api dengan minyak, mereka sebagai provokator yang terus berusaha agar emosi anak-anak kita tersulut dan memotivasi mereka untuk terus “berkarya” dengan tawurannya itu.
Lalu apa yang bisa dilakukan sebagai orang tua? Khususnya sebagai guru, maka yang bisa kita lakukan adalah dengan terus mengendalikan perilaku anak-anak kita ini. Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (civil mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika. Tugas manusiawi inilah yang paling penting dari seorang guru. Sebagai guru, tugas manusiawi ini adalah dalam bentuk membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri.
Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik untuk turut mengemban dan melaksanakan apa yang telah termaktub dalam UUD 1945. Seorang guru harus mampu menjadi pemercepat kesadaran, pendukung dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal. Ketiga tugas ini harus selaras dan seimbang agar tercipta kehidupan yang harmonis.
Guru tidak hanya harus menguasai satu atau beberapa disiplin keilmuan yang harus dapat diajarkannya, ia harus juga mendapat pendidikan kebudayaan yang mendasar untuk aspek manusiawinya. Jadi di samping membiasakan mereka untuk mampu menguasai pengetahuan yang dalam, juga membantu mereka untuk dapat menguasai satu dasar kebudayaan yang kuat. Pun tidak bisa dilupakan bahwa ternyata guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila. Peranan guru yang lain adalah sebagai pengajar dan pembimbing pelajar untuk memberikan arahan yang baik tentang pendidikan.
Peran sekolah pun tidak dapat dilupakan, justru yang paling penting, seluruh instrumen pada sekolah dapat memberikan akses yang mudah bagi pelajar untuk mengajarkan kebaikan. Sekolah juga harus memberikan tindakan tegas kepada pelajar yang terlibat tawuran agar tidak kembali terulang. Tindakan tegas tersebut dapat berupa skorsing, pemanggilan orangtua si mahasiswa, bahkan bila perlu sampai pemecatan jika memang perbuatannya itu sampai merugikan fasilitas umum. Tindakan tegas ini perlu dilakukan, dapat memberikan efek jera bagi mereka yang lainnya, serta menjadi contoh dan tidak melakukan perbuatan yang sama. Efek jera ini juga memungkinkan ada jika seharusnya ada reward and punishment terhadap kampus atau sekolah yang terlibat tawuran, atau sekolah atau kampusnya ditutup atau diliquidasi.
Maka sesungguhnya untuk menyelamatkan generasi bangsa ini merupakan tugas dari semua lapisan untuk bersinergi dalam menyongsong perubahan. Kerjasama, perhatian dan peran seluruh elemen masyarakat amat diharapkan. Kompetensi amat penting dalam membangun bangsa ini, namun karakter dan perilaku lebih diperlukan karena ia menyangkut masa depan dan kelangsungan suatu bangsa. Siapakah lagi yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan dan para pendahulu kita dalam membangun bangsa ini selain mereka anak-anak kita?
Pengaruh Pemakaian Kosmetik Pada Remaja
30 November 2011 pukul 1:28 pm | Ditulis dalam Chemist | Tinggalkan komentarKehidupan remaja saat ini sangat berbeda dengan kehidupan remaja pada masa sebelumnya. Penggunaan kosmetik yang sudah dimulai pada usia dini, yang semestinya belum pantas untuk digunakan oleh anak pada usia dini. Tetapi pada kenyataannya, sesuai dengan apa yang kita lihat dan saksikan bersama, ternyata bahwa anak usia dini telah menggantungkan hidupnya dengan penggunaan kosmetik-kosmetik. Padahal kosmetik-kosmetik ini terkadang kita tak pernah memperhatikan apa kandungan-kandungan yang terkandung dalam produk-produk kosmetik tersebut. Sejauh ini, memang belum banyak ditemukan efek-efek negatif yang ditimbulkan dari penggunaan produk-produk kecantikan tesebut. Tetapi sebagai makhluk sosial dan makhluk yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari hidupnya, maka meneliti dan menguji bagaimana pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh pemakaian produk-produk kecantikan tersebut selayaknya dilakukan. Agar kelak tidak menimbulkan efek negatif atau setidaknya kita mencegah, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.
Sebuah tulisan yang dimuat oleh sebuah situs digital, tentang adanya percepatan masa pubertas yang dipengaruhi oleh pemakaian produk kosmetik tersebut. Telah dilakukan riset oleh sejumlah peneliti yang melakukan penelitian dengan melibatkan 1151 remaja berusia 6-8 tahun di New York City, Cincinnati dan California Utara. Dalam tes urin mereka ditemukan tiga jenis zat kimia yang sering terdapat dalam produk kosmetik, yakni phenols, phthalates dan phytoestrogen. Para peneliti menemukan bahwa zat-zat kimia tersebut banyak ditemukan pada beragam produk kosmetik, seperti cat kuku, kosemtik, parfum, lotion dan sampo. Beberapa jenis produk kosmetif juga menggunakan zat kimia itu.
Pada periode remaja, menggunakan produk kosmetik yang digunakan terus menerus, seperti menjadi kebutuhan primer. Setiap perubahan waktu atau musim, seperti; pagi hari (setelah mandi), siang (sebelum pergi ke setiap tempat), sore dan malam (sebelum menyajikan kepada pihak-pihak atau agenda lain dan sebelum tidur malam).
