DILEMA PILGUB
28 Oktober 2011 pada 5:00 am | Ditulis dalam Tak Berkategori | Tinggalkan KomentarDemokrasi seolah tak lagi asing di telinga setiap penduduk Indonesia. Kata demokrasi senantiasa didefinisikan dan dipahami sebagai pemilihan umum yang selalu hadir di tengah-tengah masyarakat dalam kurun waktu 5 tahun sekali. Begitu pula pemilihan umum yang akan dilaksanakan di Banten saat ini. Pemilihan gubernur yang ditunggu sebagai ajang obral harapan untuk perubahan Banten yang lebih baik. Kita mengetahui bahwa masyarakat global hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Ada kebutuhan untuk saling membutuhkan, saling menghargai dan saling bahu membahu satu sama lain. Masyarakat tidak dapat hidup sendiri karena adanya hubungan satu sama lain merupakan kondisi kenyataan manusia. Oleh karena itu, setiap individu mesti belajar bagaimana hidup bersama, mengatur tatanan kehidupan secara bersama, sehingga inspirasi dan aspirasi individu dapat tercapai. Demokrasi termasuk di dalamnya pengembangan dan penumbuhan semangat kebangsaan.
Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah, atau seringkali disebut pilkada, adalah ajang pembuktian demokrasi secara dewasa. Pemilihan umum yang berfungsi untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung di Indonesia oleh penduduk daerah setempat yang memenuhi syarat. Sebelumnya, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dasar hukum penyelenggaraan pilkada adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam undang-undang ini, pilkada (pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah) belum dimasukkan dalam rezim pemilihan umum (pemilu). Pilkada pertama kali diselenggarakan pada bulan Juni 2005.
Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, pilkada dimasukkan dalam rezim pemilu, sehingga secara resmi bernama “pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah”. Pilkada pertama yang diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini adalah Pilkada DKI Jakarta 2007. Sesuai Rumusan UU Nomor 32 tahun 2004 yang telah diubah dengan UU Nomor 12 tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah, ditetapkan bahwa kepala daerah memang dipilih secara langsung oleh rakyat. Dasar pemikirannya adalah selain memenuhi asas demokrasi, hal itu dilakukan untuk menekan praktek politik uang. Dengan demikian diidealkan praktik semacam itu tak akan terjadi lagi, namun yang terjadi kini isu money politic justru makin marak. Sistem Pilkada yang sekarang ini dinilai menghabiskan biaya tinggi dan seringkali menimbulkan masalah sosial sehingga perlu dipikirkan kembali sistem pilkada yang sekarang.
Masalah itu memang ada, namun ibarat angin, prakteknya sulit dibuktikan. Dalam banyak kasus, praktek yang demikian sulit dibuktikan karena dilakukan secara sistemik dan sistematik sehingga praktik politik haram tersebut sulit ‘ditangkap tangan’. Maka usulan yang penting untuk dipikirkan itu adalah (1) Pilkada langsung masih dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan adanya kejadian-kejadian yang terjadi, termasuk dalam hal ini konsekuensi pembiayaan yang besar; (2) Pelaksanaan Pilkada diharapkan secara serentak. Kalau dapat dilakukan dengan satu kali putaran saja dan menurut suara terbanyak; (3) Pilkada bagi pemilih di luar daerah diperbolehkan untuk memilih.
Pada poin kedua dikatakan bahwa “Pelaksanaan Pilkada diharapkan secara serentak. Kalau dapat dilakukan dengan satu kali putaran saja dan menurut suara terbanyak”, dari rekomendasi ini memang diharapkan bahwa pemilihan gubernur kali ini cukup dilakukan sekali saja dengan pertimbangan efisiensi dana, efisiensi tenaga dan waktu. Efisiensi ini tentu harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dilema memang, di satu sisi kita menginginkan pendidikan demokrasi bagi masyarakat Banten, tapi di sisi lain ternyata demokrasi ini menghasilkan perbedaa-perbedaan yang amat menyolok dan membuat dana menjadi tidak efisien waktu, tenaga dan pikiran. Maka kembali kepada definisi demokrasi bahwa demokrasi adalah kebebasan memilih bagi para rakyat. Maka menjadi kewajiban kita untuk memilih satu dari sekian calon yang ada dengan penuh rasa harap bahwa sang calon memang akan memenuhi janji-janjinya. Namun hal ini memang menjadi dilema jika pemilihan umum kepala daerah harus diulang karena hal ini sama saja dengan pemborosan uang rakyat. Karena sekali mengadakan pilgub, rakyat harus mengeluarkan dana sekitar 135,5 Milyar. Bukankah ini lebih baik dianggarkan untuk pembangunan?
Semua ini dapat diminimalisir dengan cara pemilihan kepala daerah menang satu putaran. Dengan memilih pemimpin yang cerdas, mempunyai visi dan misi yang jelas, mempunyai track record yang baik, anti KKN dan berani mengambil resiko serta dapat mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat. Tak lupa bahwa pemimpin yang baik juga memiliki tim yang solid, maka pilih juga pemimpin yang memiliki massa yang loyal dan total dalam bekerja. Satu poin pemimpin yang kita dambakan adalah pemimpin yang tanggungjawab. Tanggungjawab merupakan unsur penting bagi pengembangan karakter bangsa karena hal ini terkait dengan ekspresi kebebasan manusia terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Tanggung jawab ini memiliki tiga dimensi, yaitu tanggungjawab kepada (relasi antara individu dengan orang lain), tanggungjawab bagi (hubungan individu dengan dirinya sendiri), serta tanggungjawab terhadap (hubungan individu terkait dengan tugas dan tanggungjawabnya di dalam masyarakat). Maka memilih pemimpin yang bertanggungjawab adalah hal yang wajib dilakukan oleh para pemilih.
Mengelola Sampah Elektronik
12 Oktober 2011 pada 11:44 am | Ditulis dalam Chemist | Tinggalkan KomentarSaat ini, sampah merupakan masalah serius di kota-kota besar karena volume sampah yang dihasilkan tidak tertangani seluruhnya oleh Dinas Kebersihan. Hal ini juga ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah. Sampah menjadi menggunung di berbagai tempat pembuangan akhir (TPA) yang tidak ada tindakan khusus untuk mengurangi volumenya selain dibakar. Padahal sampah tidak bisa dikatakan sama semua karena pada kenyataannya sampah dibagi menjadi berbagai macam berdasarkan jenis dan kemudahannya untuk diuraikan.
Sampah dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu sampah organik, sampah non organik dan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sampah organik berupa sisa-sisa makanan, daun dan sisa-sisa material tumbuhan yang membusuk sebenarnya dapat diubah menjadi kompos dan pupuk cair yang baik sekali untuk tanaman. Sedangkan sampah non organik berupa plastik dan kaca memiliki nilai jual yang cukup tinggi dibandingkan sampah organik. Pengelolaannya juga lebih mudah yaitu dengan cara cukup dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah yang sudah dipilah memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Ketersediaan sampah plastik dan kertas adalah 24% dari volume sampah keseluruhan. Untuk meningkatkan harga jual, sampah plastik dipilah berdasarkan jenis, dilakukan pencucian, dan dicacah menjadi bijih plastik. Saat ini, harga jual sampah plastik dan kertas masih rendah dikarenakan produk yang dihasilkan hanya dijual tanpa diolah dan ditawarkan kepada satu bandar saja. Sampah plastik digunakan untuk daur ulang. Sedangkan sampah kertas digunakan sebagai campuran bahan baku kertas bagi industri kertas. Sampah jenis lainnya adalah sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa bekas baterai dan bekas alat-alat elektronik yang sudah tidak dapat dipakai. Sebenarnya sampah B3 ini tak jauh berbeda dengan sampah plastik atau sampah kertas, sampah elektronik juga harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan. Karena beberapa komponan barang elektronik bekas mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Contohnya circuit board computer yang mengandung beberapa macam logam berat seperti timah, besi, timbal, perak dan tembaga.
