Go To Hell!!!!!

31 Desember 2008 at 4:06 am | In Curhat | Leave a Comment

dalam 3 hari ini, kami turun ke jalan. AKSI!!! menuntut perbuatan dan melaknat perbutan zionis itu!!

wahai Zionis!! enyahlah kau dari muka bumi!!!

 

aku marah besar!!!!

postingan terpendek tapi dengan beribu tanya dan kegelisahan di hati

Belajar membaca Al Qur’an yuk??

22 Desember 2008 at 1:05 am | In Hikmah | 2 Comments

 Membaca Al Qur’an dengan benar dan fasih adalah wajib hukumnya, oleh karena itu wajib bagi setiap Muslim untuk melaksanakannya. Talaqqi (membaca secara langsung dengan bimbingan seorang guru Al Qur’an) adalah cara yang paling efektif. Ada 3 hal pokok yang sangat penting untuk dikuasai, yaitu Makharijul Huruf (cara pengucapan huruf Hija’iyah), Ghunnah (dengung) dan Mad (bacaan panjang). Nah, yang sekarang harus kita lakukan adalah membuka Al Qur’an (khusus Juz ‘Amma dulu deh…) trus dilihat tuh huruf-hurufnya. Kadang kita membaca seperti yang kita dengar bukan?? Padahal banyak terdapat kesalahan-kesalahan lho!! Nah, kita mulai dari Makharijul Huruf yuk?? J

  1. Makharijul huruf (cara pengucapan huruf Hija’iyah). Coba praktekkan sendiri dulu ya…trus untuk pelafalan yang benar, ikuti Murrotal di kaset atau MP3 (sekarang kan makin mudah..) awalnya memang terasa susah, tapi kamu pasti bisa!!!

 

No

 

Huruf

 

Cara pengucapan

 

1

Alif

Seperti huruf A, mulut terbuka sempurna

2

Ba’

Seperti huruf B, tidak boleh disertai keluarnya nafas

3

Ta’

Ujung lidah menempel di gusi atas, lidah tidak boleh keluar

4

Tsa’

Ujung lidah sedikit dikeluarkan

5

Jim

Seperti huruf J, tidak boleh disertai keluarnya nafas

6

Ha’

Seperti suara pernafasan/suara pedas (bersih dan nyaring)

7

Kho’

Suara agak kasar/kho

8

Dal

Tidak boleh disertai keluarnya nafas

9

Dzal

Ujung lidah sedikit dikeluarkan, tidak boleh dibaca Za (Z)

10

Ro’

Seperti huruf R

11

Zai

Seperti huruf Z

12

Sin

Seperti huruf S

13

Syin

Suara angin menyebar dengan kuat

14

Shod

Seperti huruf Sin, namun tebal / Sho (Sholat)

15

Dhad

Sisi lidah menempel pada gigi geraham

16

Tho’

Seperti ta, namun lebih kuat dan tidak boleh keluar nafas

17

Zho’

Seperti makhraj Dza, namun tebal dan tidak boleh dibaca Zo (Z)

18

‘Ain

Suara A dengan ditekan

19

Ghain

Seperti suara G, namun lemah

20

Fa’

Seperti huruf F, disertai keluarnya nafas

21

Qof

Seperti huruf Q, tidak boleh disertai keluar nafas

22

Kaf

Seperti huruf K, disertai keluar nafas

23

Lam

Seperti huruf L, lidah tidak boleh keluar

24

Mim

Seperti huruf M

25

Nun

Seperti huruf N

26

Wawu

Seperti huruf W

27

Ha’

Seperti huruf H, ada aliran nafas dari hidung

28

Ya’

Seperti huruf Y
  1. Ghunnah (dengung)

Nah, kalo yang ini artinya suara yang keluar dari rongga hidung (sengau). Cara membacanya dengan harus ditahan sampai dengan 3 harokat. Rumus bacaan jelas dan dengung di Mushaf cetakan Timur Tengah adalah sebagai berikut:

