Memupuk Kekayaan Indonesia

26 September 2011 pukul 10:46 am | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar

Akhir-akhir ini berita tentang kekeringan yang melanda sebagian besar kawasan Indonesia semakin menguat. Di Pantura, sebanyak 30 ribu hektar areal persawahan telah mengalami kekeringan. Akibatnya, tanaman padi yang rata-rata berusia antara 4 minggu hingga 8 minggu itu terancam mati. Semestinya tanaman padi pada usia itu sedang membutuhkan air irigasi yang cukup untuk menopang pertumbuhan tanaman memasuki masa bunting. Demikian halnya di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sekitar 48 ribu hektar lebih areal persawahan mengalami kekeringan. Air waduk Jatiluhur, Purwakarta, yang menjadi tumpuan aliran air, mengalir melalui Kali Tarum Barat terus menyusut sejak memasuki musim kemarau. Begitupula di Banten, kekeringan itu antara lain terjadi di Kabupaten Pandeglang salah satunya di Kecamatan Cikeusik yang melanda sawah seluas 126 hektar, Cikedal dan Menes masing-masing 2 hektar sawah. Sedangkan untuk Kabupaten Lebak terjadi di Kecamatan Malingping seluas 262 hektar sawah. Dikabarkan pula sejak sebulan terakhir, debit air sungai yang ada di Banten mulai surut akibat musim kemarau. Akibatnya, untuk mencegah kekeringan, aliran irigasi harus digilir. Meskipun diberitakan bahwa hampir semua wilayah di Banten ini baru terkena kekeringan dan belum ada yang tanaman padi terkena puso. Namun jika ini berkembang terus, akan cukup merepotkan bagi tersedianya ketercukupan pangan nasional. Bahkan, Akibat musim kemarau yang cukup panjang, rumput dan ilalang kering di sekitar Lapangan Terbang Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, hangus terbakar. Kebakaran terjadi pada Sabtu (10/9) malam hingga ribuan meter. Semua ini tentu seharusnya menjadi perhatian kita semua, karena sesungguhnya kitalah yang berkewajiban menjaga alam ini.

Tantangan lingkungan hidup yang paling berat dialami oleh umat manusia di muka bumi ini adalah terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Pola iklim mengalami perubahan akibat kenaikan suhu permukaan bumi. Akibatnya, ada bagian bumi yang curah hujannya berlebihan, ada pula yang malah kekurangan. Kenaikan curah hujan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, makin banyak erosi, serta makin banyaknya tanah longsor. Sedangkan kekeringan yang panjang dan fluktuasi musim yang semakin sulit diprediksi, akan mengancam ketersediaan pangan dan air, sehingga rawan terjadinya kekurangan pangan dan kelaparan.

Indonesia sebagai salah satu negara tropis pun tak luput dari tantangan lingkungan hidup ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terus menerus dilanda bencana yang apabila dicermati bencana tersebut ternyata bersumber dari permasalahan lingkungan dan penanganan yang salah. Tengok saja terjadi banjir berkala yang menyerang Jakarta, gelombang pasang, longsor dan kekeringan sudah menjadi tradisi bencana tahunan yang tidak pernah selesai bahkan tiap tahun makin bertambah buruk. Bencana-bencana itu merupakan akibat dari Pemanasan Global. Pemanasan global yang meresahkan negara-negara di seluruh dunia antara lain disebabkan oleh kelebihan karbondioksida (CO2) di udara yang merupakan sisa-sisa pembakaran dan itu merupakan dampak dari hilangnya sebagian besar hutan dunia yang pohon-pohonnya menyerap karbondioksida tersebut, sehingga suhu meningkat dan gunung es mencair.

Kita sadar pentingnya keberadaan pohon dan hutan untuk mengatasi bahaya dari dampak pemanasan global. Meskipun ancaman kekeringan dimana-mana, namun ternyata pembalak liar tetap bebas berkeliaran. Ditambah dengan ketidakpedulian kepala daerah dengan daerahnya yang terkena kekeringan ini, maka kekacauan panjang yang melibatkan perusakan lingkungan hidup nyaris tak mengenal kata tepi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, manusia harus terus berupaya untuk mengurangi efek pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu dan yang terutama adalah dengan memperbanyak pohon melalui budaya tanam-menanam.  Upaya pelestarian hutan dengan penanaman pohon sebanyak-banyaknya dan mengembalikan hutan mangrove harus dilakukan. Ini merupakan aksi konkret dari agenda kegiatan lingkungan hidup. Karena alasan-alasan itulah maka diperlukan upaya mempertahankan keutuhan ekosistem hutan serta melakukan kegiatan penanaman pohon secara besar-besaran. Agenda ini tentu harus didukung oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari stakeholder, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga masyarakat grass root harus turut serta mendukung dan melakukan gerakan nyata ini.