Sampah berupa barang elektronik merupakan bahaya yang paling mengancam kelangsungan hidup di planet bumi kita, setelah masalah pemanasan global. Dunia saat ini memang sudah dipenuhi oleh berbagai barang elektronik yang canggih namun ternyata dapat membahayakan kelangsungan makhluk hidup lainnya ketika benda tersebut menjadi sampah dan tidak digunakan dengan bijaksana. Fakta lebih lanjut adalah perkiraan dari PBB yang menyatakan bahwa ada 20 sampai 50 juta ton sampah elektronik yang dihasilkan setiap tahun. 70 % dari sampah tersebut dibuang dinegara-negara miskin dan berkembang. Padahal limbah tersebut merupakan sumber racun bagi manusia dan lingkungan sekitarnya karena pada saat proses pembuatan perangkat elektronik juga menggunakan berbagai macam bahan beracun. Jadi sudah pasti sangat berbahaya jika hal ini terus menerus dibiarkan terjadi tanpa adanya tindakan yang dapat mencegahnya.
Jika kita menengok apa yang terjadi di era globalisasi ini, barang-barang elektronika seperti televisi, komputer, VCD player, tape recorder maupun telepon genggam bukanlah barang asing. Karena bagi sebagian orang, barang-barang tersebut merupakan kebutuhan vital yang harus dipenuhi seperti layaknya sembako. Bahkan bagi sebagian orang, kebutuhan barang elektronik ibarat fashion yang harus diikuti perkembangannya. Sehingga setiap kali ada produk gadget yang baru, akan mereka ikuti. Tetapi lihatlah dampaknya, seperti barang-barang lainnya, suatu saat jika sudah usang ataupun rusak dan tidak dapat lagi diperbaiki, barang-barang tersebut akan menjadi sampah yang layak untuk dibuang. Padahal apakah kita menyadari, sampah dari barang-barang elektronika tersebut berbahaya bagi perkembangan otak manusia?
Seperti kita ketahui, rongsokan elektronika ini mengandung sekitar 1000 material, dan sebagian besar dikategorikan sebagai bahan berbahaya, karena merupakan unsur beracun seperti logam berat, diantaranya adalah timbal. Apakah timbal itu? Timbal adalah racun penyerang saraf (neurotoksin) yang bersifat terkumpul (akumulatif) dan merusak pertumbuhan otak. Penyerapan timbal ke dalam darah manusia terutama melalui saluran pencernaan dan saluran napas. Ketika dibakar, sampah yang mengandung logam berat ini menimbulkan pencemaran timbal yang sangat berbahaya. Jika dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air eksternal dari hujan). Cairan yang sangat konduktif ini masuk ke dalam tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah.
Sejak lama timbal dituding sebagai penyebab turunnya angka Intellectual Quotient. Dari sebuah riset yang dilakukan Puji Lestari, staf pengajar dan peneliti jurusan Teknik Lingkungan ITB, menunjukkan, adanya hubungan terbalik kandungan timbal terhadap angka IQ, semakin tinggi kadar timbal dalam darah, semakin rendah poin IQ-nya. Sedangankan penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Khidri Alwi, peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Makasar menyebutkan, setiap kenaikan kadar timbal 10 mkgr/dl dalam darah, memicu penurunan IQ sebesar 2,5 poin. Penurunan ini sudah dimulai ketika kadar timbal di atas ambang batas 10 mkgr/dl. Sementara dalam jurnal Enviromental Health Perspective, memuat penelitan yang dilakukan oleh Bruce P Lanphear, yang memperlihatkan, bahwa IQ seorang anak malah mulai menurun saat kandungan timbal dalam darah berkisar 2,4 – 10 mkgr/dl. Secara pasti Lanphear mengatakan, saat terkumpul timbal menipis kisaran 10 – 20 mkgr/dl dan 20 – 30 mkgr/dl, maka penurunan IQ yang terjadi adalah 1,9 dan 1,1. Maksimal penurunan poin IQ dalam riset adalah 3,9.
Ternyata dari fakta-fakta tersebut, barang-barang elektronika yang dikatakan sebagai penunjang informasi, justru bisa menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan otak manusia. Oleh karena itu, jika memang alat-alat elektronika kita masih dapat digunakan dengan baik, tak usah lah kita menggantinya dengan yang baru dengan alasan mengikuti mode. Karena ternyata dengan alasan itu kita telah menjadi penyumbang utama bagi turunnya sumber daya manusia. Jika masih ada yang lama dan masih bisa dipakai, mengapa harus mengganti yang baru padahal fungsinya sama?
Menanggulangi Krisis Air
1 Oktober 2011 pada 1:27 pm | Ditulis dalam Hikmah | 1 KomentarKemarau panjang yang saat ini tengah melanda sebagian besar wilayah di Indonesia berdampak hingga ke daerah-daerah yang ada di Kabupaten Pandeglang. Lahan pertanian semakin berkurang serta air bersih mulai susah didapatkan merupakan contoh nyata dari dampak dari kemarau panjang. Di Kabupaten Pandeglang tercatat, sebanyak 4 kecamatan yang saat ini tengah mengalami krisis air bersih, yaitu Kecamatan Cikeusik, Cigeulis, Cikedal dan Menes. Kemarau panjang ini juga sudah mulai memunculkan krisis air minum di berbagai daerah termasuk kabupaten-kabupaten lain di Banten seperti Lebak. Krisis air minum ini diperkirakan akan memburuk di masa mendatang mengingat jumlah penduduk yang terus meningkat sementara cadangan air minum dalam lapisan tanah (aquifer) mengalami penurunan. Penurunan cadangan air minum dalam lapisan aquifer terjadi karena meningkatnya eksploitasi terhadap sumber mata air aquifer tersebut sementara pengisian kembali air tawar ke dalam lapisan aquifer menurun karena meningkatnya pembabatan hutan. Padahal sumberdaya air minum dari lapisan aquifer merupakan sumberdaya alam yang terbatas sehingga dalam suatu waktu sumberdaya ini dapat habis. Sumberdaya air minum dari badan air sungai juga merupakan sumber daya alam yang terbatas mengingat debit air sungai sangat dipengaruhi oleh curah hujan, kondisi lahan di sekitarnya serta tingkat pencemaran dari sekitarnya. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya konversi lahan produktif menjadi pemukiman dan industri, serta kondisi cuaca yang tidak menentu berupa kemarau yang berkepanjangan, pencemaran lingkungan dan pemanasan global.
Padahal secara umum tubuh manusia terdiri dari air sebesar 60-80 %, sehingga kualitas hidup manusia sangat tergantung terhadap kualitas air minum yang dikonsumsinya. Oleh karena itu, krisis air minum yang terjadi saat ini dapat membuat kita ketakutan akan masa depan kita khususnya krisis air minum ini yang diduga akan semakin memburuk di masa mendatang apabila tidak diambil langkah-langkah yang tepat mulai sekarang. Langkah-langkah ini harus dipikirkan secara bersama-sama oleh para peneliti, pemerintah dan masyarakat yang dalam hal ini yang paling penting adalah adanya peran pemuda sebagai agen pengganti yang lebih baik.
