Memaksimalkan Peran Guru
30 November 2011 pada 1:38 pm | Ditulis dalam Tak Berkategori | Tinggalkan KomentarSenin (7/11) lalu terjadi tawuran sekelompok mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Di hari yang sama, siswa SMA di Bekasi juga melakukan aksi tawuran. Atau kita runut beberapa bulan terakhir, pastinya sering kali terjadi tawuran antar pelajar atau mahasiswa. Tawuran, seperti ikon pelajar dan mahasiswa yang telah kehilangan identitas. Pelajar mulai kehilangan identitas diri karena tidak mampu mengedepankan intelektualitas yang dimilikinya dalam mencari solusi dari suatu permasalahan yang sedang dihadapi. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya aksi tawuran antar mahasiswa atau antar pelajar yang terjadi belakangan ini.
Tawuran seolah menjadi solusi yang terbaik daripada harus repot berdiplomasi atas suatu masalah. Tawuran menjadi penyalur kepuasan emosional mereka yang memang masih meledak-ledak. Tawuran dianggap sebagai ajang memperlihatkan kepada dunia: ”nih, gue keren”. Mental ini, jika terus dipelihara maka akan merusak tatanan pemerintahan. Mengganggu kenyamanan masyarakat juga mengurangi produktivitas pelajar yang seharusnya menjadi agen pengubah bangsa menjadi yang lebih baik. Bayangkan saja, apa akibat dari tawuran yang baik? Tidak ada sama sekali. Yang ada hanya permusuhan, kebencian, rusaknya fasilitas umum. Berapa banyak kasus tawuran yang melibatkan pelajar ternyata kemudian harus memakan korban jiwa. Dalam setiap tawuran, pastinya ada yang terluka, berat ataupun ringan. Bahkan di banyak kasus tawuran yang paling parah terjadinya korban jiwa meninggal. Begitupula dengan banyaknya perusakan fasilitas umum. Padahal kita membangunnya dengan usaha dan tetesan keringat, dengan penuh harapan bahwa fasilitas ini akan memberikan kemudahan atas kehidupan kita. Coba kita lihat, betapa banyaknya kaca yang terkena lemparan batu akibat tawuran. Atau pagar pembatas yang rusak, kendaraan yang dibakar, kemacetan di jalan umum atau kotornya jalanan yang dilalui pada saat tawuran.
Kita tidak bisa mentup mata atas semua ini karena ini adalah tanggungjawab kita, bukan sekedar polisi. Kita juga harus menyadari bahwa ternyata meskipun pelajar yang berbuat tawuran, ternyata memang ada oknum yang membonceng kepentingan dari tawuran ini. Pastinya ada pihak tertentu yang senang dan mengharapkan tawuran ini. Mereka bagaikan menyiram api dengan minyak, mereka sebagai provokator yang terus berusaha agar emosi anak-anak kita tersulut dan memotivasi mereka untuk terus “berkarya” dengan tawurannya itu.
Lalu apa yang bisa dilakukan sebagai orang tua? Khususnya sebagai guru, maka yang bisa kita lakukan adalah dengan terus mengendalikan perilaku anak-anak kita ini. Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (civil mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika. Tugas manusiawi inilah yang paling penting dari seorang guru. Sebagai guru, tugas manusiawi ini adalah dalam bentuk membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri.
Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik untuk turut mengemban dan melaksanakan apa yang telah termaktub dalam UUD 1945. Seorang guru harus mampu menjadi pemercepat kesadaran, pendukung dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal. Ketiga tugas ini harus selaras dan seimbang agar tercipta kehidupan yang harmonis.
Guru tidak hanya harus menguasai satu atau beberapa disiplin keilmuan yang harus dapat diajarkannya, ia harus juga mendapat pendidikan kebudayaan yang mendasar untuk aspek manusiawinya. Jadi di samping membiasakan mereka untuk mampu menguasai pengetahuan yang dalam, juga membantu mereka untuk dapat menguasai satu dasar kebudayaan yang kuat. Pun tidak bisa dilupakan bahwa ternyata guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila. Peranan guru yang lain adalah sebagai pengajar dan pembimbing pelajar untuk memberikan arahan yang baik tentang pendidikan.