  1. jelas/izh-har, yaitu:

    • nun dan mim mati yang ditandai sukun (lihat di Al Fatihah ayat 7),

    • tanwin fathah atau tanwin kasrah yang sejajar (lihat di Al Ikhlas ayat 4 dan Al Falaq ayat 3)

    • tanwin Dlommah dengan ditulis dlommah satu disertai tanda tutup (lihat di Al Qodr ayat 5)

  2. dengung/ghunnah, yaitu:

    • Nun dan Mim yang brtasydid (lihat di An Nas ayat 1),

    • Nun dan Mim mati yang tidak ditandai sukun (lihat di An Nas ayat 4 dan Quroisy ayat 4),

    • Tanwin fathah dan tanwin kasrah yang tidak sejajar (lihat di Al Lahab ayat 1 dan 3)

    • tanwin dlommah dengan ditulis dlommah dobel (lihat di Al Lahab ayat 5).

Ada pengecualian: apabila Nun Mati/tanwin bertemu dengan Lam-Ro maka tidak ada dengung/tidak boleh ditahan lama-lama (lihat di Al Ikhlas ayat 4 dan Al Humazah ayat 1)

 

  1. Mad (Bacaan Panjang)

Inti di dalam hokum/bacaan mad ayang berjumlah 16 macam itu hanya 3 macam:

  1.  
    1. panjang 2 harokat (sekedar buka – tutup jari) yaitu ketika ada huruf mad sesudahnya bukan hamzah tasydid/sukun, termasuk ketika waqof (berhenti), lihat di ‘Abasa ayat 1

    2. panjang 4 harokat yaitu ketika ada tanda mad (~) sesudahnya berupa hamzah (lihat di Al Kafirun ayat 1-5, Al Kautsar ayat 1 dan Al Humazah ayat 3)

    3. panjang 6 harokat yaitu ketika ada tanda mad (~) sesudahnya berupa tasydid (lihat di Al Fatihah ayat 7)

 

trus, kesalahan yang sering terjadi pada saat membaca Al Qur’an adalah:

  1. membaca mantul pada bacaan yang bukan qolqolah (Ale Hamdu)

  2. membaca dengung kurang lama

  3. membaca mad yang seharusnya 2 harokat menjadi 3 harokat

  4. membaca mad yang seharusnya 4 dan 6 menjadi 2 harokat

  5. memutus penggalan setiap lafadz sehingga seperti membaca mad

  6. kurang penekanan pada huruf mati atau bertasydid (lihat di ‘Abasa ayat 33)

 

semoga postingan ini ada manfaatnya… ^_~

 

* diambil dan diubah seerlunya dari buku Bimbingan Talaqqi Tahsin Tilawah – Tahfizh Al Qur’an oleh H. Ahmad Muzzammil MF

 

 

Untuknya Seorang

22 Desember 2008 at 1:01 am | In Hikmah | Leave a Comment

 Satu kali beliau berkata begini;

Maafkan, Mamah suka membicarakan masalah kuliah kamu karena kamu kuliah di Jogja, bukan karena apa-apa, tapi ibu mana sih yang ingin jauh dari anaknya?’

Kali lain berkata:

Kamu adalah harapan pertama Mamah…”

Yang membuatku semakin terharu:

Jangan pernah merasa bersalah, namun harusnya kamu bersyukur bisa mewujudkan cita-cita kuliah di Jogja. Semoga menjadi contoh untuk adik-adikmu.”

Dan yang membuatku bangkit:

Jangan pernah berpikir suksesmu untuk membiayai adik-adikmu. Tidak, tidak usah! Mamah masih bisa biayai adik-adikmu. Pikirkan kamu sendiri”.

Pernah pula:

Yang penting lulus dulu, kerja barang setahun atau dua tahun, punya “calon” yang cocok, segera menikah sehingga Mamah dipanggil Nenek…”

Dan yang selalu diucapkannya ketika aku meminta doanya:

ya, didoakan sekali. Semoga urusanmu lancar…”

Dan kepergianku dari rumah selalu diiringinya dengan mata yang basah. Air mata mengaliri pipinya yang mulai keriput.