Ada satu penawaran dan solusi atas krisis air ini, yaitu dengan pemanfaatan air laut. Air laut merupakan sumberdaya air minum yang tidak terbatas khususnya Indonesia memiliki air laut sebesar 70 % dari luas wilayahnya. Dengan demikian untuk mengatasi krisis air minum sekarang dan di masa mendatang, pemanfaatan air laut menjadi air minum merupakan potensi yang harus terus diteliti. Konversi air laut menjadi air minum dilakukan melalui proses destilasi yaitu proses pemisahan air tawar dan kandungan garam yang terdapat di dalam air laut melalui proses pemanasan, dipisahkan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Saat pemanasan terhadap air laut dilakukan, uap air berupa air tawar akan menguap sedangkan larutan yang mengandung garam-garam akan mengendap. Uap air ini kemudian diendapkan dengan menggunakan alat tertentu untuk mengumpulkan air tawar. Air tawar hasil destilasi ini kemudian diproses menjadi air minum. Pada proses pemanfaatan air laut dalam menjadi air minum melalui proses destilasi dihasilkan produk sampingan seperti garam berkualitas tinggi, air laut dalam untuk industri kosmetika, industri makanan dan minuman, industri budidaya pertanian berupa sayur-sayuran, tomat dan lain-lain. Tak ketinggalan industri budidaya perikanan, industri kesehatan, industri obat-obatan dan sebagai pendingin ruangan atau air condition mengingat suhu air laut dalam yang relatif rendah.
Meskipun proses ini relatif mudah, tapi biaya produksi industri air mineral dari air laut masih tergolong mahal. Namun, melihat kondisi saat ini dengan keterbatasan air tawar dari badan air sungai dan badan air tanah aquifer serta pencemaran yang semakin meningkat, ketidakmenentuan iklim, serta pemanasan global maka industri air minum dari air laut di masa mendatang memiliki potensi yang sangat besar dan dengan kemajuan teknologi, sehingga biaya produksi industri air minum ini akan menjadi lebih murah dan efektif.
Sebenarnya menjadi sesuatu yang ironi jika krisis air bersih melanda Indonesia. Padahal Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber-sumber air. Indonesia memiliki 6% persediaan air dunia atau sekitar 21% dari persediaan air di Asia Pasifik, namun pada kenyataannya dari tahun ke tahun Indonesia mengalami krisis air bersih. Potensi ketersediaan air bersih dari tahun ke tahun cenderung berkurang akibat rusaknya daerah tangkapan air dan pencemaran lingkungan. Padahal di lain pihak kecenderungan konsumsi air bersih justru naik secara drastis mengikuti laju pertumbuhan penduduk. Potensi sebagai negara yang kaya air, ternyata tidak mampu menghindarkan Indonesia dari krisis air bersih. Setiap kali musim kemarau tiba berbagai daerah mengalami krisis air. Namun ketika musim hujan tiba, krisis air bersih tetap terjadi karena surplus air yang kerap mengakibatkan banjir (yang pastinya kotor) sehingga sumber air tidak dapat termanfaatkan.
Untuk mengatasi krisis air bersih, upaya penyelamatan lingkungan termasuk di antaranya adalah dengan penyelamatan sumber-sumber air, harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Upaya penyelamatan lingkungan demi mengatasi krisis air bersih dapat dilakukan melalui berbagai cara. Menggalakkan gerakan hemat air, menggalakkan gerakan menanam pohon seperti one man one tree, konservasi lahan, pelestarian hutan dan daerah aliran sungai. Pun seharusnya dilakukan pembangunan tempat penampungan air hujan seperti waduk sehingga airnya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau. Mencegah krisis air seminimal mungkin dengan memanfaatkan air hujan yang terbuang ke laut dengan membuat sumur resapan air atau lubang resapan biopori. Cara lain untuk melindungi air bersih adalah dengan mengurangi pencemaran air baik oleh limbah rumah tangga, industri, pertanian maupun pertambangan. Dan yang paling penting adalah dengan mencegah sungai atau danau menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah.
Semua hal di atas harus dilakukan secara menyeluruh, berkelanjutan dan sesegera mungkin. Bumi adalah planet yang bisa dihuni oleh manusia dan merupakan satu-satunya planet yang dua pertiga bagiannya diselimuti air. Namun jangan dikira bumi ini kaya akan air justru air yang layak diminum untuk seluruh penduduk yang ada dibumi jumlahnya kurang dari 3 % dari total seluruh air yang ada di bumi sehingga penggunaannya harus dihemat. Setelah mengetahui fakta air tawar yang kita konsumsi sehari-hari sedemikian terbatasnya dan mesti berbagi dengan milyaran penduduk bumi, masihkah kita tidak hemat air? Masihkah kita membuang sampah ke sungai? Masihkah kita menebangi hutan-hutan lindung untuk kepentingan pribadi?
Memupuk Kekayaan Indonesia
26 September 2011 pada 10:46 am | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan KomentarAkhir-akhir ini berita tentang kekeringan yang melanda sebagian besar kawasan Indonesia semakin menguat. Di Pantura, sebanyak 30 ribu hektar areal persawahan telah mengalami kekeringan. Akibatnya, tanaman padi yang rata-rata berusia antara 4 minggu hingga 8 minggu itu terancam mati. Semestinya tanaman padi pada usia itu sedang membutuhkan air irigasi yang cukup untuk menopang pertumbuhan tanaman memasuki masa bunting. Demikian halnya di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sekitar 48 ribu hektar lebih areal persawahan mengalami kekeringan. Air waduk Jatiluhur, Purwakarta, yang menjadi tumpuan aliran air, mengalir melalui Kali Tarum Barat terus menyusut sejak memasuki musim kemarau. Begitupula di Banten, kekeringan itu antara lain terjadi di Kabupaten Pandeglang salah satunya di Kecamatan Cikeusik yang melanda sawah seluas 126 hektar, Cikedal dan Menes masing-masing 2 hektar sawah. Sedangkan untuk Kabupaten Lebak terjadi di Kecamatan Malingping seluas 262 hektar sawah. Dikabarkan pula sejak sebulan terakhir, debit air sungai yang ada di Banten mulai surut akibat musim kemarau. Akibatnya, untuk mencegah kekeringan, aliran irigasi harus digilir. Meskipun diberitakan bahwa hampir semua wilayah di Banten ini baru terkena kekeringan dan belum ada yang tanaman padi terkena puso. Namun jika ini berkembang terus, akan cukup merepotkan bagi tersedianya ketercukupan pangan nasional. Bahkan, Akibat musim kemarau yang cukup panjang, rumput dan ilalang kering di sekitar Lapangan Terbang Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, hangus terbakar. Kebakaran terjadi pada Sabtu (10/9) malam hingga ribuan meter. Semua ini tentu seharusnya menjadi perhatian kita semua, karena sesungguhnya kitalah yang berkewajiban menjaga alam ini.
