hmmm…
29 Oktober 2009 at 1:50 am | In Hikmah | 7 Commentsterlalu banyak hal yang harus diceritakan.
bingung harus mulai dari mana. tapi yang jelas, semua ini membuatku semakin sadar bahwa hidup adalah apa yang dihasilkan darinya….
Institusi itu bernama Halaqah
8 Juli 2009 at 9:48 am | In Curhat | 6 Comments
Aku heran dengan halaqah para ikhwan yang seringkali tidak stabil, tersendat-sendat, atau apapun namanya yang membuat pertemuan pekanan itu menjadi hambar, tak nge-ruh-i, tak terasa ukhuwwahnya. Tengok percakapan-percakapan ini yang sering kudengar:
“Nggak tau Teh. Udah 1,5 bulan nggak liqo’. Mungkin Murobbinya terlalu sibuk.”
Atau pernyataan:
“Ga’ mau liqo’ lagi ah Mbak, aku Cuma mau belajar Bahasa Arab aja…”
Atau kritikan:
“Liqo’ sekarang beda sama liqo’ yang dulu. Liqo’ sekarang ngomongin politik mlulu. Anti liqo’ kenapa? Disuruh? Liqo’ kok ngomongin politik. Liqo’ ya liqo’, politik ya politik. Betul?”
Atau statement:
“liqo’ itu bid’ah. Terlalu banyak mudharatnya.”
Itu sebagian dari banyak pernyataan yang sering menggelitik dan meninggalkan banyak pertanyaan dalam hatiku. Pernyataan-pernyataan itu baik lewat SMS atau langsung. Sedih. Ya, sedih sekali mendengarnya pertama kali. Betapa tidak? Liqo’ menurutku bukanlah lingkaran kecil tanpa arti yang berisi peserta tidak lebih dari 12 orang dengan seorang Murobbi (pembimbing). Tapi harus ada ruh di sana. Ruh kekeluargaan. Ruh ketafahuman. Ruh tarbiyah yang terus tumbuh berkembang menancapkan keimanan, ketauhidah dan akhlaq yang matin (kokoh).
Jika memang banyak orang yang berharap banyak dari liqo’ untuk mendapat ilmu, pernyataan ini sungguh kurang tepat. Karena liqo’ bukanlah sarana untuk mendapat ilmu agama secara khusus. Namun seharusnya ketika kita liqo’, kita harus termotivasi untuk mendapat ilmu agama yang lebih. Termotivasi untuk mengaji di luar. Berlomba-lomba dalam mencari ilmu. Entah itu kursus bahasa arab, tahfizhul Qur’an, tahsin, kajian fiqh dan sebagainya yang memerlukan keseriusan dan ke-intensif-an. Semua itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim: thalabul ‘ilmi.
Liqo’ juga jangan dijadikan sebagai alat atau sarana untuk mendapat sesuatu. Tapi jadikan liqo’ sebagai sarana take and give. Jika kita punya sesuatu, baik itu ilmu atau pengalaman, bagilah kepada saudara kita. Tak mau kan kita melihat saudara kita tertinggal? Jika kita merasa kurang, maka pro aktif-lah untuk bertanya dan berbagi. Meskipun itu adalah masalah. Bukankah saudara kita punya hak atas permasalahan kita? Bukankah jika mereka dapat memberi solusi, mereka mendapatkan pahala di Sisi Allah? Ah…
Mungkin ada yang berpendapat juga bahwa liqo’ itu bid’ah, banyak mudharat dan sebagainya. Mungkin juga ada yang berpendapat liqo’ hanya buang-buang waktu dan tenaga. Benarkah seperti itu? Ah, mungkin bagi sebagian orang liqo’ seperti kelompok manusia yang hampir tak berarti apapun. Kalo aku sendiri, sering mengumpamakan bahwa liqo’ adalah sebuah kapal yang sedang menyebrangi samudera luas. Lalu di tengah jalan kapal itu bau karena banyak bangkai ikan, kotor dan bocor. Kebocoran itu lambat laun akan menjadikan kapal itu karam. Lalu apa yang akan kita lakukan padahal kita ada di dalamnya dan daratan masih jauh? Apakah kemudian kita akan memperbaiki kapal itu dengan mengeluarkan air lalu menambal kebocoran? Ataukah kita akan mencebur saja ke laut lalu berenang sendiri menyebrangi samudra luas itu?