Ah, betapa rindunya aku pada sosok sahajanya. Sosok tegas dan disiplinnya (yang kemudian kini menurun padaku). Sosok lapang dadanya. Sosok cerianya. Supelnya. Betapa besar dedikasinya untuk sel terkecil dalam masyarakat ini. Terbayang masa-masa sulit dalam kehidupan kami hingga usiaku menginjak remaja… terbayang semua ceritamu tentang masa lalunya yang penuh kepahitan… terbayang masa-masa aku belajar masak dengan ogah-ogahan kaena aku lebih tertarik berenang di laut atau memancing hingga kulitku terbakar matahari. Terbayang saat aku sakit, betapa perhatiannya tak pernah lepas dariku..

Mamah, selamat Hari Ibu. Ucapan tidaklah sebanding dengan apa yang telah kau lakukan selama ini untukku. Doaku selalu ada untukmu…

 

Dan Tuhan-mu telah Memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di anatara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka dengan penuh kesayagan dan ucapkanlah,”Wahai Tuhan-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS 17-23-24)

 

Menang!!!!

19 Desember 2008 at 1:40 am | In Hikmah | Leave a Comment

Sujud syukur kami semua PadaMu, Ya Rabb..

amanah di depan semakin nyata

semakin berat

ini adalah tantangan bagi kami semua…

bantu kami, Ya Rabb…

 

Qadar menang!!

Bunderan menang!!!

Intifadhah

12 Desember 2008 at 12:48 am | In Curhat | Leave a Comment

intifadhah…

ketika batu-batu melawan badak-badak terbuat dari baja dan besi.

Suatu kali di kamp pengungsian Jalazoun, anak-anak membakar ban ketika sebuah mobil menepi. “Pintu dibiarkan terbuka, dan empat pria (pemukim Israel maupun tentara berpakaian preman) melompat keluar, menembak membabi buta ke segala penjuru. Anak-anak di samping saya tertembak di punggungnya, peluru keluar dari pusarnya…   

ya Rabbi, Engkau yang Maha Melihat, Engkau yang Maha Adil menilai smua ini. Tak kan Kau biarkan tanah suci ini terinjak oleh kaki-kaki terlaknat itu bukan?

190          191

192

203

203b

 

 

9 Desember 1987. aku baru berusia 5 bulan 27 hari ketika peristiwa terjadi.

katakan padaku, apa yang bisa kulakukan untukmu?

Peluang Menang?

9 Desember 2008 at 1:42 am | In Hikmah | Leave a Comment

Jika kita melempar undi mata uang logam, maka permukaan mata uang yang akan nampak (muncul) tidak dapat ditentukan sebelumnya. Jadi, munculnya salah satu permukaan mata uang yang diharapkan masih merupakan suatu kemungkinan. Demikian juga jika kita melempar undi sebuah dadu maka mata dadu berapa yang akan muncul tidak dapat ditentukan sebelumnya.

Pada umumnya, kejadian-kejadian yang akan datang tidak dapat dipastikan atau dengan istilah lain masih merupakan suatu kemungkinan. Perhatikan pernyataan berikut ini.

  1. Melihat kesungguhan Hadi dalam belajar, maka ia memiliki kemungkinan besar untuk berhasil.

  2. Jika hari ini seorang pedagang memperoleh keuntungan besar, mungkinkah besok akan memperoleh keuntungan yang besar lagi?

  3. Apakah kesebelasan A yang tidak diperkuat pemain asing memiliki peluang untuk mengalahkan kesebelasan B yang diperkuat beberapa pemain asing?

  4. Jika kita mengikuti arisan, mungkinkah kita akan mendapatkan arisan yang pertama kali?

Dari contoh-contoh di atas, ternyata istilah kemungkinan atau peluang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling banyak menggunakan istilah kemungkinan atau peluang adalah bidang permainan, undian dan judi. Hal ini disebabkan bahwa teori kemungkinan atau probabilitas lahir di meja judi kira-kira 300 tahun yang lalu (abad ke 17).