Tapi, kita tidak pernah berpikir bagaimana bahan kosmetik yang diproses dan bekerja dalam tubuh kita. Sebenarnya, bahan kosmetik itu termasuk semua bagian dari bahan kimia. Bahan kimia ada yang berbahaya, ada juga yang tidak berbahaya. Bagaimana kita bisa tahu tentang itu, tentu kita harus melakukan banyak percobaan dan pengamatan dari masalah ini, dan bagaimana kita bisa memecahkan masalah ini, dengan menemukan solusi yang terbaik. Cara untuk memecahkan setiap masalah tentang efek dari bahan kimia yang merupakan isi bahan kosmetik adalah kewajiban. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita harus mendapatkan dan memiliki substitusi material mereka, yang lebih alami dan bahan yang aman untuk keselamatan untuk kulit sehat, kulit kita khususnya dan tubuh kita umumnya.
Sebenarnya, bahan kimia memiliki aturan penting dalam menginfeksi objek ini. Tercepat periode pubertas berada di usia remaja. Dan dari bahan kimia didirikan tiga bahan kimia dalam bahan kosmetik banyak terdapat fenol, phthalates dan phytoestrogen. Meskipun ada banyak efek lain dari menggunakan bahan kimia yang kandungan dalam produk kosmetik. Fenol yang merupakan salah satu bahan yang terdapat dalam bahan-bahan penyusun kosmetik misalnya, dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Fenol yang terkonsentrasi dapat mengakibatkan pembakaran kimiawi pada kulit yang terbuka. Bukankah ini berbahaya jika dibiarkan? Padahal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kosmetik hanya memberikan efek lokal dan tidak mempengaruhi sistem fisiologis sehingga tidak mungkin kosmetik bekerja secara sistemik (diabsorbsi ke pembuluh darah). Kalau diabsorbsi dan mempengaruhi/memanipulasi sistem fisiologis, sudah tidak bisa dikatakan sebagai kosmetik tetapi disebut sebagai kosmesetika.
Apalagi sekarang ini banyak produsen kosmetik yang tidak lagi memperhatikan keamanan dan keselamatan. Sudah berapa banyak kasus para produsen kosmetik kedapatan mencampur bahan kosmetik dengan bahan-bahan berbahaya seperti merkuri. Padahal merkuri ini berbahaya jika terakumulasi dalam tubuh kita, sehingga tanpa kita sadari, tubuh kita telah banyak menumpuk bahan berbahaya itu. Ditambah dengan sedikitnya pengalaman remaja dalam memilih kosmetik. Lalu, apa langkah selanjutnya dalam mengantisipasi hal tersebut, walaupun pada catatan terakhir, belum terdapat banyak korban dari pemakaian produk-produk kosmetik atau produk kencantikan apalagi di kalangan remaja?
Jika hal ini tidak menjadi perhatian bersama semua pihak, kemudian kita biarkan maka akan menyebabkan efek gunung es bagi remaja. Perlu didikan dari keluarga, dukungan dari sekolah serta lingkungan pergaulan yang memotivasi untuk terus melakukan kebaikan dan kegiatan positif sebenarnya sudah dapat memagari remaja dari fenomena ini. Apalagi dengan adanya mental remaja yang ingin menjadi yang paling menarik dengan menggunakan bahan-bahan kosmetik untuk perawatan mereka untuk menjaga diri menawan, kulit, dan semua bagian tubuh. Jika mental ini terus dipupuk akan menyebabkan remaja tak lagi peduli pada lingkungan karena mereka terlalu sibuk dengan penampilan mereka. Remaja berlomba-lomba untuk menjadikan kulit mereka putih tapi tidak memperbaiki sikap dan hati mereka. Jika hal ini dibiarkan, ini akan mematikan karakter bangsa yang memelihara etika dan moral.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus memperbaiki dan mempercantik diri tapi bukan dengan penggunaan kosmetik yang berlebihan. Memperbaiki dan mempercantik diri dengan terus meningkatkan kompetensi diri sehingga siap bersaing secara global dan memperbaiki sikap diri sehingga karakter pemuda yang senantiasa aktif, produktif dan pantang menyerah terus hidup di diri-diri para remaja itu. Sehingga kegiatan mereka selalu dalam kegiatan yang positif dan mempersembahkan yang terbaik untuk bangsanya.
MEMAKNAI KEMBALI ARTI SUMPAH PEMUDA
9 November 2011 pukul 10:17 am | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentarBerbicara tentang pemuda memang tak akan ada habisnya. Selalu ada yang baru untuk dibicarakan. Keceriaan, emosional, semangat dan ide-ide yang selalu mengucur deras seakan menjadi harmonisasi kehidupan yang terus dinamis mengikuti ritme kehidupan. Pemuda, yang terbayang pertama kali dalam benak kita ketika mendengar kata ini adalah seorang yang kokoh berjalan, tegas dalam bertindak, memiliki jiwa yang mudah menerima perubahan ke arah yang lebih baik dan dinamis. Begitulah gambaran para pemuda ketika berkibar di zamannya. Dan ini dibuktikan oleh Sutan Syahrir dan kawan-kawan 28 Oktober, 83 tahun yang lalu. Pemuda menjadi sosok yang begitu diharapkan membawa kebaikan dan kekuatan melepaskan penjajahan di masa itu. Hingga akhirnya kita sama-sama mengetahui bahwa apa yang diperjuangkan saat itu seharusnya menjadi karakter dalam kehidupan pemuda saat ini.