Itu sedikit filosofi kapal bau itu. Bukankah solusi atas jawaban itu adalah bagaimana kita harus memperbaikinya? Bukan meninggalkannya?
Jika alasan kita tidak mau liqo’ karena tidak punya waktu, coba kita lihat dan cermati hitung-hitungan ini. Dalam 1 hari = 24 jam. 1 pekan = 7 hari. Sehingga 1 pekan = 168 jam. Padahal liqo’ tidak akan menghabiskan waktu 3 jam tiap pekan atau hanya 1,2 % dari waktu kita per pekan. Wooooow…So, masihkah kita beralasan tidak punya waktu?
Terkait dengan banyak qadhaya (permasalahan) yang kadang membuat kurang nyaman, bukankah seharusnya kita jadikan sebagai ajang untuk belajar menjadi problem solver? Bukankah agama ini adalah nasihat? (lihat dan hafalkan hadits arba’in ke-7).
Ayoooo,,,jadikan liqo’ sebagai majlis iman dan ukhuwwah kita…!!!
Kenangan Bersamanya: MIPA Berduka
8 Juni 2009 at 2:50 am | In Hikmah | 4 CommentsAhad, 19 Agustus 2007 jam 23.00
Aku lihat beberapa biodata maba yang berpotensi akan bisa menjadi jundi-jundi DienNya. Kulihat ada sekitar 20-an kelompok putra dan 21 kelompok putri beserta masing-masing pemandunya. Sip!!! Udah fix!! Tinggal mengarahkan di lapangan. Maba yang berpotensi dengan pemandu yang kafa’ahnya tidak diragukan.
Senin, 20 Agustus 2007 jam 06.00
Hari pertama maba ospek. Sebagai koordinator pemandu yang membawahi 83 orang staf, aku harus siap sedia dan memastikan bahwa pemandu benar-benar akan mengarahkan maba agar paham akan perannya. Tak hanya sebagai makhluk individu tetapi juga sebagai agent of change. Sip! Smua dalam kendali..
Kamis, 6 September 2007 jam 16.15
Open rekruitmen KMFM. Banyak maba tertarik masuk kesana. Termasuk departemen yang kuampu. Lagi-lagi kulihat biodata anak-anak baru itu. Sip! Keren2…
Jumat, 21 Sepetember 2007 jam 16.00
Buka puasa bareng. Bertemu langsung dengannya. Kesan pertama: sip!! GeBe banget ni anak…
Sabtu, 29 September 2007 jam 17.00
Training motivasi oleh Pak Reza. Kulihat di presensi ikhwan, dia datang juga. Sip!!
Ahad, 30 September 2007 jam 06.15
Ta’aruf. Alhamdulillah, hanya beberapa orang yang ndak datang. Jadi, departemen yang kuemban bisa dikatakan cukup kompak.
Kamis, 11 Oktober 2007 jam 8.23
Syawalan DS. Dia tidak datang. Ndak apa…
Jumat, 26 Oktober 2007 jam 15.45
Syuro. Perencanaan adanya training motivasi untuk maba. Dia sebagai ketua. Keren!! Syuro-syuro berikutnya dia yang memimpin. SMS terakhirnya:”Mba, kita butuh sound system ga? Untuk nasyid?”. Dengan entengnya aku menjawab:”ndak usah, kita kan tidak menggelar konser nasyid”. Ternyata….
Ahad, 9 Desember 2007 jam 6.15
The show go on!! Smua panitia sudah stand by di tempat. Dekorasi diatur lagi. Konfirmasi pembicara. Membungkus2 snack. Berbagi tugas. Lagi-lagi dia yang memimpin…sip!
Jam 13.15
Evaluasi. Cukup bijak dia menanggapi semua pertanyaan, saran dan kritik. Kami menilai bahwa acara cukup sukses. Diakhiri dengan foto bersama.
Ah, tapi menurutku belum sukses, dan (mungkin) yang tidak membuat sukses adalah aku karena aku dengan seenaknya melarangnya untuk sewa sound system. Padahal ternyata sound system itu amat dibutuhkan, karena pas acara, wireless yang digunakan sempat error…ah..maafkan saya.
Rabu, 26 Desember 2007 jam 16.30
Laporan pertanggungjawaban KMFM secara keseluruhan. Dia banyak bertanya dan memberi saran.