Beberapa ilmuwan seperti Pascal, Laplace, Fermat dan Gauss mengkaji bagaimana suatu permainan khususnya judi jika dihitung nilai kemungkinannya untuk menang maupun untuk kalah, tetapi bukan untuk berjudi, melainkan untuk dikembangkan sebagai ilmu pengetahuan, yaitu teori kemungkinan atau teori peluang sebagai salah satu cabang dari Matematika. Oleh sebab itu, contoh-contoh maupun soal-soal pada teori peluang kebanyakan menggunakan alat-alat judi seperti dadu, kartu dan lain-lain, dengan harapan setelah mempelajari teori peluang maka kita menyadari bahwa berjudi itu tidak baik, karena kemungkinan kalah lebih besar daripada menang.

Hal ini tidak berlaku untuk Pemira (Pemilihan Umum Raya) UGM kali ini. Semua orang memiliki peluang yang sama untuk menang dan kalah. Maka, dinamisasi perpolitikan kampus kini semakin memanas. Saling bersaing merebut suara. Tinggal usaha yang dilakukan bagaimana? Visi, misi, strategi dan program setiap peserta sudahkan matang dan dipublikasikan? Sudahkan hal ini masif di setiap Fakultas? Sudahkan menghimpun suara mahasiswa dan memperkirakan yang akan mendukung? Karena dengan memperkirakan pendukung, kita akan dapat melakukan memperkirakan kondisi dan peluang kemenangan. Dan dengan memperkirakan kondisi, kita dapat melakukan treatment yang berbeda dengan kondisi yang berbeda.

 

Buat Bunderan:

Jaya selalu!!! Innallahu ma’ana…

 

Sepeda Onthel

2 Desember 2008 at 2:21 am | In Tulis Iseng | 8 Comments

 

Ada yang tau sepeda onthel? Itu tu sepeda khasnya orang-orang Jogja. Kalo kita mo menelusuri sejarah dari sepeda onthel itu, niscaya kita akan berkerut kening karena kondisi saat ini amat sangat berbeda jauh sekali dengan masa-masa kejayaan sepeda onthel dahulu kala. Yah, setidaknya dalam kurun waktu 10-20 tahun ini sepeda onthel sudah semakin termarginalkan. Tergantikan oleh bebek-bebek besi yang dengan seenaknya telah membuat langit Jogja tak lagi ramah (sehingga tadi malam aku tak bisa melihat keajaiban bulan dan 2 bintang yang membentuk senyum). Sepeda onthel yang zaman dulu menjadi sarana transportasi itu kini hanya menjadi penghias di gudang-gudang rumah keraton. Kenapa bisa? Karena semakin hari orang semakin sibuk dengan urusannya. Seakan berpacu, berlomba, bertanding dengan waktu yang ada. Tidak ada kata membuang-buang waktu, sehingga dicarilah alat yang dapat membantu urusan mereka dengan cepat. Ya salah satunya adalah dengan menggantikan sepeda onthel ini dengan alat yang lebih cepat kinerjanya. Sang bebek besi tentunya…

Bandingkan kondisi jakal saat ini dengan (setidaknya) 5 tahun yang lalu deh… wuih, motor tu banyaaaaak bgt. Ga berhenti datang dan pergi. Pusing aku liatnya….