Tantangan lingkungan hidup yang paling berat dialami oleh umat manusia di muka bumi ini adalah terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Pola iklim mengalami perubahan akibat kenaikan suhu permukaan bumi. Akibatnya, ada bagian bumi yang curah hujannya berlebihan, ada pula yang malah kekurangan. Kenaikan curah hujan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, makin banyak erosi, serta makin banyaknya tanah longsor. Sedangkan kekeringan yang panjang dan fluktuasi musim yang semakin sulit diprediksi, akan mengancam ketersediaan pangan dan air, sehingga rawan terjadinya kekurangan pangan dan kelaparan.
Indonesia sebagai salah satu negara tropis pun tak luput dari tantangan lingkungan hidup ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terus menerus dilanda bencana yang apabila dicermati bencana tersebut ternyata bersumber dari permasalahan lingkungan dan penanganan yang salah. Tengok saja terjadi banjir berkala yang menyerang Jakarta, gelombang pasang, longsor dan kekeringan sudah menjadi tradisi bencana tahunan yang tidak pernah selesai bahkan tiap tahun makin bertambah buruk. Bencana-bencana itu merupakan akibat dari Pemanasan Global. Pemanasan global yang meresahkan negara-negara di seluruh dunia antara lain disebabkan oleh kelebihan karbondioksida (CO2) di udara yang merupakan sisa-sisa pembakaran dan itu merupakan dampak dari hilangnya sebagian besar hutan dunia yang pohon-pohonnya menyerap karbondioksida tersebut, sehingga suhu meningkat dan gunung es mencair.
Kita sadar pentingnya keberadaan pohon dan hutan untuk mengatasi bahaya dari dampak pemanasan global. Meskipun ancaman kekeringan dimana-mana, namun ternyata pembalak liar tetap bebas berkeliaran. Ditambah dengan ketidakpedulian kepala daerah dengan daerahnya yang terkena kekeringan ini, maka kekacauan panjang yang melibatkan perusakan lingkungan hidup nyaris tak mengenal kata tepi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, manusia harus terus berupaya untuk mengurangi efek pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu dan yang terutama adalah dengan memperbanyak pohon melalui budaya tanam-menanam. Upaya pelestarian hutan dengan penanaman pohon sebanyak-banyaknya dan mengembalikan hutan mangrove harus dilakukan. Ini merupakan aksi konkret dari agenda kegiatan lingkungan hidup. Karena alasan-alasan itulah maka diperlukan upaya mempertahankan keutuhan ekosistem hutan serta melakukan kegiatan penanaman pohon secara besar-besaran. Agenda ini tentu harus didukung oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari stakeholder, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga masyarakat grass root harus turut serta mendukung dan melakukan gerakan nyata ini.
Dijelaskan dalam Canopy.org (2006), setiap pohon yang tertanam mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi lingkungan dan kehidupan manusia. Satu pohon yang besar mampu menghasilkan persediaan oksigen (O2) untuk 4 orang per hari. Jumlah pohon yang tertanam dalam area 4.000 m2 mampu menyerap karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh kendaraan yang berjalan sejauh 26.000 mil, mampu memindahkan sulfurdioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NO). Dua senyawa yang terakhir disebutkan adalah komponen utama dari hujan asam dan polusi ozon. Selain itu, pohon diharapkan dapat menurunkan debu dan asap rokok hingga 75 % pada area yang dinaungi pohon, mengurangi panas dan temperatur di wilayah perkotaan sebanyak 9oC dimana penguapan dari satu pohon dapat menghasilkan efek pendinginan yang senilai dengan sepuluh alat pendingin yang beroperasi 20 jam sehari.
Lalu pertanyaannya, bagaimana menerapkan gaya hidup sehat dan kesadaran menjaga lingkungan hidup ini pada masyarakat yang sesungguhnya belum paham benar? Atau kepada masyakarat yang sudah paham namun enggan turut serta dalam menyukseskannya? Hal ini dapat dijawab dengan pendekatan berbasis kearifan lokal (local wisdom). Dalam ilmu Sosiologi, masyarakat cenderung akan mengikuti apa yang kita sarankan dengan catatan bahwa kita pun mengikuti tradisi yang menjadi kebiasaan yang dianut daerah tersebut. Maka jika kita menginginkan perubahan di suatu daerah maka kita harus jeli melihat apa yang menjadi kearifan lokal di daerah tersebut. Jika kearifan lokal itu berbasis pada satuan geografis, maka bisa dibayangkan betapa kayanya negeri ini. Sebagai contoh, di Bali, sistem Subak mengajarkan keseimbangan, sehingga alam tetap lestari. Begitu pula di Pandeglang dan Lebak yang terkenal dengan adanya sistem tebang pilih. Di Pandeglang khususnya di daerah Ujung Kulon ada penangkaran hutan lindung untuk melindungi badak bercula satu. Ada pula tradisi kearifan lokal yang ada di sebuah desa yang disebut tradisi “nyengkar” yaitu satu tradisi meneliti lahan ketika hendak membuka lahan hutan atau menanam pohon. Tradisi ini dilakukan untuk mengindari banyaknya gangguan alam. Selain binatang buas dan melata ada juga yang mengenai bencana alam seperti longsor. Secara logika, ini kondisi yang menguntungkan bagi alam karena dapat menyelamatkan alam dari kerusakan yang diakibatkan lading berpindah yang banyak terjadi di dalam masyarakat kita.
Berbekal kearifan lokal inilah, kita akan dapat menekankan terlaksananya program pelestarian lingkungan ini. Karena sesungguhnya inilah kekayaan bangsa kita. Dengan ribuan sumber daya alam yang melimpah serta sumber daya manusia yang memegang tradisi nenek moyang yang justru menyelamatkan alam, ini adalah kekayaan yang tak ternilai. Kekayaan yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang dihormati dan disegani bangsa lain. Kekayaan yang saying jika hanya menjadi tontonan. Kekayaan yang justru dari ini semua bangsa lain dapat menghidupi negaranya, sementara bangsa kita hanya menjadi budak sekaligus penonton yang tidak dapat berbuat banyak. Kekayaan yang justru akan menyelamatkan kita dari bencana kekeringan ketika kemarau atau dari banjir ketika musim penghujan datang. Namun sekali lagi, semua ini butuh perhatian dan dorongan dari semua lapisan masyarakat. Masyarakat yang menginginkan perubahan nyata untuk lingkungan hidup yang lebih baik. Maukah kita menjadi bagian dari generasi pengubah itu?
Lebaran = Idul Fithri?