Sekian lama…tidak berkomunikasi dengannya untuk mengurus lembaga karena aku sudah di luar struktur… tapi tetap banyak berdiskusi dengannya. Termasuk aktivitasnya selama ini, akademis, urgensi amal jama’i dan halaqah…
Rabu, 28 Mei 2009 jam 16.34
Aku mengSMSnya untuk mengetahui keadaanya dan keadaan kampus, lalu dia menjawab SMSku: ”emang kemana aja Mbak? Sepertinya kemarin2 liat Mbak mondar mandir di kampus..”
Kujawab SMSnya,”mondar mandir ngurus akademik. Ndak apa2, Cuma pengen tau cerita dari antum…”
Dia membalas,”alhamdulillah masih disibukkan dengan kebaikan.”
Subhanalallah,,,potensi kebaikannya memang tak pernah berubah dari sewaktu aku melihat biodatanya dulu pas maba sampai sekarang…
Kamis, 4 Juni 2009 jam 9.45
Duduk di selasar sambil berdiskusi dengan Yuliza. Dia lewat. Tetap dengan kekhasan GeBe-nya.
Allahu akbar!!! Tak kusangka itulah saat-saat terakhir aku berpapasan dengannya. Meski tanpa senyum, salam ataupun sapa. Pun tak ada syak wasangka bahwa dia akan meninggalkan kami selamanya…
Ahad, 7 Juni 2009 jam 9.00
Rasanya ingin sekali aku datang ke Daurah Tarqiyah 2 itu. Tapi merasakan kondisi yang kurasakan betapa letihnya aku dan keadaan rumah yang cukup berantakan (belum ada makanan pula) memaksaku untuk bertahan di rumah untuk beres2 dan masak. Ya sudahlah, ndak apa…
Jam 18.03
Ba’da shalat Maghrib. Ada motor datang, ternyata Pu dan Devy. Datang membawa kabar duka:
Innalillahi wa inna ilayhi raji’uun… telah berpulang ke Rahmatullah Rifqi Yudhistira Anugrah Perkasa (Eki). Mahasiswa Ilmu Komputer angkatan 2007. Kepala Divisi Riset dan Teknologi BEM KM MIPA UGM. Adikku yang pintar, bijak, dewasa. Seseorang yang sering mengingatkan masa-masa kebersamaan kami di DS. Yang sering mengingatkanku tentang pentingnya dan gunanya waktu….
Allahu akbar… tenggorokanku tercekat. Lidahku kelu. Air mataku tak terbendung. Tubuhku yang masih menyisakan keletihan semakin membuatku runtuh….
Jam 18.39
Di RS Panti Rapih. Sudah banyak ikhwah di sana. Almarhum di kamar jenazah. Aku segera menemui petugas untuk meminta izin melihatnya. Ternyata semua teman2 mengikutiku.
Jam 18.45
Kupandang wajah bersinar itu. Tenang. Ada dingin menjalar ke tubuhku. Tak terbendung lagi tangis kami. Allahu akbar!! Akankah aku juga seperti itu?
Senin, 8 Juni 2008 jam 10.15
Takziah. Bermotor kami akan menuju rumah Bu Liknya di Banguntapan, Bantul. Menyalatkan dan mengantarnya ke tempat peistirahatan terakhir…
Sayup-sayup kuingat Surat al Fajr 27-30
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah (hai jiwa yang tenang)
Irji’ii ilaa rabbiki radliyyatammardliyyah (kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas dan DiRidhaiNya)
Fadkhuli fii ’ibadi (masuklah ke dalam jama’ah hambaKu)
Wadkhuli jannatii.. (dan masuklah ke JannahKu)
Selamat jalan, Akhi… temui Rabbmu dengan hati yang tenang dan DiRidhaiNya…
Cepat atau lambat, aku pun akan menyusulmu…
”Dan janganlah kau kira bahwa orang-orang yang gugur di Jalan Allah itu mati, sesungguhnya mereka hidup di Sisi Rabb-nya dengan mendapat nikmat.” (QS Ali Imran: 169).
Senin, 8 Juni 2009 jam 06.48
Di kamarku tercinta. Teriring doa untukmu…

Atas ki-ka: aku, Akhlis, Winda, Ispri, Fika
Bawah ki-ka: Eki, Reza, Ibnu, Yulianto, Luqman, Panji, Yuhendri, Adi


Eksponensial Tersembunyi
3 Juni 2009 at 2:12 am | In Tulis Iseng | Leave a Comment
Sorot mata elangmu tajam
Lisanmu luwes berkata-kata, tak bermuka masam
Menghasilkan nada-nada signifikan, bukan diperam
Simfoni bayu mewarnai hari-harimu yang kadang muram
Jauhkan pikiran dari maya dunia
Beri makna setiap peristiwa
Akankah sinus cosinus memberi suka?