Dijelaskan dalam Canopy.org (2006), setiap pohon yang tertanam mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi lingkungan dan kehidupan manusia. Satu pohon yang besar mampu menghasilkan persediaan oksigen (O2) untuk 4 orang per hari. Jumlah pohon yang tertanam dalam area 4.000 m2 mampu menyerap karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh kendaraan yang berjalan sejauh 26.000 mil, mampu memindahkan sulfurdioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NO). Dua senyawa yang terakhir disebutkan adalah komponen utama dari hujan asam dan polusi ozon. Selain itu, pohon diharapkan dapat menurunkan debu dan asap rokok hingga 75 % pada area yang dinaungi pohon, mengurangi panas dan temperatur di wilayah perkotaan sebanyak 9oC dimana penguapan dari satu pohon dapat menghasilkan efek pendinginan yang senilai dengan sepuluh alat pendingin yang beroperasi 20 jam sehari.

Lalu pertanyaannya, bagaimana menerapkan gaya hidup sehat dan kesadaran menjaga lingkungan hidup ini pada masyarakat yang sesungguhnya belum paham benar? Atau kepada masyakarat yang sudah paham namun enggan turut serta dalam menyukseskannya? Hal ini dapat dijawab dengan pendekatan berbasis kearifan lokal (local wisdom). Dalam ilmu Sosiologi, masyarakat cenderung akan mengikuti apa yang kita sarankan dengan catatan bahwa kita pun mengikuti tradisi yang menjadi kebiasaan yang dianut daerah tersebut. Maka jika kita menginginkan perubahan di suatu daerah maka kita harus jeli melihat apa yang menjadi kearifan lokal di daerah tersebut. Jika kearifan lokal itu berbasis pada satuan geografis, maka bisa dibayangkan betapa kayanya negeri ini. Sebagai contoh, di Bali, sistem Subak mengajarkan keseimbangan, sehingga alam tetap lestari. Begitu pula di Pandeglang dan Lebak yang terkenal dengan adanya sistem tebang pilih. Di Pandeglang khususnya di daerah Ujung Kulon ada penangkaran hutan lindung untuk melindungi badak bercula satu. Ada pula tradisi kearifan lokal yang ada di sebuah desa yang disebut tradisi “nyengkar” yaitu satu tradisi meneliti lahan ketika hendak membuka lahan hutan atau menanam pohon. Tradisi ini dilakukan untuk mengindari banyaknya gangguan alam. Selain binatang buas dan melata ada juga yang mengenai bencana alam seperti longsor. Secara logika, ini kondisi yang menguntungkan bagi alam karena dapat menyelamatkan alam dari kerusakan yang diakibatkan lading berpindah yang banyak terjadi di dalam masyarakat kita.

Berbekal kearifan lokal inilah, kita akan dapat menekankan terlaksananya program pelestarian lingkungan ini. Karena sesungguhnya inilah kekayaan bangsa kita. Dengan ribuan sumber daya alam yang melimpah serta sumber daya manusia yang memegang tradisi nenek moyang yang justru menyelamatkan alam, ini adalah kekayaan yang tak ternilai. Kekayaan yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang dihormati dan disegani bangsa lain. Kekayaan yang saying jika hanya menjadi tontonan. Kekayaan yang justru dari ini semua bangsa lain dapat menghidupi negaranya, sementara bangsa kita hanya menjadi budak sekaligus penonton yang tidak dapat berbuat banyak. Kekayaan yang justru akan menyelamatkan kita dari bencana kekeringan ketika kemarau atau dari banjir ketika musim penghujan datang. Namun sekali lagi, semua ini butuh perhatian dan dorongan dari semua lapisan masyarakat. Masyarakat yang menginginkan perubahan nyata untuk lingkungan hidup yang lebih baik. Maukah kita menjadi bagian dari generasi pengubah itu?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.