31 Agustus 2011 pada 10:58 am | Ditulis dalam Hikmah | 1 Komentar“Idul Fithri itu syariat. Lebaran itu budaya. Perubahan paradigma perlu proses juga. Jika ada yang menyamakan Idul Fithri dengan lebaran, itu salah.“
itu bunyi SMS yang dikirim salah satu rekanku 30 Agustus lalu.
lalu?
memang benar, sedikit refleksi, utk lebaran tahun ini kita harus banyak berlapang dada sekaligus banyak berpikir…
berlapang dada, karena perbedaan dan perdebatan sengit para ulama tentang kapan jadinya tanggal 1 Syawwal. masalah yang besar adalah hilal (bulan baru) yang tak terihat sampai 2 derajat. ini membuat banyak perbedaan pendapat. Meskipun ada 2 tempat yang dinyatakan hilal sudah mencapai 2 derajat namun ditolak pernyataannya karena kurang kuatnya pendapat. Hingga akhirnya malam 29 Agustus ini menjadi perdebatan yang tak terelakkan dan menjadi ajang adu pendapat. jadi ingat salah satu dosenku sampai mengatakan: “kapan ya ilmu pengetahuan yg jadi jalan penyelesaian antara dua pendekatan: hisab mutlak dan rukyatul hilal
Astronomi pernah jadi simbol penguasaan ilmuwan muslim, tapi sekarang lebih hanya berdasarkan keyakinan aliran
“
lalu beliau menambahkan: “Yang saya maksudkan dengan menggunakan ilmu pengetahuan, ya tercakup di dalamnya kesungguhan ulil amri buat ngurusi ummat yg mengambil 2 pendekatan berbeda tsb. Kenyataan bahwa tersedia sumber2 daya astronomi, ilmu falak berikut para pakarn…ya, ditambah dengan para ulama, rasa2nya sulit menerima kalo urusan yg sebetulnya ‘sunnat’ ini malah selalu jadi bahan pertentangan di kalangan ummat, seolah menjadi tontonan gamblang bahwa ummat Islam itu tdk lagi memegang ilmu pengetahuan sbg wasilah dalam mengembangkan hidup dan kehidupan yg lebih berperadaban lagi, sebagaimana dulu dicontohkan para ilmuwan muslim. Diakui atau tidak diakui, yg sekarang mengedepan secara real adalah keyakinan aliran saja. Persoalan menetapkan kapan ramadhan, kapan syawwal dll adalah terkait erat dengan ‘mekanika benda2 langit’, terutama matahari dan bulan, yg ini sdh banyak khasanah ilmunya sehingga seharusnya bisa menjadi rujukan utama dalam menyelesaikan perselisihan yang klasik itu, yg sebetulnya terus saja menjadi bahan tertawaan dunia…Ummat Islam menentukan hilal aja gak bisa, apa kata dunia ?
“
ah, umat Islam memang tengah diuji….selain sikap toleransi yang diuji ini, kita juga harus banyak berpikir betapa banyak hikmah yang bisa kita ambil dari sekeliling kita. Sesungguhnya Idul Fithri mengajarkan kita kepada ketawadhu’an, bukan untuk melepas beban yang selama 1 bulan Ramadhan ini dirasakan. Idul Fithri mengajarkan kepada kita untuk kembali ke fithrah (asal) manusia. kembali kepada Fithrah bukan berarti kita terlepas dari semua dosa sehingga kita khawatir ibadah kita tak diterima (khauf), tapi kita harus selalu berharap bahwa dosa kita diampuni, sehingga timbul harapan (raja’)
Menyoal Kemerdekaan Indonesia
16 Agustus 2011 pada 10:00 am | Ditulis dalam Tulis Iseng | Tinggalkan KomentarKemerdekaan berasal dari kata merdeka yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia – red) bermakna bebas (dari penghambaan, penjajahan dsb); berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak tergantung pada orang lain atau pihak tertentu. Sedangkan kemerdekaan bermakna keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi dsb). Maka berbekal definisi itu sekaligus melihat momentum saat ini, apakah Indonesia dapat disebut sebagai negara merdeka? Secara tertulis dan pemikiran, negara kita ini sudah merdeka karena sudah memenuhi berbagai persyaratan negara yaitu: memiliki wilayah untuk ditempati, memiliki rakyat, memiliki pemerintahan yang berdaulat serta adanya pengakuan dari negara lain. Dan jika diartikan dari segi kualitas dan kehidupan rakyat yang ada di Indonesia ini, sebenarnya Indonesia ini belum merdeka. Mengapa? Karena banyak sekali alasan tentang ketidakmerdekaan Indonesia ini. Negara dapat disebut merdeka jika semua rakyat yang berada di negara tersebut terjamin dalam kehidupannya. Negara kita belum merdeka juga karena masih belum terbukanya di dalam sistem pemerintahan kepada rakyat. Satu lagi alasan negara kita belum merdeka karena masih banyak wakil-wakil rakyat yang hanya memihak kepada organisasinya sendiri atau hanya kalangannya sendiri. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea keempat yang menyatakan bahwa: “…dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…” Pun dalam Pancasila sila ke lima yang berbunyi: “mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Dari kedua landasan filosofis dan landasan idiil Indonesia ini berarti sesungguhnya sejak awal proklamasi kemerdekaan, negara telah bertekad untuk menjamin kehidupan rakyatnya dalam berbagai bidang, baik sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Namun pada kenyataannya bagaimana? Menurut catatan BPS bahwa pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin 16,66 % atau sekitar 30 juta jiwa. Pada tahun 2005, angka kemiskinan berkurang menjadi 16 % dari total jumlah penduduk Indonesia. Namun pada 2007 seiring dengan naiknya harga minyak dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia melonjak menjadi 39 juta orang, jumlah penduduk miskin mencapai 17,75 %. Sementara pada tahun 2010, persentase jumlah penduduk miskin berkurang jadi 13,33 % saja atau sekitar 31 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus 2009 sebanyak 237 juta jiwa. Meski pemerintah menunjukkan prestasi yang cukup signifikan, namun hal ini ironis dengan kondisi Indonesia yang luar biasa melimpah sumber daya alamnya. Masih segar dalam ingatan kita di tahun 2009 lalu bagaimana mengenaskannya kematian 92 orang di Yahukimo, Papua. Padahal kita mengetahui betapa kayanya Papua dengan PT Freeport yang bukan hanya menghasilkan tembaga sebenarnya, tapi juga emas dan peraknya. Ini menunjukkan betapa kurang tanggapnya negara terhadap kesulitan warganya. Seakan negara menutup mata dan telinga atas semua kasus ini sehingga entah bagaimana akhir kasus ini sekarang. Negara kita belum merdeka, indikator lain adalah juga karena masih belum terbukanya di dalam sistem pemerintahan kepada rakyat. Transparansi APBN masih merupakan hal yang paling mustahil diketahui rakyatnya sendiri. Seakan masyarakat bukan pihak yang perlu tahu kemana dana-dana yang berasal dari berbagai pajak itu lenyap namun tak bersisa dan tak meninggalkan pembangunan yang nyata. Alokasi 20 % APBN sebagai dana pendidikan masih menjadi cita-cita yang entah kapan akan terwujud, karena dalam kenyataannya akses pendidikan masih sulit digapai masyarakat menengah ke bawah. Namun patut kita apresiasi putra putri terbaik bangsa ini yang sering mewakili Indonesia ke ajang internasional dalam berbagai event dan lomba. Ini membuktikan bahwa putra putri terbaik kita memberikan secercah harapan bahwa dengan prestasinya. Mengutip pidato presiden ketika peringatan hari teknologi nasional, 11 Agustus lalu yang menyatakan bahwa di tahun 2030 Indonesia akan mencapai peringkat kelima dunia dalam bidang teknologi setelah Cina, Amerika, India dan Korea. Ini bukan hal yang mustahil karena sesungguhnya sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia sesungguhnya kita sudah siap dengan semua ini hanya tinggal daya dukung dari semua kalangan. Namun, sebelum mengangankan itu semua (meski mari kita berharap bahwa ini akan benar-benar terjadi) renungkan satu pertanyaan ini: bagaimana kita bisa mencapai peringkat kelima jika pemimpinnya masih sulit memimpin? Dan hakikatnya pemimpin adalah representasi dari rakyat yang dipimpinnya. Jika pemimpin-pemimpin Indonesia masih banyak yang melakukan korupsi, sesungguhnya itulah refleksi dari rakyat Indonesia saat ini. Meskipun tentu yang dikorupsikan bukan hanya uang tunai saja. Karakter pemimpin yang paling penting adalah melayani masyarakat, menjadi pedoman dan teladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Coba tengok Perdana Menteri Irak yang begitu dicintai rakyatnya. Erbakan dicintai rakyatnya karena melayani masyarakatnya dengan sepenuh hati dan kemanfaatan yang dirasakan masyarakat sehingga terbentuk jaringan yang kuat. Yang kita butuhkan berikutnya adalah bagaimana pemimpin itu menjadi value edit, pengatur nilai citra kebaikan. Sehingga meski masyarakatnya amoral, maka dia menjadi nilai pembaik di dalam masyarakat. Satu lagi alasan negara kita belum merdeka karena masih banyak wakil-wakil rakyat yang hanya memihak kepada organisasinya sendiri atau hanya kalangannya sendiri. Terkadang, imbas dari keberpihakan ini menimbulkan efek timpang terhadap masyarakat. Masyarakat akhirnya krisis kepercayaan kepada pemerintah. Sehingga ketika negara asing membawa iming-iming yang menggiurkan, tak sedikit masyarakat kita ikut terbawa. Ini menyebabkan seakan Indonesia sudah seperti tidak punya kedaulatan. Kedaulatan telah digadaikan seperti barang murah demi mendapatkan prestise dunia. Idealisme yang dibangun para pahlawan, hilang dalam hitungan tahun yang tak terlalu lama. Negara asing telah banyak merongrong kebijakan internal negara. Kalau sudah begini, masih bisakah bahwa Indonesia telah benar-benar merdeka?