Menikmati jenak-jenak tawa kita?
Tingkahmu memberi arti
Kadang pula memberi motivasi
Mengalahkan ego diri
Yang kadang ingin ongkang-ongkang kaki
Memang beginilah
Capek, letih, lelah
Tapi sudahlah….
Kau memang selalu mengisi atrium kardiograf sekolah…
Buat seseorang di Fisika 07:
Kamu keren banget De…Lanjutkan!!! Olimpiade Fisika Internasional menantimu.
ditunggu kabar baikmu…
Kembali…
22 Mei 2009 at 2:36 am | In Hikmah | 3 Comments
“Aku ingin kembali menjadi orang baik” seseorang mengatakan begitu padaku Selasa lalu. Bak setetes embun membasahi hatiku. Haru.
“Aku sadar, bahwa selama ini aku berjalan di jalan yang salah. Aku ingin ikut pengajian. Kamu tau ga’ dimana saja pengajian yang bagus?” Seseorang lain yang berkata sebulan lalu. Ah, banyak sekali ukhti, mari bersamaku..
“Aku ingin ketika aku mati, orang menilaiku cukup dengan satu kata saja: baik” mutarobbiyahku mengatakan itu seminggu lalu
“Aku ingin menjadi orang biasa-biasa saja.” ada lagi yang mengatakan ini beberapa bulan lalu
“Aku ga’ mau mentoring lagi. Aku terlalu sibuk untuk itu semua.” Seseorang yang merasa kecewa dengan mentoring mengatakan itu.
“Siapa kamu? berani-beraninya ngomong gitu!!” Terkejut aku demi kata-katanya. Seseorang yang sudah kuanggap bagian dari da’wah ini. Husnuzhan, mungkin dia sedang kacau pikirannya.
“Mana bagianku?!!” Seseorang pencari dunia merongrong Ibu.
“Ah, agama itu candu. Tak usahlah kau terlalu fanatik begini. Apa-apaan ini, kerudung atau seprei?” Seseorang lagi mengatakan kepahitan dalam menuju jalan Rabb.
Yah, itu hanya gambaran kecil saja dari dunia saat ini.
Ada yang ingin kembali menata dirinya, menata amalnya, menata masa depaannya yang kelak. Mejadikan Ridha Allah sebagai tujuannya. Ada pula yang ingin lepas dari orientasi akhirat untuk mendapat dunia. Masya Allah…
Ada yang akselerasi amal nyatanya bagus, life management dan softskillnya melesat jauh meninggalkanku. Ada juga yang jalan di tempat (semoga bukan aku salah satunya). Bahkan untuk menerima keadaan orang lain begitu sulitnya.
Ada yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya sehingga hari-harinya dinikmati sekali. Tak ada beban dalam hidupnya. Semua dilalui dengan senyum. Ada juga yang hatinya teras begitu sempit. Sehingga cobaan sekecil apapun, selalu dikeluhkan. Kata-kata yang diucapkan hanya keluhan, sindiran, cemoohan…
Ada yang merasa diri hina, lalu dia merendahkan diri serendah-rendahnya hanya pada Rabbnya. Tersungkur di atas sajadah. Hingga wajahnya adalah wajah ’sajadah’. Hingga hari-harinya selalu diisi dengan berbuat ihsan dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Namun ada juga yang merasa dirinya hebat hingga apa yang dimilikinya tak boleh ada yang mengambil. Bahkan oleh Tuhannya sekalipun. Dia merasa hidupnya cukup hanya dengan syahadat. Tok till itu saja. “Kan udah Muslim. Harta ini kan aku yang mengusahakan. Bukan Tuhan atau orang lain.” Begitu katanya. Ah,, sungguh perniagaan yang merugikan.
Pfiuh,,, mendengar kata-kata orang yang kufur nikmat membuat kita gerah. Lebih baik mendengar kata-kata yang penuh hikmah ini yuk?
“Aku ingin melihat Rabbku Tersenyum dan Menyambutku penuh rindu….” Tadi malam seseorang telah mengakhiri pembicaraan kami dengan tetesan air mata.