Namun apa yang kita alami saat ini menjadikan refleksi bagi sebagian besar orang karena ternyata idealism yang dulu diperjuangkan hanya berhenti sampai kemerdekaan Republik Indonesia tanpa kelanjutannya sampai saat ini. Melihat pemuda saat ini kita risih, betapa banyak pemuda yang tidak memiliki lagi karakter yang diharapkan. Betapa banyak kasus yang membuat kita geleng-geleng kepala. Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:
- 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
- 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
- 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
- Kasus korupsi terjadi di berbagai lembaga seperti KPU, KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
(Sumber : Litbang Kompas)
Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada di pikiran kita? Apakah memang itu yang menjadi kelakuan para pejabat negara yang pastinya dulu juga merupakan seorang pemuda? Maka menjadi pertanyaan besar bagi kita bahwa ternyata pembangunan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi di rumah dan di lingkungan sosial. Bayangkan apa persaingan yang muncul di tahun 2050? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan negara di dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya di tahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun-tahun berikutnya tentu membutuhkan good character.
Di zaman globalisasi ini kita mengetahui adanya modernisasi dan westernisasi di kalangan pemuda Indonesia khususnya kalangan pemuda yang berada di Banten. Modernisasi dan westernsiasi ini menunjukkan betapa hebatnya pengaruh dari zaman globalisasi ini untuk kalangan para pemuda. Sehingga perlahan tapi pasti, hal-hal berkaitan dengan keagamaan sedikit demi sedikit terkikis oleh suatu keadaan yang disebut modernisasi dan westernisasi, maka dari itu dampak negatif modernisisasi dan westernisasi harus dicari solusi yang tepat dan efektif untuk meminimalisirnya.
Media massa merupakan media sosialisasi yang cukup berpengaruh terhadap pembangunan opini dan karakter pemuda. Nilai dan norma yang disampaikan dan disajikan oleh media massa akan tertanam dalam diri seseorang melalui penglihatan maupun pendengaran. Begitupula dengan negara kita Indonesia, yang erat dengan budaya ketimuran. Hal ini karena warga negaranya yang terkenal dengan keramahan, kesopanan dan agamis, sehingga banyak kota-kota yang dijuluki sebagai kota santri, khususnya di pulau Jawa. Namun seiring perkembangan zaman yang begitu cepat, kecanggihan teknologi, komunikasi serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat memudarkan sedikit demi sedikit budaya ketimuran kita. Tak pandang usia, jabatan, ras dan suku. Bahkan wilayah Banten yang katanya kebanyakan merupakan suku Sunda, yang erat kaitannya dengan kesopanan dan tutur bahasanya yang halus sedikit demi sedikit mulai terkikis. Selain itu wilayah Banten adalah salah satu kota yang berpangaruh besar dalam penyebaran agama Islam di Tanah air. Sehingga Banten sering dijuluki sebagai wilayah yang agamis. Namun semua julukan ini perlahan-lahan menghilang seiring dengan modernisasi dan westernisasi.
Di sektor pariwisata yang ada di Banten yang terkenal dengan keindahan bahari dan asrinya alam Ujung kulon, banyak dikunjungi wisatawan dari ibukota dan wisatawan mancanegara. Sedangkan di bidang teknologi komunikasi, membuat para penduduk Banten (khususnya di kalangan pemuda) tidak mau merasa ketinggalan. Sehingga mereka mulai berlomba-lomba mendapatkan gadget terbaru dan dengan itu mereka mudah mengenal budaya barat yang biasa dikenal dengan westernisasi. Gaya hidup ini, perlahan-lahan mulai mengubah gaya hidup dan pola pikir mereka dan menghapus keoriginalitasan mereka sebagai warga Banten yang berbudaya. Padahal kita sama-sama mengetahui betapa kayanya negara kita akan budaya dan tradisi yang sangat menjunjung tinggi sikap dan perilaku. Ini sama halnya dengan pembangunan karakter bangsa lewat pemuda dengan mengenalkan budaya bangsa sejak dini. Kita harus dapat memilah dan memilih mana budaya bangsa yang dapat dipertahankan dan mengikuti pola modernisasi dan westernisasi. Atau sebaliknya, kita harus bisa menempatkan secara tepat apa dan bagaimana jika sebuah kebijakan yang berasal dari luar yang mungkin dapat mempengaruhi karakter pemuda. Hal ini karena kita mengetahui betapa bahayanya jika kita menerima modernisasi tanpa menyaring terlebih dahulu.
Akhirnya, mari kita kembalikan kepada deklarasi sumpah pemuda yang di sana terdapat nilai-nilai kebangsaan, kesatuan dan cinta tanah air. Kita harus kembali dapat memaknai betapa penting dan berharganya pemuda sebagai aset masa depan dengan terus mengedepankan teknologi dan keilmuan tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang tumbuh berkembang. Sehingga kita harus terus membangun karakter pemuda yang dapat dibanggakan sebagai agen penerus dan pelurus bangsa.
DILEMA PILGUB
28 Oktober 2011 pukul 5:00 am | Ditulis dalam Tak terkategori | Tinggalkan komentarDemokrasi seolah tak lagi asing di telinga setiap penduduk Indonesia. Kata demokrasi senantiasa didefinisikan dan dipahami sebagai pemilihan umum yang selalu hadir di tengah-tengah masyarakat dalam kurun waktu 5 tahun sekali. Begitu pula pemilihan umum yang akan dilaksanakan di Banten saat ini. Pemilihan gubernur yang ditunggu sebagai ajang obral harapan untuk perubahan Banten yang lebih baik. Kita mengetahui bahwa masyarakat global hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Ada kebutuhan untuk saling membutuhkan, saling menghargai dan saling bahu membahu satu sama lain. Masyarakat tidak dapat hidup sendiri karena adanya hubungan satu sama lain merupakan kondisi kenyataan manusia. Oleh karena itu, setiap individu mesti belajar bagaimana hidup bersama, mengatur tatanan kehidupan secara bersama, sehingga inspirasi dan aspirasi individu dapat tercapai. Demokrasi termasuk di dalamnya pengembangan dan penumbuhan semangat kebangsaan.
Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah, atau seringkali disebut pilkada, adalah ajang pembuktian demokrasi secara dewasa. Pemilihan umum yang berfungsi untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung di Indonesia oleh penduduk daerah setempat yang memenuhi syarat. Sebelumnya, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dasar hukum penyelenggaraan pilkada adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam undang-undang ini, pilkada (pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah) belum dimasukkan dalam rezim pemilihan umum (pemilu). Pilkada pertama kali diselenggarakan pada bulan Juni 2005.
Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, pilkada dimasukkan dalam rezim pemilu, sehingga secara resmi bernama “pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah”. Pilkada pertama yang diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini adalah Pilkada DKI Jakarta 2007. Sesuai Rumusan UU Nomor 32 tahun 2004 yang telah diubah dengan UU Nomor 12 tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah, ditetapkan bahwa kepala daerah memang dipilih secara langsung oleh rakyat. Dasar pemikirannya adalah selain memenuhi asas demokrasi, hal itu dilakukan untuk menekan praktek politik uang. Dengan demikian diidealkan praktik semacam itu tak akan terjadi lagi, namun yang terjadi kini isu money politic justru makin marak. Sistem Pilkada yang sekarang ini dinilai menghabiskan biaya tinggi dan seringkali menimbulkan masalah sosial sehingga perlu dipikirkan kembali sistem pilkada yang sekarang.
Masalah itu memang ada, namun ibarat angin, prakteknya sulit dibuktikan. Dalam banyak kasus, praktek yang demikian sulit dibuktikan karena dilakukan secara sistemik dan sistematik sehingga praktik politik haram tersebut sulit ‘ditangkap tangan’. Maka usulan yang penting untuk dipikirkan itu adalah (1) Pilkada langsung masih dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan adanya kejadian-kejadian yang terjadi, termasuk dalam hal ini konsekuensi pembiayaan yang besar; (2) Pelaksanaan Pilkada diharapkan secara serentak. Kalau dapat dilakukan dengan satu kali putaran saja dan menurut suara terbanyak; (3) Pilkada bagi pemilih di luar daerah diperbolehkan untuk memilih.
Pada poin kedua dikatakan bahwa “Pelaksanaan Pilkada diharapkan secara serentak. Kalau dapat dilakukan dengan satu kali putaran saja dan menurut suara terbanyak”, dari rekomendasi ini memang diharapkan bahwa pemilihan gubernur kali ini cukup dilakukan sekali saja dengan pertimbangan efisiensi dana, efisiensi tenaga dan waktu. Efisiensi ini tentu harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dilema memang, di satu sisi kita menginginkan pendidikan demokrasi bagi masyarakat Banten, tapi di sisi lain ternyata demokrasi ini menghasilkan perbedaa-perbedaan yang amat menyolok dan membuat dana menjadi tidak efisien waktu, tenaga dan pikiran. Maka kembali kepada definisi demokrasi bahwa demokrasi adalah kebebasan memilih bagi para rakyat. Maka menjadi kewajiban kita untuk memilih satu dari sekian calon yang ada dengan penuh rasa harap bahwa sang calon memang akan memenuhi janji-janjinya. Namun hal ini memang menjadi dilema jika pemilihan umum kepala daerah harus diulang karena hal ini sama saja dengan pemborosan uang rakyat. Karena sekali mengadakan pilgub, rakyat harus mengeluarkan dana sekitar 135,5 Milyar. Bukankah ini lebih baik dianggarkan untuk pembangunan?
Semua ini dapat diminimalisir dengan cara pemilihan kepala daerah menang satu putaran. Dengan memilih pemimpin yang cerdas, mempunyai visi dan misi yang jelas, mempunyai track record yang baik, anti KKN dan berani mengambil resiko serta dapat mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat. Tak lupa bahwa pemimpin yang baik juga memiliki tim yang solid, maka pilih juga pemimpin yang memiliki massa yang loyal dan total dalam bekerja. Satu poin pemimpin yang kita dambakan adalah pemimpin yang tanggungjawab. Tanggungjawab merupakan unsur penting bagi pengembangan karakter bangsa karena hal ini terkait dengan ekspresi kebebasan manusia terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Tanggung jawab ini memiliki tiga dimensi, yaitu tanggungjawab kepada (relasi antara individu dengan orang lain), tanggungjawab bagi (hubungan individu dengan dirinya sendiri), serta tanggungjawab terhadap (hubungan individu terkait dengan tugas dan tanggungjawabnya di dalam masyarakat). Maka memilih pemimpin yang bertanggungjawab adalah hal yang wajib dilakukan oleh para pemilih.
Mengelola Sampah Elektronik
12 Oktober 2011 pukul 11:44 am | Ditulis dalam Chemist | Tinggalkan komentarSaat ini, sampah merupakan masalah serius di kota-kota besar karena volume sampah yang dihasilkan tidak tertangani seluruhnya oleh Dinas Kebersihan. Hal ini juga ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah. Sampah menjadi menggunung di berbagai tempat pembuangan akhir (TPA) yang tidak ada tindakan khusus untuk mengurangi volumenya selain dibakar. Padahal sampah tidak bisa dikatakan sama semua karena pada kenyataannya sampah dibagi menjadi berbagai macam berdasarkan jenis dan kemudahannya untuk diuraikan.