Nah, kembali ke sepeda onthel, menurut sejarah, Sepeda Onthel atau juga terkadang disebut sebagai sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi yang biasa digunakan oleh masyarakat perkotaan sampai tahun 1970-an. Berbagai macam merek sepeda onthel beredar di pasar Indonesia, pada segmen premium terdapat merek Gazelle (Belanda) dan Simplex (Belanda), kemudian segmen dibawahnya diisi oleh beberapa merek terkenal seperti Raleigh, Humber, Fongers, Batavus, Phillips, Foster. Sepeda ini mempunyai klasifikasi gender yang tegas antara sepeda pria dan sepeda wanita, kemudian memiliki 3 varian ukuran rangka standar yakni 57, 61 dan 66 cm. Kemudian pada tahun 1970-an keberadaan sepeda onthel mulai digeser oleh sepeda jengki yang berukuran lebih kompak baik dari ukuran tinggi maupun panjangnya dan tidak dibedakan desainnya untuk pengendara pria atau wanita. Waktu itu sepeda jengki yang cukup populer adalah merek Phoenix dari China. Sepeda jengki sendiri kemudian pada tahun 1980-an mulai digeser oleh sepeda federal atau MTB sampai sekarang. Sepeda Onthel kemudian secara perlahan lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan sampai sekarang. Akhirnya ketika kemudian sepeda onthel karena usianya menjadi barang yang bersifat antik dan unik, mulailah situasi berbalik. Sepeda onthel yang dulunya terbuang, sekarang pada tahun 2000-an justru diburu kembali oleh semua kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa sampai pejabat. Orang Jawa mengatakan inilah “wolak-waliking jaman”. Sepeda onthel (onthel = kayuh, bahs. jawa) adalah suatu jenis sepeda yang kebanyakan dipakai di pedesaan Jawa, selain juga jengki. Bedanya secara spintas, onthel nampak begitu besar, gagah dan keren, sedang jengki nampak lebih kecil, simple dan lebih luwes. Onthel pada jamannya dulu sering dipakai para administratur Belanda ketika menyusuri kebun tebu di bilangan Godean, Wates dan Bantul. Seragam putih dan topi putih selalu menyembul dari kejauhan saat administratur mendekat, tentu saja disambut oleh kengerian luar biasa oleh para bocah pencuri tebu. Bisa dipastikan mereka akan tunggang langgang melihatnya. Chepas, fotografer pertama di koloni Indonesia, merekam pula jejak sepeda onthel ini ketika jadi tunggangan para tuan tanah. Keranjingan masyarakat terhadap sepeda onthel adalah tepat bersamaan dengan berkembangnya ancaman global warming. Bisa jadi ketika, BBM semakin mahal dan polusi udara semakin tidak terkendali, komunitas sepeda onthel akan menjadi salah satu garda terdepan untuk mensosialisasikan kembali pentingnya naik sepeda. Sepeda yang dulunya dianggap kuno dan udik, barangkali akan kembali menjadi alat transportasi utama di masa mendatang.

Sekarang, aku pun merasakan bagaimana rasanya naik sepeda onthel punya Ibu. Ternyata asyik juga lho!!! Yah, setelah kepergian Yayangku Jumat siang kemarin di parkiran MIPA Utara oleh Kid, Sang Pencuri. Koq bisa ya? Ya bisa-lah. Tangan mereka kan sudah terampil mengambil barang yang bukan hak mereka. Biarlah Yayangku dibawa orang. Biar si pencuri itu luput dari pandanganku, pak Satpam atau siapapun, tapi dia tak akan luput dari Penglihatan Allah…

Yang Biasa Terjadi pada Mahasiswa

2 Desember 2008 at 2:15 am | In Hikmah | Leave a Comment

 images

Entah ini mitos atau apapun, tapi ini sungguh-sungguh terjadi. Memang hanya pengamatanku dan hipotesisku yang sederhana dan mungkin terlalu men-generalisasikan suatu masalah. Tapi, menurutku tak ada salahnya waspada dan berhati-hati bukan?

Yang biasa terjadi pada mahasiswa, sekali lagi ini benar atau tidak. Dan ini juga mungkin terjadi pula pada orang-orang non mahasiswa.