Peran sekolah pun tidak dapat dilupakan, justru yang paling penting, seluruh instrumen pada sekolah dapat memberikan akses yang mudah bagi pelajar untuk mengajarkan kebaikan. Sekolah juga harus memberikan tindakan tegas kepada pelajar yang terlibat tawuran agar tidak kembali terulang. Tindakan tegas tersebut dapat berupa skorsing, pemanggilan orangtua si mahasiswa, bahkan bila perlu sampai pemecatan jika memang perbuatannya itu sampai merugikan fasilitas umum. Tindakan tegas ini perlu dilakukan, dapat memberikan efek jera bagi mereka yang lainnya, serta menjadi contoh dan tidak melakukan perbuatan yang sama. Efek jera ini juga memungkinkan ada jika seharusnya ada reward and punishment terhadap kampus atau sekolah yang terlibat tawuran, atau sekolah atau kampusnya ditutup atau diliquidasi.
Maka sesungguhnya untuk menyelamatkan generasi bangsa ini merupakan tugas dari semua lapisan untuk bersinergi dalam menyongsong perubahan. Kerjasama, perhatian dan peran seluruh elemen masyarakat amat diharapkan. Kompetensi amat penting dalam membangun bangsa ini, namun karakter dan perilaku lebih diperlukan karena ia menyangkut masa depan dan kelangsungan suatu bangsa. Siapakah lagi yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan dan para pendahulu kita dalam membangun bangsa ini selain mereka anak-anak kita?
Pengaruh Pemakaian Kosmetik Pada Remaja
30 November 2011 pada 1:28 pm | Ditulis dalam Chemist | Tinggalkan KomentarKehidupan remaja saat ini sangat berbeda dengan kehidupan remaja pada masa sebelumnya. Penggunaan kosmetik yang sudah dimulai pada usia dini, yang semestinya belum pantas untuk digunakan oleh anak pada usia dini. Tetapi pada kenyataannya, sesuai dengan apa yang kita lihat dan saksikan bersama, ternyata bahwa anak usia dini telah menggantungkan hidupnya dengan penggunaan kosmetik-kosmetik. Padahal kosmetik-kosmetik ini terkadang kita tak pernah memperhatikan apa kandungan-kandungan yang terkandung dalam produk-produk kosmetik tersebut. Sejauh ini, memang belum banyak ditemukan efek-efek negatif yang ditimbulkan dari penggunaan produk-produk kecantikan tesebut. Tetapi sebagai makhluk sosial dan makhluk yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari hidupnya, maka meneliti dan menguji bagaimana pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh pemakaian produk-produk kecantikan tersebut selayaknya dilakukan. Agar kelak tidak menimbulkan efek negatif atau setidaknya kita mencegah, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.
Sebuah tulisan yang dimuat oleh sebuah situs digital, tentang adanya percepatan masa pubertas yang dipengaruhi oleh pemakaian produk kosmetik tersebut. Telah dilakukan riset oleh sejumlah peneliti yang melakukan penelitian dengan melibatkan 1151 remaja berusia 6-8 tahun di New York City, Cincinnati dan California Utara. Dalam tes urin mereka ditemukan tiga jenis zat kimia yang sering terdapat dalam produk kosmetik, yakni phenols, phthalates dan phytoestrogen. Para peneliti menemukan bahwa zat-zat kimia tersebut banyak ditemukan pada beragam produk kosmetik, seperti cat kuku, kosemtik, parfum, lotion dan sampo. Beberapa jenis produk kosmetif juga menggunakan zat kimia itu.
Pada periode remaja, menggunakan produk kosmetik yang digunakan terus menerus, seperti menjadi kebutuhan primer. Setiap perubahan waktu atau musim, seperti; pagi hari (setelah mandi), siang (sebelum pergi ke setiap tempat), sore dan malam (sebelum menyajikan kepada pihak-pihak atau agenda lain dan sebelum tidur malam).