Hening…
Dan alampun bertasbih, tunduk, sujud penuh ketaatan PadaNya…

You’re Not Alone Now (Part 2)
16 Mei 2009 at 3:25 pm | In Hikmah | Leave a Comment
satu lagi ukhti satu forumku menggenapkan setengah diennya..
tapi beliau harus ikut suaminya ke Mataram,,, awal Juni besok beliau berdua berangkat,,,
slamat tinggal, sahabatku…

punya 2 ummahat di forum pekanan…
Kematian
15 Mei 2009 at 4:37 am | In Hikmah | Leave a Comment

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga naka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali Imran: 185)
Selalu saja ketika membaca terjemah ayat ini aku terhenyak. Mengingat-ingat beberapa kasus kematian yang menimpa beberapa orang di sekitarku (termasuk beberapa orang hebat yang kukenal selama di kampus) dan simulasi kematian yang kulakukan setiap malam. Tidur maksudku. Tidur itu simulasi kematian bukan?
Bagi sebagian orang kematian ditunggu dan dinanti. Para pejuang bom syahid misalnya. Mereka memilih mati berurai bersamaan dengan bom yang melilit di tubuh mereka dengan para zionis itu…dengan segenap keberaniannya mereka lawan zionis itu. Atau Umi Sumayyah sang syahidah pertama yang memilih mati daripada menyekutukan Allah dengan menuruti kata-kata si ”ahlunnaar” Abu Jahal.
Namun bagi sebagian orang, kematian adalah hal yang amat sangat menakutkan hingga mereka overprotective terhadap apa yang ada di dalam kehidupan mereka. Fir’aun misalnya, ia telah menumpuk harta dan tahta hingga keluarlah kata-katanya: ”akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS An Nazi’at: 24). Maka apa yang diperintahkannya adalah sangat tak wajar dan tak logis: ”bunuh semua bayi laki-laki yang lahir!” hal ini bertujuan agar tahtanya tak jatuh pada laki-laki lain. Padahal mati adalah hal yang pasti (seperti yang Allah firmankan pada ayat di atas). Dan akhirnya Fir’aun juga mati bukan? Bahkan cara matinya sungguh mengenaskan dan dalam keadaaan su’ul khatimah: tenggelam di laut. Meski kemudian jasadnya ditemukan, itu semua semata-mata agar menjadi pelajaran bagi kita: bahwa kematian adalah PASTI!!!
Bahwa hanya dengan perintah seperti yang difirmankan Allah ini kita bisa selamat:
”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (QS Ali Imran: 200)
Dan tiada yang bisa kita katakan kecuali:
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau Menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa api neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau Masukkan ke dalam neraka maka sungguh telah Engkau Hinakan ia dan tidak ada bagi orang-orang zhalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu), ’Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau Janjikan kepada kami dengan perantaraan-perantaraan Rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali Imran: 190-194)
Apa yang kita ingin dengarkan tentang kesan orang lain terhadap kita selama hidup ini? Baca, pikirkan, amalkan, ajarkan…
”hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Hasyr: 18)”
Siapkah kita dengan kematian kita?
_117745_
aku hanya ingin dikenang orang dengan 1 kesan : Qur’ani…

Qurrota A’yun
4 Mei 2009 at 4:10 am | In Hikmah | 6 Comments
Dari dulu ingin sekali aku posting tentang anak-anak. Entah apa yang ingin kutulis tentang mereka, tapi yang jelas tak pernah ada duka di mata mereka. Meski entah himpitan hidup terkadang melenakan dan menghilangkan nurani orang tua yang ada di belakang mereka. Lihat mereka, pandang wajah mereka, tembus kedua bola mata mereka. Pernahkah kau melihat betapa mereka begitu menyebalkan? atau mereka membuat kita kesal? Mereka menakutkan kita tidak? sama sekali tidak bukan? Yang ada hanya gembira, riang, canda, tawa dan mungkin kadang tangis karena bertengkar dengan teman sebayanya. Tapi tenang saja, mereka tak pernah menyimpan dendam, mereka tak pernah marah lama, mereka tak pernah dengki, mereka tak pernah bohong. Kita?


lagi maleeess
21 April 2009 at 3:37 am | In Curhat | 4 Commentsapa ya obatnya kalo lagi males begini??

- cari inspirasi -
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