Sampah dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu sampah organik, sampah non organik dan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sampah organik berupa sisa-sisa makanan, daun dan sisa-sisa material tumbuhan yang membusuk sebenarnya dapat diubah menjadi kompos dan pupuk cair yang baik sekali untuk tanaman. Sedangkan sampah non organik berupa plastik dan kaca memiliki nilai jual yang cukup tinggi dibandingkan sampah organik. Pengelolaannya juga lebih mudah yaitu dengan cara cukup dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah yang sudah dipilah memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Ketersediaan sampah plastik dan kertas adalah 24% dari volume sampah keseluruhan. Untuk meningkatkan harga jual, sampah plastik dipilah berdasarkan jenis, dilakukan pencucian, dan dicacah menjadi bijih plastik. Saat ini, harga jual sampah plastik dan kertas masih rendah dikarenakan produk yang dihasilkan hanya dijual tanpa diolah dan ditawarkan kepada satu bandar saja. Sampah plastik digunakan untuk daur ulang. Sedangkan sampah kertas digunakan sebagai campuran bahan baku kertas bagi industri kertas. Sampah jenis lainnya adalah sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa bekas baterai dan bekas alat-alat elektronik yang sudah tidak dapat dipakai. Sebenarnya sampah B3 ini tak jauh berbeda dengan sampah plastik atau sampah kertas, sampah elektronik juga harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan. Karena beberapa komponan barang elektronik bekas mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Contohnya circuit board computer yang mengandung beberapa macam logam berat seperti timah, besi, timbal, perak dan tembaga.
Sampah berupa barang elektronik merupakan bahaya yang paling mengancam kelangsungan hidup di planet bumi kita, setelah masalah pemanasan global. Dunia saat ini memang sudah dipenuhi oleh berbagai barang elektronik yang canggih namun ternyata dapat membahayakan kelangsungan makhluk hidup lainnya ketika benda tersebut menjadi sampah dan tidak digunakan dengan bijaksana. Fakta lebih lanjut adalah perkiraan dari PBB yang menyatakan bahwa ada 20 sampai 50 juta ton sampah elektronik yang dihasilkan setiap tahun. 70 % dari sampah tersebut dibuang dinegara-negara miskin dan berkembang. Padahal limbah tersebut merupakan sumber racun bagi manusia dan lingkungan sekitarnya karena pada saat proses pembuatan perangkat elektronik juga menggunakan berbagai macam bahan beracun. Jadi sudah pasti sangat berbahaya jika hal ini terus menerus dibiarkan terjadi tanpa adanya tindakan yang dapat mencegahnya.
Jika kita menengok apa yang terjadi di era globalisasi ini, barang-barang elektronika seperti televisi, komputer, VCD player, tape recorder maupun telepon genggam bukanlah barang asing. Karena bagi sebagian orang, barang-barang tersebut merupakan kebutuhan vital yang harus dipenuhi seperti layaknya sembako. Bahkan bagi sebagian orang, kebutuhan barang elektronik ibarat fashion yang harus diikuti perkembangannya. Sehingga setiap kali ada produk gadget yang baru, akan mereka ikuti. Tetapi lihatlah dampaknya, seperti barang-barang lainnya, suatu saat jika sudah usang ataupun rusak dan tidak dapat lagi diperbaiki, barang-barang tersebut akan menjadi sampah yang layak untuk dibuang. Padahal apakah kita menyadari, sampah dari barang-barang elektronika tersebut berbahaya bagi perkembangan otak manusia?
Seperti kita ketahui, rongsokan elektronika ini mengandung sekitar 1000 material, dan sebagian besar dikategorikan sebagai bahan berbahaya, karena merupakan unsur beracun seperti logam berat, diantaranya adalah timbal. Apakah timbal itu? Timbal adalah racun penyerang saraf (neurotoksin) yang bersifat terkumpul (akumulatif) dan merusak pertumbuhan otak. Penyerapan timbal ke dalam darah manusia terutama melalui saluran pencernaan dan saluran napas. Ketika dibakar, sampah yang mengandung logam berat ini menimbulkan pencemaran timbal yang sangat berbahaya. Jika dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air eksternal dari hujan). Cairan yang sangat konduktif ini masuk ke dalam tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah.
Sejak lama timbal dituding sebagai penyebab turunnya angka Intellectual Quotient. Dari sebuah riset yang dilakukan Puji Lestari, staf pengajar dan peneliti jurusan Teknik Lingkungan ITB, menunjukkan, adanya hubungan terbalik kandungan timbal terhadap angka IQ, semakin tinggi kadar timbal dalam darah, semakin rendah poin IQ-nya. Sedangankan penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Khidri Alwi, peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Makasar menyebutkan, setiap kenaikan kadar timbal 10 mkgr/dl dalam darah, memicu penurunan IQ sebesar 2,5 poin. Penurunan ini sudah dimulai ketika kadar timbal di atas ambang batas 10 mkgr/dl. Sementara dalam jurnal Enviromental Health Perspective, memuat penelitan yang dilakukan oleh Bruce P Lanphear, yang memperlihatkan, bahwa IQ seorang anak malah mulai menurun saat kandungan timbal dalam darah berkisar 2,4 – 10 mkgr/dl. Secara pasti Lanphear mengatakan, saat terkumpul timbal menipis kisaran 10 – 20 mkgr/dl dan 20 – 30 mkgr/dl, maka penurunan IQ yang terjadi adalah 1,9 dan 1,1. Maksimal penurunan poin IQ dalam riset adalah 3,9.