Tapi, kita tidak pernah berpikir bagaimana bahan kosmetik yang diproses dan bekerja dalam tubuh kita. Sebenarnya, bahan kosmetik itu termasuk semua bagian dari bahan kimia. Bahan kimia ada yang berbahaya, ada juga yang tidak berbahaya. Bagaimana kita bisa tahu tentang itu, tentu kita harus melakukan banyak percobaan dan pengamatan dari masalah ini, dan bagaimana kita bisa memecahkan masalah ini, dengan menemukan solusi yang terbaik. Cara untuk memecahkan setiap masalah tentang efek dari bahan kimia yang merupakan isi bahan kosmetik adalah kewajiban. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita harus mendapatkan dan memiliki substitusi material mereka, yang lebih alami dan bahan yang aman untuk keselamatan untuk kulit sehat, kulit kita khususnya dan tubuh kita umumnya.
Sebenarnya, bahan kimia memiliki aturan penting dalam menginfeksi objek ini. Tercepat periode pubertas berada di usia remaja. Dan dari bahan kimia didirikan tiga bahan kimia dalam bahan kosmetik banyak terdapat fenol, phthalates dan phytoestrogen. Meskipun ada banyak efek lain dari menggunakan bahan kimia yang kandungan dalam produk kosmetik. Fenol yang merupakan salah satu bahan yang terdapat dalam bahan-bahan penyusun kosmetik misalnya, dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Fenol yang terkonsentrasi dapat mengakibatkan pembakaran kimiawi pada kulit yang terbuka. Bukankah ini berbahaya jika dibiarkan? Padahal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kosmetik hanya memberikan efek lokal dan tidak mempengaruhi sistem fisiologis sehingga tidak mungkin kosmetik bekerja secara sistemik (diabsorbsi ke pembuluh darah). Kalau diabsorbsi dan mempengaruhi/memanipulasi sistem fisiologis, sudah tidak bisa dikatakan sebagai kosmetik tetapi disebut sebagai kosmesetika.
Apalagi sekarang ini banyak produsen kosmetik yang tidak lagi memperhatikan keamanan dan keselamatan. Sudah berapa banyak kasus para produsen kosmetik kedapatan mencampur bahan kosmetik dengan bahan-bahan berbahaya seperti merkuri. Padahal merkuri ini berbahaya jika terakumulasi dalam tubuh kita, sehingga tanpa kita sadari, tubuh kita telah banyak menumpuk bahan berbahaya itu. Ditambah dengan sedikitnya pengalaman remaja dalam memilih kosmetik. Lalu, apa langkah selanjutnya dalam mengantisipasi hal tersebut, walaupun pada catatan terakhir, belum terdapat banyak korban dari pemakaian produk-produk kosmetik atau produk kencantikan apalagi di kalangan remaja?
Jika hal ini tidak menjadi perhatian bersama semua pihak, kemudian kita biarkan maka akan menyebabkan efek gunung es bagi remaja. Perlu didikan dari keluarga, dukungan dari sekolah serta lingkungan pergaulan yang memotivasi untuk terus melakukan kebaikan dan kegiatan positif sebenarnya sudah dapat memagari remaja dari fenomena ini. Apalagi dengan adanya mental remaja yang ingin menjadi yang paling menarik dengan menggunakan bahan-bahan kosmetik untuk perawatan mereka untuk menjaga diri menawan, kulit, dan semua bagian tubuh. Jika mental ini terus dipupuk akan menyebabkan remaja tak lagi peduli pada lingkungan karena mereka terlalu sibuk dengan penampilan mereka. Remaja berlomba-lomba untuk menjadikan kulit mereka putih tapi tidak memperbaiki sikap dan hati mereka. Jika hal ini dibiarkan, ini akan mematikan karakter bangsa yang memelihara etika dan moral.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus memperbaiki dan mempercantik diri tapi bukan dengan penggunaan kosmetik yang berlebihan. Memperbaiki dan mempercantik diri dengan terus meningkatkan kompetensi diri sehingga siap bersaing secara global dan memperbaiki sikap diri sehingga karakter pemuda yang senantiasa aktif, produktif dan pantang menyerah terus hidup di diri-diri para remaja itu. Sehingga kegiatan mereka selalu dalam kegiatan yang positif dan mempersembahkan yang terbaik untuk bangsanya.
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.