IPM KABUPATEN PANDEGLANG
13 Agustus 2011 pada 11:47 pm | Ditulis dalam Tulis Iseng | Tinggalkan Komentar
Setahun lalu atau lebih tepatnya pertengahan tahun 2010 lalu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pandeglang berada di urutan ke tujuh dari delapan kabupaten/kota di Propinsi Banten. Jika pemerintah Pandeglang tidak membenahi sistem dan peningkatan sarana prasarana penyokong pertumbuhan IPM, maka bukan tidak mungkin posisi ini diperkirakan akan melorot lagi ke urutan terakhir. Hal lain yang mempengaruhi bisa jadi juga lantaran Kabupaten Lebak sebagai sudah melakukan berbagai inovasi dalam meningkatkan IPM. Sebagai bagian dari masyarakat Pandeglang, tentunya kita tidak bisa tinggal diam. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan bekerja keras melakukan pembangunan dan pelayanan untuk masyarakat yang berlaku bagi semua aparatur pemerintahan Kabupaten Pandeglang. Sebenarnya Pandeglang bisa maju karena luas wilayah yang meliputi sepertiga luas Banten. Pandeglang juga memiliki topografi geografis yang paling lengkap dibanding kabupaten/kota lainnya. Topografi ini meliputi enam gunung, dataran tinggi, dataran rendah bahkan lautan yang kaya akan sumber daya alam yang bisa diolah.
IPM adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia. Indeks ini dikembangkan tahun 1990 oleh Amartya Sen (pemenang Nobel asal India) dan seorang ekonom Pakistan Mhbub Ul Haq yang dibantu Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics. Angka Harapan Hidup di Pandeglang yang baru mencapai 63 tahun. Angka ini lebih rendah dari angka harapan hidup di Provinsi Banten yaitu 70 tahun. Selain itu, dilihat pendapatan masyarakat rata-rata hanya Rp 190.256 serta tingkat pendidikan masyarakat mayoritas hanya lulusan SD semakin memperkuat pernyataan bahwa Pandeglang semakin terbelakang. Jika hal ini tidak segera diperbaiki, maka bisa jadi Pandeglang akan terus tertinggal oleh kabupaten dan kota lain di Banten dan tetap berada di level 50 kabupaten tertinggal di Indonesia. Menurut sumber dari BAPPEDA, IPM di Pandeglang hanya 67,99% sedangkan di Banten sudah mencapai 72% per tahun. Maka yang diperlukan saat ini adalah bagaimana caranya meningkatkan IPM dengan cara yang signifikan dan tidak hanya menunggu IPM ini berjalan secara alamiah.
Seorang penulis menyebutkan bahwa di Belanda, setiap hari sekolah mewajibkan membaca buku di luar spesifikasinya. Dalam opini lain, Belanda telah menjadi negara buku pada tahun 1600-an. Maka, tak heran jika Belanda tak pernah menjadi negara yang lembek, namun sayangnya bermental penjajah. Hal ini tentu tidak ingin kita alami, namun tentu menjadi pemikiran dan tanggungjawab bersama bagaimana caranya agar sifat-sifat Belanda yang baik ini menjadi budaya di Indonesia khususnya di Banten. Tentu kita mengetahui bahwa budaya membaca menjadi budaya yang masih amat langka di kalangan masyarakat kita. Bahkan jangankan budaya membaca, 30% masyarakat kita masih berada dalam keadaan buta huruf. Maka bagaimanakah ia dapat membaca jika mengenal huruf saja dia tidak bisa?
Melihat kecenderungan itu semua, diperlukan sebuah terobosan yang harus dilakukan pemerintah. Namun, pemerintah bekerja sendiri tentu tidaklah cukup. Untuk kondisi saat ini, diperlukan peran serta masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat. Peran mereka amatlah penting, saat ini pemerintah tidak lagi berperan sebagai one man one show karena hakikatnya semua lapisan masyarakat beserta pirantinya turut serta dalam pembangunan. Salah satu solusi yang sebenarnya bisa dilakukan adalah dengan perwujudan agenda riset nasional pada tingkatan daerah, yang popular dengan istilah Dewan Riset Daerah. Perwujudan agenda ini tentu saja dengan penyesuaian terhadap potensi dan kebutuhan daerah.
Hal lain, dewan riset daerah merupakan suatu dokumen berisikan program-program pembangunan yang berisikan prioritas kegiatan dan indikator capaian pembangunan daerah. Pembangunan daerah tentu memiliki target yang disesuaikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Jangka Panjang (RPJP). Kegiatan yang bertujuan menjalin komunikasi antar lembaga kajian/litbang dan instansi pemerintah lainnya ini berupaya menciptakan suatu proses sinergi dalam perumusan kebijakan (sektoral) dan pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang. Jalinan komunikasi antar lembaga kajian atau penelitian dan pengembangan dan instansi pemerintah lainnya diperlukan agar tercipta suatu proses sinergi dalam perumusan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan. Jika hal ini dapat terwujud, maka bukan tidak mungkin IPM Pandeglang, bahkan Banten akan terus meningkat sehingga terwujud tatanan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.
Adu Popularitas di Pilgub
13 Agustus 2011 pada 11:20 pm | Ditulis dalam Tulis Iseng | Tinggalkan KomentarPemilihan kepala daerah semakin dekat. Berbagai prediksi tentang pasangan yang akan melaju ke dalam kancah pesta demokrasi di Banten ini semakin ramai terdengar. Bursa calon gubernur dan wakil gubernur semakin variatif. Dari berbagai pengalaman Pemilukada sejumlah daerah membuktikan calon yang berasal dari kalangan artis mampu mendongkrak suara pasangannya. Sebelumnya, pada Pilgub Banten 2006 memunculkan artis Marissa Haque yang harus diakui mampu mendongkrak perolehan suara cukup signifikan yakni mencapai 32 persen. Begitu juga pada Pilgub Jawa Barat, artis Dede Yusuf juga menjadi salah satu faktor penentu kemenangan bersama pasangannya, Ahmad Heryawan.
