Mengelola Sampah Elektronik

12 Oktober 2011 pukul 11:44 am | Ditulis dalam Chemist | Tinggalkan komentar

Saat ini, sampah merupakan masalah serius di kota-kota besar karena volume sampah yang dihasilkan tidak tertangani seluruhnya oleh Dinas Kebersihan. Hal ini juga ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah. Sampah menjadi menggunung di berbagai tempat pembuangan akhir (TPA) yang tidak ada tindakan khusus untuk mengurangi volumenya selain dibakar. Padahal sampah tidak bisa dikatakan sama semua karena pada kenyataannya sampah dibagi menjadi berbagai macam berdasarkan jenis dan kemudahannya untuk diuraikan.

Sampah dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu sampah organik, sampah non organik dan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sampah organik berupa sisa-sisa makanan, daun dan sisa-sisa material tumbuhan yang membusuk sebenarnya dapat diubah menjadi kompos dan pupuk cair yang baik sekali untuk tanaman. Sedangkan sampah non organik berupa plastik dan kaca memiliki nilai jual yang cukup tinggi dibandingkan sampah organik. Pengelolaannya juga lebih mudah yaitu dengan cara cukup dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah yang sudah dipilah memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Ketersediaan sampah plastik dan kertas adalah 24% dari volume sampah keseluruhan. Untuk meningkatkan harga jual, sampah plastik dipilah berdasarkan jenis, dilakukan pencucian, dan dicacah menjadi bijih plastik. Saat ini, harga jual sampah plastik dan kertas masih rendah dikarenakan produk yang dihasilkan hanya dijual tanpa diolah dan ditawarkan kepada satu bandar saja. Sampah plastik digunakan untuk daur ulang. Sedangkan sampah kertas digunakan sebagai campuran bahan baku kertas bagi industri kertas. Sampah jenis lainnya adalah sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa bekas baterai dan bekas alat-alat elektronik yang sudah tidak dapat dipakai. Sebenarnya sampah B3 ini tak jauh berbeda dengan sampah plastik atau sampah kertas, sampah elektronik juga harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan. Karena beberapa komponan barang elektronik bekas mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Contohnya circuit board computer yang mengandung beberapa macam logam berat seperti timah, besi, timbal, perak dan tembaga.

Sampah berupa barang elektronik merupakan bahaya yang paling mengancam kelangsungan hidup di planet bumi kita, setelah masalah pemanasan global. Dunia saat ini memang sudah dipenuhi oleh berbagai barang elektronik yang canggih namun ternyata dapat membahayakan kelangsungan makhluk hidup lainnya ketika benda tersebut menjadi sampah dan tidak digunakan dengan bijaksana. Fakta lebih lanjut adalah perkiraan dari PBB yang menyatakan bahwa ada  20 sampai 50 juta ton sampah elektronik yang dihasilkan setiap tahun. 70 % dari sampah tersebut dibuang dinegara-negara miskin dan berkembang. Padahal limbah tersebut merupakan sumber racun bagi manusia dan lingkungan sekitarnya karena pada saat proses pembuatan perangkat elektronik juga menggunakan berbagai macam bahan beracun. Jadi sudah pasti sangat berbahaya jika hal ini terus menerus dibiarkan terjadi tanpa adanya tindakan yang dapat mencegahnya.

Jika kita menengok apa yang terjadi di era globalisasi ini, barang-barang elektronika seperti televisi, komputer, VCD player, tape recorder maupun telepon genggam bukanlah barang asing. Karena bagi sebagian orang, barang-barang tersebut merupakan kebutuhan vital yang harus dipenuhi seperti layaknya sembako. Bahkan bagi sebagian orang, kebutuhan barang elektronik ibarat fashion yang harus diikuti perkembangannya. Sehingga setiap kali ada produk gadget yang baru, akan mereka ikuti. Tetapi lihatlah dampaknya, seperti barang-barang lainnya, suatu saat jika sudah usang ataupun rusak dan tidak dapat lagi diperbaiki, barang-barang tersebut akan menjadi sampah yang layak untuk dibuang. Padahal apakah kita menyadari, sampah dari barang-barang elektronika tersebut berbahaya bagi perkembangan otak manusia?

Seperti kita ketahui, rongsokan elektronika ini mengandung sekitar 1000 material, dan sebagian besar dikategorikan sebagai bahan berbahaya, karena merupakan unsur beracun seperti logam berat, diantaranya adalah timbal. Apakah timbal itu? Timbal adalah racun penyerang saraf (neurotoksin) yang bersifat terkumpul (akumulatif) dan merusak pertumbuhan otak. Penyerapan timbal ke dalam darah manusia terutama melalui saluran pencernaan dan saluran napas. Ketika dibakar, sampah yang mengandung logam berat ini menimbulkan pencemaran timbal yang sangat berbahaya. Jika dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air eksternal dari hujan). Cairan yang sangat konduktif ini masuk ke dalam tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah.

Sejak lama timbal dituding sebagai penyebab turunnya angka Intellectual Quotient. Dari sebuah riset yang dilakukan Puji Lestari, staf pengajar dan peneliti jurusan Teknik Lingkungan ITB, menunjukkan, adanya hubungan terbalik kandungan timbal terhadap angka IQ, semakin tinggi kadar timbal dalam darah, semakin rendah poin IQ-nya. Sedangankan penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Khidri Alwi, peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Makasar menyebutkan, setiap kenaikan kadar timbal 10 mkgr/dl dalam darah, memicu penurunan IQ sebesar 2,5 poin. Penurunan ini sudah dimulai ketika kadar timbal di atas ambang batas 10 mkgr/dl. Sementara dalam jurnal Enviromental Health Perspective, memuat penelitan yang dilakukan oleh Bruce P Lanphear, yang memperlihatkan, bahwa IQ seorang anak malah mulai menurun saat kandungan timbal dalam darah berkisar 2,4 – 10 mkgr/dl. Secara pasti Lanphear mengatakan, saat terkumpul timbal menipis kisaran 10 – 20 mkgr/dl dan 20 – 30 mkgr/dl, maka penurunan IQ yang terjadi adalah 1,9 dan 1,1. Maksimal penurunan poin IQ dalam riset adalah 3,9.

Ternyata dari fakta-fakta tersebut, barang-barang elektronika yang dikatakan sebagai penunjang informasi, justru bisa menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan otak manusia. Oleh karena itu, jika memang alat-alat elektronika kita masih dapat digunakan dengan baik, tak usah lah kita menggantinya dengan yang baru dengan alasan mengikuti mode. Karena ternyata dengan alasan itu kita telah menjadi penyumbang utama bagi turunnya sumber daya manusia. Jika masih ada yang lama dan masih bisa dipakai, mengapa harus mengganti yang baru padahal fungsinya sama?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.