Kembali…
22 Mei 2009 at 2:36 am | In Hikmah | 3 Comments
“Aku ingin kembali menjadi orang baik” seseorang mengatakan begitu padaku Selasa lalu. Bak setetes embun membasahi hatiku. Haru.
“Aku sadar, bahwa selama ini aku berjalan di jalan yang salah. Aku ingin ikut pengajian. Kamu tau ga’ dimana saja pengajian yang bagus?” Seseorang lain yang berkata sebulan lalu. Ah, banyak sekali ukhti, mari bersamaku..
“Aku ingin ketika aku mati, orang menilaiku cukup dengan satu kata saja: baik” mutarobbiyahku mengatakan itu seminggu lalu
“Aku ingin menjadi orang biasa-biasa saja.” ada lagi yang mengatakan ini beberapa bulan lalu
“Aku ga’ mau mentoring lagi. Aku terlalu sibuk untuk itu semua.” Seseorang yang merasa kecewa dengan mentoring mengatakan itu.
“Siapa kamu? berani-beraninya ngomong gitu!!” Terkejut aku demi kata-katanya. Seseorang yang sudah kuanggap bagian dari da’wah ini. Husnuzhan, mungkin dia sedang kacau pikirannya.
“Mana bagianku?!!” Seseorang pencari dunia merongrong Ibu.
“Ah, agama itu candu. Tak usahlah kau terlalu fanatik begini. Apa-apaan ini, kerudung atau seprei?” Seseorang lagi mengatakan kepahitan dalam menuju jalan Rabb.
Yah, itu hanya gambaran kecil saja dari dunia saat ini.
Ada yang ingin kembali menata dirinya, menata amalnya, menata masa depaannya yang kelak. Mejadikan Ridha Allah sebagai tujuannya. Ada pula yang ingin lepas dari orientasi akhirat untuk mendapat dunia. Masya Allah…
Ada yang akselerasi amal nyatanya bagus, life management dan softskillnya melesat jauh meninggalkanku. Ada juga yang jalan di tempat (semoga bukan aku salah satunya). Bahkan untuk menerima keadaan orang lain begitu sulitnya.
Ada yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya sehingga hari-harinya dinikmati sekali. Tak ada beban dalam hidupnya. Semua dilalui dengan senyum. Ada juga yang hatinya teras begitu sempit. Sehingga cobaan sekecil apapun, selalu dikeluhkan. Kata-kata yang diucapkan hanya keluhan, sindiran, cemoohan…
Ada yang merasa diri hina, lalu dia merendahkan diri serendah-rendahnya hanya pada Rabbnya. Tersungkur di atas sajadah. Hingga wajahnya adalah wajah ’sajadah’. Hingga hari-harinya selalu diisi dengan berbuat ihsan dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Namun ada juga yang merasa dirinya hebat hingga apa yang dimilikinya tak boleh ada yang mengambil. Bahkan oleh Tuhannya sekalipun. Dia merasa hidupnya cukup hanya dengan syahadat. Tok till itu saja. “Kan udah Muslim. Harta ini kan aku yang mengusahakan. Bukan Tuhan atau orang lain.” Begitu katanya. Ah,, sungguh perniagaan yang merugikan.
Pfiuh,,, mendengar kata-kata orang yang kufur nikmat membuat kita gerah. Lebih baik mendengar kata-kata yang penuh hikmah ini yuk?
“Aku ingin melihat Rabbku Tersenyum dan Menyambutku penuh rindu….” Tadi malam seseorang telah mengakhiri pembicaraan kami dengan tetesan air mata.
Hening…
Dan alampun bertasbih, tunduk, sujud penuh ketaatan PadaNya…

You’re Not Alone Now (Part 2)
16 Mei 2009 at 3:25 pm | In Hikmah | Leave a Comment
satu lagi ukhti satu forumku menggenapkan setengah diennya..
tapi beliau harus ikut suaminya ke Mataram,,, awal Juni besok beliau berdua berangkat,,,
slamat tinggal, sahabatku…

punya 2 ummahat di forum pekanan…
Kematian
15 Mei 2009 at 4:37 am | In Hikmah | Leave a Comment

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga naka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali Imran: 185)
Selalu saja ketika membaca terjemah ayat ini aku terhenyak. Mengingat-ingat beberapa kasus kematian yang menimpa beberapa orang di sekitarku (termasuk beberapa orang hebat yang kukenal selama di kampus) dan simulasi kematian yang kulakukan setiap malam. Tidur maksudku. Tidur itu simulasi kematian bukan?
Bagi sebagian orang kematian ditunggu dan dinanti. Para pejuang bom syahid misalnya. Mereka memilih mati berurai bersamaan dengan bom yang melilit di tubuh mereka dengan para zionis itu…dengan segenap keberaniannya mereka lawan zionis itu. Atau Umi Sumayyah sang syahidah pertama yang memilih mati daripada menyekutukan Allah dengan menuruti kata-kata si ”ahlunnaar” Abu Jahal.
Namun bagi sebagian orang, kematian adalah hal yang amat sangat menakutkan hingga mereka overprotective terhadap apa yang ada di dalam kehidupan mereka. Fir’aun misalnya, ia telah menumpuk harta dan tahta hingga keluarlah kata-katanya: ”akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS An Nazi’at: 24). Maka apa yang diperintahkannya adalah sangat tak wajar dan tak logis: ”bunuh semua bayi laki-laki yang lahir!” hal ini bertujuan agar tahtanya tak jatuh pada laki-laki lain. Padahal mati adalah hal yang pasti (seperti yang Allah firmankan pada ayat di atas). Dan akhirnya Fir’aun juga mati bukan? Bahkan cara matinya sungguh mengenaskan dan dalam keadaaan su’ul khatimah: tenggelam di laut. Meski kemudian jasadnya ditemukan, itu semua semata-mata agar menjadi pelajaran bagi kita: bahwa kematian adalah PASTI!!!
Bahwa hanya dengan perintah seperti yang difirmankan Allah ini kita bisa selamat:
”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (QS Ali Imran: 200)
Dan tiada yang bisa kita katakan kecuali:
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau Menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa api neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau Masukkan ke dalam neraka maka sungguh telah Engkau Hinakan ia dan tidak ada bagi orang-orang zhalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu), ’Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau Janjikan kepada kami dengan perantaraan-perantaraan Rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali Imran: 190-194)
Apa yang kita ingin dengarkan tentang kesan orang lain terhadap kita selama hidup ini? Baca, pikirkan, amalkan, ajarkan…
”hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Hasyr: 18)”
Siapkah kita dengan kematian kita?
_117745_
aku hanya ingin dikenang orang dengan 1 kesan : Qur’ani…

Qurrota A’yun
4 Mei 2009 at 4:10 am | In Hikmah | 6 Comments
Dari dulu ingin sekali aku posting tentang anak-anak. Entah apa yang ingin kutulis tentang mereka, tapi yang jelas tak pernah ada duka di mata mereka. Meski entah himpitan hidup terkadang melenakan dan menghilangkan nurani orang tua yang ada di belakang mereka. Lihat mereka, pandang wajah mereka, tembus kedua bola mata mereka. Pernahkah kau melihat betapa mereka begitu menyebalkan? atau mereka membuat kita kesal? Mereka menakutkan kita tidak? sama sekali tidak bukan? Yang ada hanya gembira, riang, canda, tawa dan mungkin kadang tangis karena bertengkar dengan teman sebayanya. Tapi tenang saja, mereka tak pernah menyimpan dendam, mereka tak pernah marah lama, mereka tak pernah dengki, mereka tak pernah bohong. Kita?


Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