Apakah popularitas identik dengan keterpilihan? mari coba kita analisis antara kepopuleran dengan karakter pemimpin yang diinginkan masyarakat. Apa yang diinginkan masyarakat Banten mengenai karakter gubernur. Berdasarkan hasil survey Lembaga Studi Kebijakan Publik (LSKP), karakter pemimpin -dalam hal ini gubernur- adalah yang memiliki track record bersih dari KKN dan jujur, serta program kerja yang bagus. Walaupun pada realitanya, ternyata program kerja bagus dibuat oleh staf ahli calon/timses calon kepala daerah itu sendiri. Bahkan Calon kepala daerah cenderung belum paham apa program kerja yang semestinya dikerjakan.
Incumbent memang selalu populer apalagi jika dipasangkan dengan selebriti. Popularitas Atut tidak bisa ditandingi oleh kandidat lain. Hal itu dikatakan oleh sejumlah politisi dan pengamat politik di Banten menjelang pelaksanaan Pilgub yang akan digelar beberapa bulan lagi. Apakah Atut akan memenangkan pertandingan ini? Riset menunjukkan berbeda. Masyarakat menganggap kinerja Atut buruk pada infrastuktur, pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Sehingga citra buruk ini bisa menjadi batu sandungan dalam melaju ke kursi Banten satu.
Wahidin Halim yang awalnya diprediksi akan menggandeng Mulya Jayabaya, popularitasnya memang tinggi terutama di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang Selatan. Dari program kesejahteraan rakyat (kesra), pasangan ini dinilai memiliki keunggulan pengalaman dan dikenal baik di birokrasi. Kepopuleran WH dan Jayabaya yang notabene incumbent di level kabupaten dan kota, mempunyai nilai plus karena sebagian programnya dirasakan masyarakat serta memiliki jaringan dari kalangan birokrasi, yang mengakibatkan pasangan ini memiliki peluang cukup besar. Duet keduanya merepresentasikan Banten barat-timur. Namun, jika kita lihat kepopuleran Wahidin sebagai Walikota Tangerang, aktivitas dan interaksinya dengan masyarakat hanya di Banten timur. Ia tidak cukup populer di wilayah Banten Barat. “Siapa Atut” sudah jelas di mata masyarakat Banten. Tetapi “siapa Wahidin” belum begitu terang di sebagian masyarakat Banten. Ini menjadi tugas tim sukses Wahidin Halim untuk terus berusaha menarik simpati masyarakat dengan sosialisasi program kerja yang nyata. Jika ini bisa terealisasi, bukan tidak mungkin WH akan banyak dilirik masyarakat. Apalagi jika WH mampu menggaet wakil yang populer dan dikenal positif masyarakat dengan infrastruktur yang kokoh seperti PKS. jalan mulus menuju Banten satu tinggal menunggu waktu.
Lalu bagaimana dengan Jazuli Juwaini? Jazuli Juwaini yang dikenal si kancil putih.memang mampu mendongkak popularitas secara cepat. Popularitas Jazuli yang semula paling buncit naik secara fantastis melewati Wahidin. Bahkan elektabilitasnya kian bulan meningkat hampir imbang dengan Atut dan Wahidin. Ini dikarenakan infrastruktur PKS yang lengkap dan massif. Pemilukada seperti halnya dalam bisnis. Semakin kokoh jaringan maka semakin banyak produk yang terbeli. Kecenderungan tren jazuli naik secara fantastis. Dari berbagai survery popularitas dan elektabiltas Jazuli naik secara fantastis bahkan melampaui Wahidin Halim. Sepertinya, Jazuli yang semula menjadi kuda hitam akan menjadi gajah yang siap tanding. Setidaknya selain jaringan, ia memiliki track record yang jujur dan bersih, dikenal baik di kalangan media, diterima di kalangan akademisi, pengusaha, jawara, pemuda dan ulama. Apalagi kader-kader PKS yang mengusung Jazuli dikenal memiliki loyalitas dan dedikasi hingga terus berjuang dalam di pilgub secara massif. Meskipun saat ini banyak keraguan dari masyarakat akan langkah PKS mengusung calon gubernur dari internal karena cenderung mendukung kandidat dari keluarga Rawu, namun dengan kesolidan tim sukses, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Jazuli akan memenangkan “pertarungan” ini. Apalagi dedikasi dan pengorbanan Jazuli selaku “prajurit” yang harus siap melaksanakan perintah dari DPP PKS untuk maju di pilgub. Maka dengan tekad yang kuat, jaringan yang luas, program kerja yang jelas serta kesolidan tim, akan dapat mengalahkan kedua pasangan lainnya.
Tren pemenangan tidak bisa hanya mengandalkan kualitas potensi diri tetapi juga memerlukan popularitas dan elektabilitas. Banyak kader-kader partai politik atau tokoh independen dan profesional yang memiliki kualitas kepemimpinan yang mumpuni gagal untuk memasuki kompetisi politik lantaran tidak populer dan tidak elektabel. Mengenalkan diri ke publik dan memiliki kinerja serta citra yang baik menjadi dua tali yang tidak bisa dipisahkan dalam pemenangan.
Gong pertandingan akan ditabuh, iramanya sudah mulai dibunyikan. Tinggal para wasit dari KPU, Panwas, Polisi mengokohkan aturan, sistem dan tim independen yang mampu mengawal irama perbaikan pilgub ini dengan fair dan elegan. Biarlah masyarakat Banten yang akan menilai, siapa yang layak memimpin Banten?
Hadapi…!
19 April 2011 pada 4:26 am | Ditulis dalam Hikmah | 7 KomentarAssalamu’alaykum..
Kaifa halukum/na? Dag dig dug pastinya mau menghadapi UN yaaa… Yakinlah bahwa bukan hanya antum/na yang pusing dan stress menghadapi UN. Semua siswa/i se-Indonesia juga sama stresnya. Tapi yang membedakan adalah mereka yang stress bisa menghadapinya dengan belajar tekun, ikhlas ketika belajar dan hati yang bersih.
Saya jadi teringat pada salah satu teman di kos saya dulu di kampus. Dia kuliah di Teknik Fisika. Meskipun perempuan, dia tidak kalah tangguh dengan yang laki-laki (karena fakultas teknik dominan laki-laki). Dia belajar giat setiap hari. Bangun jam 3 untuk tahajjud, doa ba’da shalatnya begitu lama dan khusuk, tidak pernah marah, dewasa dan selalu berslogan “belajar adalah ibadah dan prestasi adalah da’wah”. Hari-harinya diakhiri pada jam 11 malam setelah selesai belajar meski tidak sedang UTS atau UAS. Maka dengan semua usahanya itu dia lulus dari bangku perkuliahan dalam waktu 3 tahun 6 bulan dengan IPK hampir 3,8! Sebuah prestasi yang luar biasa jika melihat latar belakang keluarga dan asalnya. Dia bukanlah dari keluarga kaya yang bergelimang harta atau dari sebuah kota besar yang berlimpah fasilitas, namun dia buktikan bahwa semua kelebihan materi itu tidak menjamin kesuksesan dalam kehidupannya. Sekarang dia sedang kuliah S2 di UNS Solo dan saya yakin prestasinya tidak kalah seperti ketika kuliah S1.
