Last Moment

17 Nopember 2008 at 2:09 am | In Hikmah |

 

Selalu ada kenangan dalam setiap peristiwa dalam hidup kita. Begitu juga aku. Ketika peristiwa-peristiwa itu diabadikan, sesungguhnya kita telah belajar mengabadikan sejarah. Sejarah hidup kita bersama orang-orang tercinta. Itu yang sedang kurasakan sekarang. Saat merenungkan sejarah hidupku. Flash back mengingat bagaimana aku mengarungi samudra kehidupan ini (ciee..bahasanya berat!!!).

Ketika pertemuan ada, maka kita harus siap dengan segala konsekuensinya: perpisahan. Ya, perpisahan. Satu kata yang mungkin bagi sebagian orang sangat tidak disukai karena kepedihan yang dihasilkan darinya. Mungkin aku juga.

Cerita ini diawali dengan keputusanku untuk bersekolah di sebuah SMANSA Serang. Yang banyak diincar orang (padahal apa ya yang bisa dibanggakan?? Hehehe..). karena jauh dari rumah, aku nge-kos di kos-kosan belakang sekolah. 3 tahun di sana cukup membuatku punya gambaran bagaimana rasanya jauh dari orang tua. Bersama teman-teman dan Teteh-teteh (yang sekarang udah jarang komunikasi karena kesibukan masing-masing) aku berusaha menjalani kehidupan SMA yang katanya penuh warna dan dinamis. Dan memang benar, aku yang kala masuk SMA benar-benar ga’ tau apa-apa, jadi sedikit paham tentang eksistensi diri kita sebenarnya: kita ternyata harus kuat!!! Sedikit demi sedikit aku belajar. Ada Teh Igi, Teh Wanti, Teh Citra, Teh Fiya, Teh Fika, Teh Dede, Teh Lilis, Teh Susi, Teh Fre, Ima, Anis, Iis, Rani yang menemani bagaimana rasanya kita bertahan di tengah goncangan hidup yang kini tengah melanda dunia. Aku pun melewati masa remaja dengan penuh cerita. Bandel, nakal, canda, tawa, nangis, marah, kesal, bingung semua rasa ini pasti ada. Tapi aku adalah imas yang saat itu kelas 2 yang bandel dan keras kepala, mengambil satu keputusan yang lumayan mencengangkan banyak orang: Berhijab!!! Tapi ternyata aku belum tau apa artinya berhijab. Hanya ikut-ikutan saja. Tapi orang lain melihat dari kebandelanku itu dengan kacamata yang berbeda, sehingga dia melihat itulah potensiku. Dengan pendekatan berbeda, dia mulai menyentuh hatiku. Hingga memang benar jika sebuah batu dikucuri air terus menerus akan terlihat juga bekasnya. Aku perlahan-lahan paham untuk apa sih kita hidup??? Itu baru ku ketahui akhir masa SMA yang saat itu pula aku telah diterima di Kimia UGM lewat UM. Hmmm…Hidup itu memang misteri ya??

Awal kuliah pun masih ku lalui dengan masa-masa kebandelan yang tidak pernah habisnya. Hingga seseorang dengan sangat sabarnya mengajarkan bagaimana hidup ini harus diisi. Tahun kedua (tepatnya semester 3 akhir) aku paham dengan makna da’wah. Lagi-lagi aku terlambat dengan semua makna hidup ini. Tapi tak apa-apa yang penting kita istiqamah…

Hmmm… Itu sedikit gambaran kenapa aku sekarang sering berada di luar rumah. Karena da’wah mengajarkan bahwa kita harus terus bergerak. Bergerak mengajarkan kebaikan, mereduksi kebatilan, mengharap Ridha-Nya. Meski kadang harus ada yang dikorbankan. Dan itu benar-benar mengorbankan waktuku di kos. Aku jarang di kos kecuali malam hari. Maka, lagi-lagi aku terlambat menyadari bahwa sebentar lagi aku akan kehilangan keluarga keduaku yang sangat kusayangi saat ini, karena aktivitasku di luar.

Dan cerita sedih ini diawali keputusanku untuk pindah kos untuk menemani Bu Zahara, dosen Fisikaku dulu. Beliau tidak memiliki putra namun punya rumah yang besar. Sehingga rumah itu terlihat sangat sepi dan Ibu meminta aku dan 3 temanku (mahasiswi MIPA) untuk tinggal di sana. Sekalian mengurusi yayasan di sana. Aku merasa bahwa ini adalah batu lonacatan untukku untuk belajar. Belajar mengatur waktu, uang, lembaga, orang lain dan tentu mengatur diriku sendiri agar lebih produktif. Dan itu adalah keputusan yang berat namun harus ku jalani…insya Allah pilihan ini telah kupukirkan masak-masak baik-buruknya. Bismillah,, jadikan setiap nafas kita adalah untuk ibadah dan belajar..!! (wait for next story about my new family on Pamungkas Street…)

 

Masih belum ada komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

You must be logged in to post a comment.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.