Pertama, mitos setiap mahasiswa pasti akan merasakan kehilangan Handphone. Aku sudah merasakannya Februari lalu. Asih, Afri, Dining, Mba Tyan, Ika Kusuma, Ika Dwi dan sederet nama teman-temanku yang merasakan bagaimana lost contact dengan orang-orang karena HPnya hilang. Bukan HPnya yang disayangkan hilang, tapi daftar nomor-nomor telepon penting yang ada di dalamnya. Ini yang menyebabkan lost contact. HPku hilang di lab. Menurutku ini cara hilang yang intelek (narsis!!!), mahasiswa bgt gitu lho!!! Lha, teman2ku seringnya hilang di tempat-tempat yang ga’ ada hubungannya dengan aktivitas mahasiswa je…. Entah itu di Mall-lah, bis-lah, kos-lah… tapi tetep aja malah ini membuat seribu tanya: koq bisa di lab ilang??? Teledor yak?? J

Kedua, mitos bahwa setiap mahasiswa akan merasakan kecelakaan pada saat mengendarai motor. Yah, secara…mahasiswa sekarang lebih banyak pake motor daripada sepeda yang ramah lingkungan dan setidaknya prosentase kecelakaannya kecil, karena dapat menghindarkan diri dari kecelakaan. Aku merasakan kecelakaan motor ini Mei lalu sepulang outbound di Wonolelo, Magelang akibat aku tertidur beberapa detik ketika mengendarai motor!! Akhirnya aku dengan sukses menabrak trotoar dan aku terlempar sekian meter dari motor! Kecelakaan ini sampe meninggalkan luka bekas 2 jahitan di keningku. Dulu dijahit karena bocor!!! Wah, jadi keren dah!! Hampir satu pekan aku tak kuliah karena kecelakaan itu. Memulihkan lebam-lebam di badanku sekaligus mengeringkan luka jahitannya. Tapi kecelakaan itu tak membuatku kapok mengendarai motor di bawah kecepatan 80 km/jam kurang dari sepekan kemudian, ketika ada amanah datang. Sama seperti kasus kehilangan HP, aku mencatat beberapa (atau banyak??) temanku yang juga merasakan kecelakaan motor, Mbak Titis (dan beliau meninggal 14 September 2006 lalu), Mbak Ani (operasi menambahkan pen untuk membantu pergelangan tangannya yang patah), Faiq yang jahitan di lengannya banyak bgt, Dinning, Ari (sampe dirawat di Rumah Sakit sampe sebulan), Ika Kusuma yang sukses merusak pot bunga Umi di depan kos (masih inget ga, Ika? J), dan banyak lagi sederet nama yang lain…

Ketiga, mitos bahwa setiap mahasiswa bersepeda akan kehilangan sepedanya karena “Kid si Pencuri”. Nah, ini kasus kehilanganku yang terbaru, Jumat siang, 28 November kemarin. Yah, memang jalannya harus gitu kali ya? Padahal Yayangku ini yang selalu bersamaku dalam suka dan duka. Pas lagi bete, aku pasti membawanya pergi dari ke tempat yang menyenangkan (misalnya maskam, kompleks gedung pusat, atau sekitar bangunan Pasca Sarjana). Tapi ternyata ga’ hanya aku yang merasakan kehilangan sepeda ini. Tapi juga Fatimah, Tia, Fika, Teh Irma, Ratih, Siska, dan beberapa orang lainnya….

Sekali lagi itu hanya berdasarkan pengamatanku selama ini. Setidaknya ini merupakan penguatanku dan penghiburku bahwa ga’ hanya aku yang teledor. Karena menurutku, semua kejadian ini terjadi karena keteledoran dari setiap aktivitas selain dari (tentunya) Takdir Allah. Insya Allah aku menerima semua KehendakNya….

Hmmm…satu peringatan lagi bagi kita, bahwa apa-apa yang kita miliki (atau yang ingin kita miliki) adalah MUTLAK miliki Allah. Sang Pemilik Sejati. Kita hanya meminjam. Dan barangsiapa ini memilikinya maka harus membelinya pada Allah. Jual-beli yang akan menyelamatkan kita dari azabNya. Ingat Firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di Jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (QS As Shaff: 10-11)

Kepada siapa lagi kita memohon, meminta dan kembali selain kepadaNya???

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.