Ternyata dari fakta-fakta tersebut, barang-barang elektronika yang dikatakan sebagai penunjang informasi, justru bisa menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan otak manusia. Oleh karena itu, jika memang alat-alat elektronika kita masih dapat digunakan dengan baik, tak usah lah kita menggantinya dengan yang baru dengan alasan mengikuti mode. Karena ternyata dengan alasan itu kita telah menjadi penyumbang utama bagi turunnya sumber daya manusia. Jika masih ada yang lama dan masih bisa dipakai, mengapa harus mengganti yang baru padahal fungsinya sama?
Menanggulangi Krisis Air
1 Oktober 2011 pukul 1:27 pm | Ditulis dalam Hikmah | 1 KomentarKemarau panjang yang saat ini tengah melanda sebagian besar wilayah di Indonesia berdampak hingga ke daerah-daerah yang ada di Kabupaten Pandeglang. Lahan pertanian semakin berkurang serta air bersih mulai susah didapatkan merupakan contoh nyata dari dampak dari kemarau panjang. Di Kabupaten Pandeglang tercatat, sebanyak 4 kecamatan yang saat ini tengah mengalami krisis air bersih, yaitu Kecamatan Cikeusik, Cigeulis, Cikedal dan Menes. Kemarau panjang ini juga sudah mulai memunculkan krisis air minum di berbagai daerah termasuk kabupaten-kabupaten lain di Banten seperti Lebak. Krisis air minum ini diperkirakan akan memburuk di masa mendatang mengingat jumlah penduduk yang terus meningkat sementara cadangan air minum dalam lapisan tanah (aquifer) mengalami penurunan. Penurunan cadangan air minum dalam lapisan aquifer terjadi karena meningkatnya eksploitasi terhadap sumber mata air aquifer tersebut sementara pengisian kembali air tawar ke dalam lapisan aquifer menurun karena meningkatnya pembabatan hutan. Padahal sumberdaya air minum dari lapisan aquifer merupakan sumberdaya alam yang terbatas sehingga dalam suatu waktu sumberdaya ini dapat habis. Sumberdaya air minum dari badan air sungai juga merupakan sumber daya alam yang terbatas mengingat debit air sungai sangat dipengaruhi oleh curah hujan, kondisi lahan di sekitarnya serta tingkat pencemaran dari sekitarnya. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya konversi lahan produktif menjadi pemukiman dan industri, serta kondisi cuaca yang tidak menentu berupa kemarau yang berkepanjangan, pencemaran lingkungan dan pemanasan global.
Padahal secara umum tubuh manusia terdiri dari air sebesar 60-80 %, sehingga kualitas hidup manusia sangat tergantung terhadap kualitas air minum yang dikonsumsinya. Oleh karena itu, krisis air minum yang terjadi saat ini dapat membuat kita ketakutan akan masa depan kita khususnya krisis air minum ini yang diduga akan semakin memburuk di masa mendatang apabila tidak diambil langkah-langkah yang tepat mulai sekarang. Langkah-langkah ini harus dipikirkan secara bersama-sama oleh para peneliti, pemerintah dan masyarakat yang dalam hal ini yang paling penting adalah adanya peran pemuda sebagai agen pengganti yang lebih baik.
Ada satu penawaran dan solusi atas krisis air ini, yaitu dengan pemanfaatan air laut. Air laut merupakan sumberdaya air minum yang tidak terbatas khususnya Indonesia memiliki air laut sebesar 70 % dari luas wilayahnya. Dengan demikian untuk mengatasi krisis air minum sekarang dan di masa mendatang, pemanfaatan air laut menjadi air minum merupakan potensi yang harus terus diteliti. Konversi air laut menjadi air minum dilakukan melalui proses destilasi yaitu proses pemisahan air tawar dan kandungan garam yang terdapat di dalam air laut melalui proses pemanasan, dipisahkan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Saat pemanasan terhadap air laut dilakukan, uap air berupa air tawar akan menguap sedangkan larutan yang mengandung garam-garam akan mengendap. Uap air ini kemudian diendapkan dengan menggunakan alat tertentu untuk mengumpulkan air tawar. Air tawar hasil destilasi ini kemudian diproses menjadi air minum. Pada proses pemanfaatan air laut dalam menjadi air minum melalui proses destilasi dihasilkan produk sampingan seperti garam berkualitas tinggi, air laut dalam untuk industri kosmetika, industri makanan dan minuman, industri budidaya pertanian berupa sayur-sayuran, tomat dan lain-lain. Tak ketinggalan industri budidaya perikanan, industri kesehatan, industri obat-obatan dan sebagai pendingin ruangan atau air condition mengingat suhu air laut dalam yang relatif rendah.
Meskipun proses ini relatif mudah, tapi biaya produksi industri air mineral dari air laut masih tergolong mahal. Namun, melihat kondisi saat ini dengan keterbatasan air tawar dari badan air sungai dan badan air tanah aquifer serta pencemaran yang semakin meningkat, ketidakmenentuan iklim, serta pemanasan global maka industri air minum dari air laut di masa mendatang memiliki potensi yang sangat besar dan dengan kemajuan teknologi, sehingga biaya produksi industri air minum ini akan menjadi lebih murah dan efektif.
