Lebaran = Idul Fithri?
31 Agustus 2011 pukul 10:58 am | Ditulis dalam Hikmah | 1 Komentar“Idul Fithri itu syariat. Lebaran itu budaya. Perubahan paradigma perlu proses juga. Jika ada yang menyamakan Idul Fithri dengan lebaran, itu salah.“
itu bunyi SMS yang dikirim salah satu rekanku 30 Agustus lalu.
lalu?
memang benar, sedikit refleksi, utk lebaran tahun ini kita harus banyak berlapang dada sekaligus banyak berpikir…
berlapang dada, karena perbedaan dan perdebatan sengit para ulama tentang kapan jadinya tanggal 1 Syawwal. masalah yang besar adalah hilal (bulan baru) yang tak terihat sampai 2 derajat. ini membuat banyak perbedaan pendapat. Meskipun ada 2 tempat yang dinyatakan hilal sudah mencapai 2 derajat namun ditolak pernyataannya karena kurang kuatnya pendapat. Hingga akhirnya malam 29 Agustus ini menjadi perdebatan yang tak terelakkan dan menjadi ajang adu pendapat. jadi ingat salah satu dosenku sampai mengatakan: “kapan ya ilmu pengetahuan yg jadi jalan penyelesaian antara dua pendekatan: hisab mutlak dan rukyatul hilal
Astronomi pernah jadi simbol penguasaan ilmuwan muslim, tapi sekarang lebih hanya berdasarkan keyakinan aliran
“
lalu beliau menambahkan: “Yang saya maksudkan dengan menggunakan ilmu pengetahuan, ya tercakup di dalamnya kesungguhan ulil amri buat ngurusi ummat yg mengambil 2 pendekatan berbeda tsb. Kenyataan bahwa tersedia sumber2 daya astronomi, ilmu falak berikut para pakarn…ya, ditambah dengan para ulama, rasa2nya sulit menerima kalo urusan yg sebetulnya ‘sunnat’ ini malah selalu jadi bahan pertentangan di kalangan ummat, seolah menjadi tontonan gamblang bahwa ummat Islam itu tdk lagi memegang ilmu pengetahuan sbg wasilah dalam mengembangkan hidup dan kehidupan yg lebih berperadaban lagi, sebagaimana dulu dicontohkan para ilmuwan muslim. Diakui atau tidak diakui, yg sekarang mengedepan secara real adalah keyakinan aliran saja. Persoalan menetapkan kapan ramadhan, kapan syawwal dll adalah terkait erat dengan ‘mekanika benda2 langit’, terutama matahari dan bulan, yg ini sdh banyak khasanah ilmunya sehingga seharusnya bisa menjadi rujukan utama dalam menyelesaikan perselisihan yang klasik itu, yg sebetulnya terus saja menjadi bahan tertawaan dunia…Ummat Islam menentukan hilal aja gak bisa, apa kata dunia ?
“
ah, umat Islam memang tengah diuji….selain sikap toleransi yang diuji ini, kita juga harus banyak berpikir betapa banyak hikmah yang bisa kita ambil dari sekeliling kita. Sesungguhnya Idul Fithri mengajarkan kita kepada ketawadhu’an, bukan untuk melepas beban yang selama 1 bulan Ramadhan ini dirasakan. Idul Fithri mengajarkan kepada kita untuk kembali ke fithrah (asal) manusia. kembali kepada Fithrah bukan berarti kita terlepas dari semua dosa sehingga kita khawatir ibadah kita tak diterima (khauf), tapi kita harus selalu berharap bahwa dosa kita diampuni, sehingga timbul harapan (raja’)
1 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.
happy Ied ya..:x
Comment by sant87— 7 September 2011 #