Jadi sebenarnya bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk percaya akan diri kita sendiri. Juga yang terpenting adalah meminta kesuksesan itu pada Yang Memberi kesuksesan. Dekatilah Ia. Dekati Allah. Bukankah ketika kita dekat dengan seseorang, apapun permintaan kita akan diberikannya? Maka begitupula dengan Allah, jika kita sudah berikhtiar dan meminta padaNya, apakah yang tidak diberikan olehNya untuk kita? Mintalah dengan sungguh-sungguh padaNya, mintalah di sepertiga malam terakhir yang betapa itu adalah waktu-waktu diijabahnya doa. Pergilah ke mesjid jika sudah ada adzan yang menyeru, kurangi tidur, kurangi bercanda, kurangi marah-marah tidak jelas yang membuat hati jadi kotor. Bukankah hati kotor menyebabkan pikiranpun kotor, sehingga kita tidak bisa berpikir jernih lagi? Karena ilmu adalah cahaya. Layaknya suspensi yang tidak bisa meneruskan cahaya, atau seperti larutan yang justru dengan mudah bisa meneruskan cahaya, maka begitulah seharusnya hati kita. Harus bersih, agar ilmu bisa masuk dengan mudah ke dalam hati dan pikiran kita.
Kita semua sudah dewasa, sudah dapat memahami bahwa kehidupan bukan tentang hidup tanpa masalah, kehidupan adalah tentang bagaimana menyelesaikan masalah. Jadi kalau sekarang bertemu dengan masalah, itulah saatnya kita belajar dewasa J. Dan satu lagi, kelak jika antum/na sudah lulus dan akan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ingat bahwa sebenarnya tak jadi masalah antum/na mengambil jurusan apa, asalkan antum/na memanfaatkan waktu saat kuliah. Pelajari apa yang kita minati dan nikmati belajar tentang dunia. Masih banyak waktu untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan selama sisa hidup kita…
J By: iewy_06 ^_^ J
Sukses? Siapa takut???
19 April 2011 pada 4:24 am | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan KomentarAssalamu’alaykum….
Saudaraku, apa kabarnya hari ini? Smoga sehat slalu…gimana kabar try out pertama? Sukseskah? Jika merasa kurang sukses, ayolah jangan patah semangat. Masih ada 2 try out lagi untuk mengukur kesiapan kita menghadapi UN. Ok, mari kita simak ulasan dari Buya Hamka (ada yang kenal beliau? J) yang mengatakan: “semakin banyak ilmu, semakin lapang hidup. Semakin kurang ilmu, semakin sempit hidup.”
Saudaraku, sebenarnya apa tujuan belajar? Sebagai Muslim, tentu tiada lagi tujuan kita selain mengabdi padaNya. Maka belajarpun harus karena perintah dan untuk mengabdi padaNya, bukan? Karena hidup adalah untuk pengabdian padaNya, maka belajarpun harus karenaNya. Jika tujuan ketuhanan ini masih dipegang, tentulah tak ada fenomena tidak sukses dalam belajar. Karena Allah melihat proses dan usaha kita, bukan hasil.
Saudaraku, jika pendidikan hanyalah menghapal teori-teori, maka kejeniusan akan sulit dieksplorasi. Taukah kita, seorang Thomas Alfa Edison ternyata melakukan ratusan kali percobaan yang gagal sebelum menemukan bola lampu listrik yang hari ini kita nikmati hasilnya. Demikian halnya dengan lahirnya teori Newton yang konon tercetus saat Newton berada di bawah pohon apel dan melihat buah apel jatuh ke tanah. Begitu juga dengan Wright bersaudara yang berhasil membuat pesawat terbang, tentu mereka telah melakukan banyak coba-coba sebelum hal itu terwujud. So, kalau try out kita yang pertama ini kurang memuaskan, bukan berarti kita gagal bukan? Kita harus tetap mencoba layaknya orang-orang sukses di atas.
Saudaraku, beruntunglah kita berada di pesantren. Kenapa? Karena lembaga pendidikan bernama pesantren juga terkenal sebagai pemasok alumni yang mampu berbicara banyak di tengah masyarakat, menjadi pemimpin, tokoh dan guru. Salah satu pesantren terbesar dan paling popular di negeri ini adalah Gontor yang sudah berjuang sejak zaman penajajahan. Gontor pun mampu menghasilkan tak hanya tokoh masyarakat tapi juga tokoh nasional, seperti mantan Ketua MPR, Bapak Hidayat Nur wahid dan beberapa menteri di negeri ini. Jadi, kita pun yang dari pesantren tidak boleh kalah ya J
Saudaraku, sukses adalah keseimbangan hidup. Artinya, kita akan sukses jika mampu menjaga keseimbangan internal dan keseimbangan eksternal. Keseimbangan internal memiliki empat dimensi; fisik, emosional, mental, dan spiritual. Maka, kita perlu menjaga kesehatan tubuh, perasaan yang bersih, pikiran yang jernih, dan kedekatan dengan Allah. Sedangkan keseimbangan eksternal terwujud jika kita telah memenuhi semua tuntutan peran kita. Satu orang bisa jadi memiliki banyak peran; sebagai siswa akhir KMI, sebagai kakak di asrama juga sebagai anak bagi orang tua kita. Orang yang hidupnya seimbang melayani semua peran dalam hidupnya dengan baik.
Sukses juga adalah memberikan manfaat bagi orang lain. Jika kita selalu memberikan manfaat bagi orang lain berarti hidup kita telah sukses. Semakin banyak manfaat yang kita berikan kepada orang lain berarti kita semakin sukses. Inilah makna hadits Nabi: “Khairun naas anfauhum lin naas.”
Sukses juga berarti perjalanan menuju cita-cita mulia. Tidak peduli apakah kita berhasil mencapainya atau tidak, selama kita konsisten berada di atas jalan menuju cita-cita mulia berarti kita telah sukses dalam arti yang sebenarnya. Bukankah banyak nabi yang hidupnya menderita di dunia bahkan ada yang tidak memiliki umat seorang pun tetapi mereka termasuk sukses. Inilah makna “malaazamul haq fii quluubina”.
Lalu sukses adalah menikmati kemenangan. Seperti kehidupan Ibrahim bin Adham yang selalu taqarrub kepada Allah dan merasakan kenikmatan di dalamnya, maka ia pun berkata “Seandainya para raja dan sultan itu mengetahui betapa nikmatnya hidup yang aku jalani saat ini, niscaya mereka akan merebutnya walau dengan menggunakan pedang-pedang mereka”. Model menikmati kemenangan tentunya bukan dengan foya-foya dan hura-hura pasca kemenangan, tetapi menikmati kemenangan dilakukan dengan bersyukur atas kemenangan itu dan menggunakannya secara optimal di jalan kebajikan.
Sukses yang terakhir adalah ‘akhir yang baik’. Apalah artinya punya harta yang melimpah, popularitas yang glamour, dan jabatan yang tinggi tetapi berkesudahan dengan cara bunuh diri. Akhir yang baik adalah puncak kesuksesan. Orang yang berhasil mencapainya akan dikenang masyarakat sebagai orang yang sukses, dan memiliki tiket ke surga.
Nah, bersiapkah kita menyambut kesuksesan? Ayoooo…semangat teruuuusss…
Wassalamu’alaykum….
By: iewy_06 ^_^
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.