Sebenarnya menjadi sesuatu yang ironi jika krisis air bersih melanda Indonesia. Padahal Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber-sumber air. Indonesia memiliki 6% persediaan air dunia atau sekitar 21% dari persediaan air di Asia Pasifik, namun pada kenyataannya dari tahun ke tahun Indonesia mengalami krisis air bersih. Potensi ketersediaan air bersih dari tahun ke tahun cenderung berkurang akibat rusaknya daerah tangkapan air dan pencemaran lingkungan. Padahal di lain pihak kecenderungan konsumsi air bersih justru naik secara drastis mengikuti laju pertumbuhan penduduk. Potensi sebagai negara yang kaya air, ternyata tidak mampu menghindarkan Indonesia dari krisis air bersih. Setiap kali musim kemarau tiba berbagai daerah mengalami krisis air. Namun ketika musim hujan tiba, krisis air bersih tetap terjadi karena surplus air yang kerap mengakibatkan banjir (yang pastinya kotor) sehingga sumber air tidak dapat termanfaatkan.
Untuk mengatasi krisis air bersih, upaya penyelamatan lingkungan termasuk di antaranya adalah dengan penyelamatan sumber-sumber air, harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Upaya penyelamatan lingkungan demi mengatasi krisis air bersih dapat dilakukan melalui berbagai cara. Menggalakkan gerakan hemat air, menggalakkan gerakan menanam pohon seperti one man one tree, konservasi lahan, pelestarian hutan dan daerah aliran sungai. Pun seharusnya dilakukan pembangunan tempat penampungan air hujan seperti waduk sehingga airnya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau. Mencegah krisis air seminimal mungkin dengan memanfaatkan air hujan yang terbuang ke laut dengan membuat sumur resapan air atau lubang resapan biopori. Cara lain untuk melindungi air bersih adalah dengan mengurangi pencemaran air baik oleh limbah rumah tangga, industri, pertanian maupun pertambangan. Dan yang paling penting adalah dengan mencegah sungai atau danau menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah.
Semua hal di atas harus dilakukan secara menyeluruh, berkelanjutan dan sesegera mungkin. Bumi adalah planet yang bisa dihuni oleh manusia dan merupakan satu-satunya planet yang dua pertiga bagiannya diselimuti air. Namun jangan dikira bumi ini kaya akan air justru air yang layak diminum untuk seluruh penduduk yang ada dibumi jumlahnya kurang dari 3 % dari total seluruh air yang ada di bumi sehingga penggunaannya harus dihemat. Setelah mengetahui fakta air tawar yang kita konsumsi sehari-hari sedemikian terbatasnya dan mesti berbagi dengan milyaran penduduk bumi, masihkah kita tidak hemat air? Masihkah kita membuang sampah ke sungai? Masihkah kita menebangi hutan-hutan lindung untuk kepentingan pribadi?
Memupuk Kekayaan Indonesia
26 September 2011 pukul 10:46 am | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentarAkhir-akhir ini berita tentang kekeringan yang melanda sebagian besar kawasan Indonesia semakin menguat. Di Pantura, sebanyak 30 ribu hektar areal persawahan telah mengalami kekeringan. Akibatnya, tanaman padi yang rata-rata berusia antara 4 minggu hingga 8 minggu itu terancam mati. Semestinya tanaman padi pada usia itu sedang membutuhkan air irigasi yang cukup untuk menopang pertumbuhan tanaman memasuki masa bunting. Demikian halnya di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sekitar 48 ribu hektar lebih areal persawahan mengalami kekeringan. Air waduk Jatiluhur, Purwakarta, yang menjadi tumpuan aliran air, mengalir melalui Kali Tarum Barat terus menyusut sejak memasuki musim kemarau. Begitupula di Banten, kekeringan itu antara lain terjadi di Kabupaten Pandeglang salah satunya di Kecamatan Cikeusik yang melanda sawah seluas 126 hektar, Cikedal dan Menes masing-masing 2 hektar sawah. Sedangkan untuk Kabupaten Lebak terjadi di Kecamatan Malingping seluas 262 hektar sawah. Dikabarkan pula sejak sebulan terakhir, debit air sungai yang ada di Banten mulai surut akibat musim kemarau. Akibatnya, untuk mencegah kekeringan, aliran irigasi harus digilir. Meskipun diberitakan bahwa hampir semua wilayah di Banten ini baru terkena kekeringan dan belum ada yang tanaman padi terkena puso. Namun jika ini berkembang terus, akan cukup merepotkan bagi tersedianya ketercukupan pangan nasional. Bahkan, Akibat musim kemarau yang cukup panjang, rumput dan ilalang kering di sekitar Lapangan Terbang Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, hangus terbakar. Kebakaran terjadi pada Sabtu (10/9) malam hingga ribuan meter. Semua ini tentu seharusnya menjadi perhatian kita semua, karena sesungguhnya kitalah yang berkewajiban menjaga alam ini.
Tantangan lingkungan hidup yang paling berat dialami oleh umat manusia di muka bumi ini adalah terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Pola iklim mengalami perubahan akibat kenaikan suhu permukaan bumi. Akibatnya, ada bagian bumi yang curah hujannya berlebihan, ada pula yang malah kekurangan. Kenaikan curah hujan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, makin banyak erosi, serta makin banyaknya tanah longsor. Sedangkan kekeringan yang panjang dan fluktuasi musim yang semakin sulit diprediksi, akan mengancam ketersediaan pangan dan air, sehingga rawan terjadinya kekurangan pangan dan kelaparan.
Indonesia sebagai salah satu negara tropis pun tak luput dari tantangan lingkungan hidup ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terus menerus dilanda bencana yang apabila dicermati bencana tersebut ternyata bersumber dari permasalahan lingkungan dan penanganan yang salah. Tengok saja terjadi banjir berkala yang menyerang Jakarta, gelombang pasang, longsor dan kekeringan sudah menjadi tradisi bencana tahunan yang tidak pernah selesai bahkan tiap tahun makin bertambah buruk. Bencana-bencana itu merupakan akibat dari Pemanasan Global. Pemanasan global yang meresahkan negara-negara di seluruh dunia antara lain disebabkan oleh kelebihan karbondioksida (CO2) di udara yang merupakan sisa-sisa pembakaran dan itu merupakan dampak dari hilangnya sebagian besar hutan dunia yang pohon-pohonnya menyerap karbondioksida tersebut, sehingga suhu meningkat dan gunung es mencair.
Kita sadar pentingnya keberadaan pohon dan hutan untuk mengatasi bahaya dari dampak pemanasan global. Meskipun ancaman kekeringan dimana-mana, namun ternyata pembalak liar tetap bebas berkeliaran. Ditambah dengan ketidakpedulian kepala daerah dengan daerahnya yang terkena kekeringan ini, maka kekacauan panjang yang melibatkan perusakan lingkungan hidup nyaris tak mengenal kata tepi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, manusia harus terus berupaya untuk mengurangi efek pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu dan yang terutama adalah dengan memperbanyak pohon melalui budaya tanam-menanam. Upaya pelestarian hutan dengan penanaman pohon sebanyak-banyaknya dan mengembalikan hutan mangrove harus dilakukan. Ini merupakan aksi konkret dari agenda kegiatan lingkungan hidup. Karena alasan-alasan itulah maka diperlukan upaya mempertahankan keutuhan ekosistem hutan serta melakukan kegiatan penanaman pohon secara besar-besaran. Agenda ini tentu harus didukung oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari stakeholder, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga masyarakat grass root harus turut serta mendukung dan melakukan gerakan nyata ini.
Dijelaskan dalam Canopy.org (2006), setiap pohon yang tertanam mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi lingkungan dan kehidupan manusia. Satu pohon yang besar mampu menghasilkan persediaan oksigen (O2) untuk 4 orang per hari. Jumlah pohon yang tertanam dalam area 4.000 m2 mampu menyerap karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh kendaraan yang berjalan sejauh 26.000 mil, mampu memindahkan sulfurdioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NO). Dua senyawa yang terakhir disebutkan adalah komponen utama dari hujan asam dan polusi ozon. Selain itu, pohon diharapkan dapat menurunkan debu dan asap rokok hingga 75 % pada area yang dinaungi pohon, mengurangi panas dan temperatur di wilayah perkotaan sebanyak 9oC dimana penguapan dari satu pohon dapat menghasilkan efek pendinginan yang senilai dengan sepuluh alat pendingin yang beroperasi 20 jam sehari.
Lalu pertanyaannya, bagaimana menerapkan gaya hidup sehat dan kesadaran menjaga lingkungan hidup ini pada masyarakat yang sesungguhnya belum paham benar? Atau kepada masyakarat yang sudah paham namun enggan turut serta dalam menyukseskannya? Hal ini dapat dijawab dengan pendekatan berbasis kearifan lokal (local wisdom). Dalam ilmu Sosiologi, masyarakat cenderung akan mengikuti apa yang kita sarankan dengan catatan bahwa kita pun mengikuti tradisi yang menjadi kebiasaan yang dianut daerah tersebut. Maka jika kita menginginkan perubahan di suatu daerah maka kita harus jeli melihat apa yang menjadi kearifan lokal di daerah tersebut. Jika kearifan lokal itu berbasis pada satuan geografis, maka bisa dibayangkan betapa kayanya negeri ini. Sebagai contoh, di Bali, sistem Subak mengajarkan keseimbangan, sehingga alam tetap lestari. Begitu pula di Pandeglang dan Lebak yang terkenal dengan adanya sistem tebang pilih. Di Pandeglang khususnya di daerah Ujung Kulon ada penangkaran hutan lindung untuk melindungi badak bercula satu. Ada pula tradisi kearifan lokal yang ada di sebuah desa yang disebut tradisi “nyengkar” yaitu satu tradisi meneliti lahan ketika hendak membuka lahan hutan atau menanam pohon. Tradisi ini dilakukan untuk mengindari banyaknya gangguan alam. Selain binatang buas dan melata ada juga yang mengenai bencana alam seperti longsor. Secara logika, ini kondisi yang menguntungkan bagi alam karena dapat menyelamatkan alam dari kerusakan yang diakibatkan lading berpindah yang banyak terjadi di dalam masyarakat kita.
Berbekal kearifan lokal inilah, kita akan dapat menekankan terlaksananya program pelestarian lingkungan ini. Karena sesungguhnya inilah kekayaan bangsa kita. Dengan ribuan sumber daya alam yang melimpah serta sumber daya manusia yang memegang tradisi nenek moyang yang justru menyelamatkan alam, ini adalah kekayaan yang tak ternilai. Kekayaan yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang dihormati dan disegani bangsa lain. Kekayaan yang saying jika hanya menjadi tontonan. Kekayaan yang justru dari ini semua bangsa lain dapat menghidupi negaranya, sementara bangsa kita hanya menjadi budak sekaligus penonton yang tidak dapat berbuat banyak. Kekayaan yang justru akan menyelamatkan kita dari bencana kekeringan ketika kemarau atau dari banjir ketika musim penghujan datang. Namun sekali lagi, semua ini butuh perhatian dan dorongan dari semua lapisan masyarakat. Masyarakat yang menginginkan perubahan nyata untuk lingkungan hidup yang lebih baik. Maukah kita menjadi bagian dari generasi pengubah itu?
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.